Tadabbur Alam

11:21:00



Surga itu ada dan memang ada,  bahkan berada di sekeliling kita.  Laut luas biru yang membentang dengan pasir putih lembut itu adalah surga kecil, gunung yang menjulang tinggi, memberikan  panorama keindahan alam hutan dan sinaran sang surya, itu adalah surga kecil, air terjun dengan aliran sungai yang jernih adalah surga kecil, bahkan senyuman dan tatapan penuh kasih sayang orang orang yang kita cintai, orang tua, suami, anak, saudara dan teman adalah surga kecil kebahagiaan di dunia.  Surga kecil yang membentang horizontal atau vertical (apaan sih, kayak matematika *nyengir*) adalah rahmat yang Allah anugerahkan kepada kita, Surga Dunia.

Setelah sekian banyak tempat, baik gunung dan lautan yang emak susuri dan jelajah, tersirat arti sebuah perjalanan, selain suka mbolang, perjalanan juga mengenalkanku banyak hal, hal yang mungkin ‘belum’ aku dapatkan dirumah. Menjelajah surga dunia, mensyukuri setiap keindahan titipan Surgawi dari sang pencipta, bercengkrama dan bercinta dengan alam. Tapi Dibalik semua itu ada hal yang lebih dan lebih, hubunganku dengan masyarakat sekitar, budaya, adat, keanekaragaman, menghormati sesama dan mencermati sisi kehidupan penduduk lokal.

Gunung Merapi
Dibalik Indah dan tegaknya gunung, jika kita mau mencermati, betapa ramah penduduk desa, tinggal dialam yang asri, tanah surgawi, air jernih berlimpah, sayur mayur tumbuh subur, tapi apakah mreka tinggal berkecukupan? Sungguh ironis, masih banyak penduduk yang tinggal di dataran pegunungan tinggal dengan kondisi yang memprihatinkan, jauh dari kata “cukup”. Tempat tinggal yang jauh dari kata “nyaman”. Hidup di tanah surgawi dengan kondisi “memprihatinkan i” (sedikit puitis ala harmonisasi).

Hasil Panen di Kaki Gunung Merbabu
Banyak masyarakat sekitar yang hanya mengandalkan jagung dan singkong sebagai makanan utama. Singkong yang dijadikan tiwul, atau nasi jagung bahkan Nasi Aking. Nasi aking? Jujur belum pernah kenal nama menu ini *garuk2kepala* pertama kupikir nasinya di import dari negri cina, atau masakan asli cina, ternyata *nangisdarah* nasi aking adalah nasi yang sudah basi, dikasih air, dikeringkan, dimasak kembali dan dimakan *mewek nggak ketulungan*. Sungguh, dibalik hingar bingar kesibukan kantor, keluarga dan negri  “ngetrip” impian dan travelling, tak terbayang masih ada penduduk bangsa kita dengan kondisi seperti ‘didepan mata’ seperti itu.

Pemandangan Di Gunung Merbabu
Bersama dengan teman teman pendaki, kita mengumpulkan rezeki untuk bisa membantu warga sekitar, membangun musholla dan membagikan Alquran dan buku. Memang apa yang kita lakukan hanyalah hal kecil yang secara langsung tidak mengubah kehidupan taraf hidup mreka, paling tidak kita bukan manusia yang hanya menutup mata dan cuek cuek saja. Harapan dan doa kita panjatkan, menebar kebaikan, mensyukuri setiap hembusan nafas kehidupan, dan berbagi dengan sesama. ketika sebuah perjalanan mampu mengubah kebaikan dalam diri, membawa kedewasaan diri, mengerti arti berbagi dan kasih, kenapa harus menghentikan perjalanan ini ???
Gunung Merbabu
Sahabat Perjalanan 
Camp Groung Selo - Merbabu

Menelusuri Kearifan Masyarakat Lereng Merbabu

Bani Saman
Panen Bawang
" Its about the Journey, Not Destination " 





You Might Also Like

0 comments

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram