“Sopan” Mana? Bencong Monas apa India Gate

10:42:00

Hijra, foto diambil dari sini
“sopan” Mana? Bencong Monas apa India Gate
Eh mak kurang kerjaan ya? Atau kurang ‘bahasan’ sampe ngebahas bencong?
Hehehe, suka suka gue *melet*

Emak sih nggak bermaksud membedakan, atau mencari mana yang lebih baik, mentertawakan  atau bahkan melecehkan our third gender. Simply, I just want share. *kemringgristdikit*.Emak berharap, kita bisa saling menghargai satu sama lain, hingga tercapai Harmoninasi Kehidupan *brasajadiVicky*hahaha

Dalam postingan sebelumnya,  Kepala Dipegang Bencong di India Gate  dan Balada Keluguan Ibukota, emak dah berbagi cerita. Tentang pengalaman emak selama menghabis waktu sore menjelang malam di kedua tempat tersebut  untuk sejenak mengendorkan otak dari kejenuhan kegiatan sehari hari *leyehleyeh*. Kebeneran, di kedua tempat tersebut emak secara tidak sengaja ‘berinteraksi’ dengan bencong.

Laaaaa, kan banyak mak, tempat ‘mangkal’ bencong, kenapa monas dan India gate?
Eiitsss *lemparsandal* siapa yang ngebahas pangkal memangkal. Emak mbahas kedua tempat tersebut karena keduanya adalah Icon Ibukota. Memotret sisi kehidupan dalam bingkai cerita. Lagian, maaf ya, nggak tahu tempat mangkal mreka *dikejarKamTibNas* .
Monas atau monumen Nasional Icon Ibukota negara kita tercinta, Jakarta.
India Gate, Icon Ibukota negara pemilik maha karya Taj Mahal, New Delhi.

(Dah tahu kaleeeee.......OK!!!)                                                                       


Foto diambil dari sini
                                                                             
Menjadi seorang third Gender dengan gaya lemah gemulai yang dipaksakan, atau suara serak serak basah menggelegar *ehemmm*. Dengan serangkaian percobaan untuk menjadi ‘sama’ atau paling tidak disamakan dengan kaum hawa. Alih alih mendapatkan pujian, justru sering disepelekan atau bahan tertawaan.

Mungkin sebagian  dari mereka memang berniat untuk menjadi bahan guyonan biar kelihatan “lucu” demi mendapatkan sepeser uang. Bahkan semaximal mungkin menghias wajah dengan warna yang mencolok untuk mendapatkan ‘costumer’. Sering bertanya dalam hati emak, apa iya mereka menikmati semua itu? Dari lubuk dati yang paling dalam, bahagiakah? Ahhhhh, rasanya naif sekali jika mereka benar benar bahagia menjalani semua itu.

“ Ku Pendam Air Mata Dalam Tawa”  

Kita tidak pernah tahu atau mungkin kita tidak mau tahu *cuekbebek* tentang kehidupan macam apa yang harus mereka jalani.  Apa yang ada dalam benak dan pikiran mereka. Bagaimana mereka menghadapi segala tawa, cercaan bahkan hinaan, yang mereka tahu hanyalah satu hal, menyambung nyawa.*pegangmix*

Dah wis melow nya, nggak usah ngomong ngalor ngidul, cek it dot perbedaan para Third Gender (TG) 

Dari sisi berpakain,  TG di Monas memakai Pakian super sexy, super ketat, super terbuka super blink blink, pokoknya super sekali *dijewerpakMario*. Eh mak, bencong sekarang banyak yang pakai jilbab loooo? Dahh Tahu nyakkk, tapi disini emak kan mbahas bencong Monas dan nggakk ada yang berjilbab, alright? . Nah, kalau Di India Gate, beda banget. Mereka pakai pakaian tradisional Saree, lebih keliatan bersahaja tapi tetep dengan warna yang ngejreng, kuning kemlinting atau merah membahana. Apapun pakaian yang mereka gunakan, tidak akan mengubah apa yang berada ‘didalamnya’. Catet!!!

Next, Gaya tatanan rambut (brasa kayak rumah mode). Di monas TG lebih suka memakai wig dengan gaya rambut modern dan pendek. Kalau di India gate, mereka menggulung rambut panjang mereka dengan lebih sederhana, nggak pakai sanggul, tusuk konde apalagi tusuk asmara (hehehe), cukup digulung aja, so natural. Sebenarnya sih, Keduanya memiliki kesamaan dalam urusan rambut. Meskipun seringnya pakai wig, Mereka cenderung membiarkan rambut mereka panjang dan merawatnya dengan baik. Mahkota yang panjang menambah keanggunan, menunjang penampilan and more womanisasi *emberrr*.

Make up, apa mark up? *koplak*. Bibir merah, pipi pink, mata biru hijau, bulu mata panjang dan lentik ditambah dengan parfum ‘khas’ menggelora seluruh pengunjung Monas. Nah, kalau di India gate, tanpa polesan wajah, apa adanya (maximal lipstik doang). Jadi, TG di monas lebih kelihatan cantik dan womanisasi, mereka tampil  habis habisan. Suara dibikin semerdu mungkin, pokoknya di alay alay in biar jangkung getar suara lelakinya terlihat samar. Klo di India gate, apa adanya suara jangkung, jadi nggak ada ‘usaha maximal’ untuk menyesuaikan dengan apa yang mereka ‘pakai’ saat ini.

Cara mendapatkan honor pun beda. Klo TG monas, menggunakan salon kecil ditaruh di tanganya. Turn on lagu disco, trus joget, tentu saja dengan gerakkan ‘membirahi’ ala penari erotis, sambil colek colek genit gitu *cicuit*. Bahkan kadang dengan adegan ‘buka kaki’ , hadew mas, eh mbak, banyak anak kecil di Monas looo *sodorinsarung*. Emang kalau di India gate cari duitnya gimana mak? Beda dan sangat Beda. Mereka bakalan langsung pegang kepala ‘target’ sambil baca doa yang standart. Semoga panjang umur, rezeki lancar, bahagia selamanya de el el dan tentunya dalam bahaya Hindi hai.


Di India para third gender ini lebih dikenal dengan nama Hijra, memiliki tempat yang special karena dianggap memiliki kelebihan. Doa mereka dianggap mujarab, oleh karena itu para hijra ini sering dipanggil dalam acara tertentu, diminta untuk memberikan Berkah dan Doa. Gimana dengan negara kita? Sudahlah. Apapun itu setiap manusia berhak atas dirinya masing masing. Menentukan pilihan setiap langkah hidupnya. Setiap kita tidak berhak untuk mencemooh apalagi menghakimi. Setiap kita hanya bisa berusaha dan berdoa menjadi manusia yang lebih baik, termasuk TG.


Pada dasarnya hidup adalah Pilihan.

You Might Also Like

0 comments

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram