Travelling Doloe dan Kini

15:34:00

Foto Zaman Jadul :)

Nggak tahu kenapa emak pingin share artikel ini. Apakah beneran pingin share atau karena emak “cemburu” dengan kemudahaan perjalanan pada saat ini dibandingkan dengan zaman emak masih unyu unyu J. Atau karena kehebohan dunia travelling gara gara “rencana” LCC dihapus?

OK!!!. Apapun itu, berikut beberapa perbedaan dan kemudahan travelling zaman dulu dan sekarang

1.    FISKAL
Fiskal itu makanan yang kayak gimana nyakk?
Fiskal apa fisika atau bahkan fisik?
Alexander Fiskal? Hadew *toktokkepala* 
Itulah beberapa pertanyaan  yang sering banget teman teman tanyakan. Dan kebanyakan dari mereka yang suka melancong dan ngetrip ke luar negeri setelah zaman “fiskalisasi” hilang di tahun 2011.

Fiskal adalah Pajak keberangkatan keluar negeri. Jadi setiap berangkat keluar negeri, WNI diharuskan bayar fiskal. Emang berapa biaya Fiskal? *nangisdarah* hiks hiks hiks  sejuta alias angka 1 dengan jajaran angka 0 enam kali dibelakangnya. 

Jadi pada ‘zaman’ itu orang yang berangkat dan melancong keluar negeri dianggap ‘mampu’. Entah mampu korupsi, mampu bergaya narsis atau mampu ngerampok bank. Bisa bayangin nggak sih, gaji emak yang waktu itu hanya 750rb, berbulan bulan bahkan tahunan untuk simpen duit, ampe muntah darah buat  ngeliat ‘dunia luar’ ditambah dengan beban fiskal yang tidak sedikit.

Kalau uang pajak itu secara jelas dikelola dan digunakan untuk rakyat, mungkin emak juga GA’ nyesek dada banget, tapi tahu kan Mr.Korupsi negeri ini, hadew sutralah LSelesai? tidak!!! bahkan ditahun berikutnya, Fiskal dilipatgandakan menjadi 2,5jt, apa? Bukannya diturunin, malah dinaikkan 150%. Tapi disisi lain ada kemudahan, bagi WNI yang memiliki NPWP, nggak usah bayar fiskal lagi. ahhh lega dikit, brangcus ke kantor pajak ngurus NPWP.

Di awal tahun 2011 Fiskal dihapus *loncatkegirangan* ditahun inilah banyak traveller muda Indonesia yang bergerilya dan menampakkan kaki menjelajah dunia, banyak travel blog yang membahas perjalanan mereka ke luar negeri berikut budget dan tips.

2.    VISA
Entah kenapa emak jadi nggak ngeh ama yang sesuatu yang berbau ‘vi atau Fi’. Sesudah fiskal, sekarang Visa. Kan memang kalau masuk negara lain memang diharuskan menggunakan Visa sebagai cek point masuk negara? Memang sih, maksud emak, zaman dulu klo mau keluar negeri harus ngurus visa dikedutaan negara tersebut dengan segepok persyaratan, mulai dari tiket PP lah, dokumen ini itulah plus menunjukkan nominal ditabungan, dah gitu ngurusnya otomatis harus ke kedutaan yang berada Jakarta, alamak dah berapa duit tuh.  

Saat ini?  Ke negara tetangga sebelah visa free. Artinya tinggal bawa passport doang,  brangkat dan langsung stamp visa on the spot, bahkan sudah lumayan banyak negara negara yang memberikan VOA  bagi warga negara Indonesia.

Semakin banyak WNI travelling ke negara lain. Ditambah meningkatnya kaum muda Indonesia yang ngetrip ke luar negeri, hal ini membantu kepercayaan dunia untuk memberikan VOA kepada WNI. Tapi Inget! Jangan berniat bekerja Illegal di Luar negeri. Impact-nya tuh keseluruh masyarakat Indonesia bukan kamu doang. Be wise ya... J

Emak masih langsing dan unyu-unyu hehehe

3.    Low Cost Carrier
Selain runtuhnya zaman fiskalisasi, semakin banyak pula airline ber-budget alias LCC yang berlomba lomba menjual tiket dengan harga fantastic bombastic, super duper murah. Gimana nggak murah? Surabaya – Malaysia cuman 399rb, Surabaya – Singapore cuman 299rb, surabaya – bangkok 599rb tentu saja dengan layanan yang pas pasan juga.

Dengan budget segitu, tempat duduk tegak, tanpa check in bagasi, tanpa makan, tanpa ini itu.  Ora po po lah, emang bekpek butuh apa sih di pesawat?  cuman bawa ransel doang dan budget yang mepet kesrempet, nggak butuh pelayanan yang ‘wow’ ala airline ‘berbintang’.


Emang zaman dulu kayak gimana nyak ?  zaman emak, nggak ada pesawat LCC gituan, atau promo gila gila an.  Harga pesawat ke negeri jiran, emak pakai Malaysia airline PP tarif 3,5jt  + fiskal sejuta , jadinya berapa coba? *melas*. Ke Singapore, menggunakan Singapore Airline dengan budget sekitar 3jt + fiskal sejeti. Ke India PP 10jt (cemplungin receh ke celengan) Siapa suruh melancong ke  luar negeri? *melet*

Kalaupun dalam negeri, berhari hari duduk didalam bus. Ampe nih pantat super panas. Berlayar menyeberangi lautan. Tapi enjoy bingit. Menikmati perjalanan itu sendiri. bukan sekedar "aku sudah kesini". Yah, sudahlah waktu telah berlalu, dan emak sangat bersyukur dengan segala kemudahan saat ini, dan berharap faktor safety juga diperhatikan, bukan sekedar ‘murah’.

4.    Gadget
Maklumlah emak paling suka nampang narsis dalam jepretan camera. Waktu dulu mau ambil foto harus mikir, pelit, dihitung hitung dan dikira kira, cukup nggak ya strip filmnya buat destinasi selanjutnya? Strip film yang cuman berkapasitas 12, 24 atau 36. Dah gitu ngelihat hasilnya harus nunggu cetak. Melas.com

Zaman sekarang? Wew pakai foto digital dengan resolusi tinggi dan setting keren. Bisa ambil foto narsis  sepuasnya dan bisa lihat langsung hasilnya. cukup? Tidak! bahkan hape pun dilengkapi dengan camera bisa langsung update di efbe, twitter sampe instagram.

Tapi emak perhatikan gadget juga menghambat naluri persahabatan selama perjalanan. Kenapa? masak jalan jalan sibuk update status dan foto di sosmed. Yang penting wifi. Trus temen sebelah kamu buat apa? patung?  obat nyamuk? Selama kamu ketak ketik update status bukankah kamu bisa kehilangan momen penting selama dalam perjalanan. Akankah lebih bijaksana kita berbaur dengan masyarakat sekitar dan menguntai kasih sayang bersama sahabat  BUKAN Gadget.

Cakep ya emak waktu masih muda ... dilihat dari Pluto hahaha

5.    Komunikasi

Doloe Klo telpon kerumah harus ke “wartel” negara setempat kasih kabar. Sekarang ada BBM, whatsapp, Line,  online connect all the time, wifi dimana mana. Hape selalu ditangan dengan biaya lebih murah, no problem, no worries. *ngacirrrr* Dimanapun kita bisa info ke orang tua dan keluarga tercinta BUKAN update status L.

Seringnya kita update status tapi kagak kasih orang tua kalau kita baik baik saja selama dalam perjalanan. Atau sekedar informasi kita sudah sampai tujuan. Bukankah ketika orang tua mengizinkan dan melepaskan kita travelling disertai dengan untaian doa. Berharap perjalanan kamu lancar lancar aja. Masak orang tua cemas, kamu malah hahahihi di sosmed L L L

6.    Informasi
Cari informasi tentang tempat wisata dan transportasi adalah hal yang nggak mudah didapat, nggak banyak blog blog yang membahas tentang perjalanan mereka ke luar negeri. Maklumlah zaman segitu internet adalah sesuatu yang masih ‘wow’ di Indonesia.

Dan Ujung tombak informasi online saat itu dan sampe sekarang adalah LP alias lonelyplanet atau buku buku travelling penerbit  luar negeri dengan harga yang ‘lumayan’ ngerogoh kocek.  Atau dapat info pariwisata dari koran dan bosur agent perjalanan. Sekarang? Banyak banget blog. Baik dalam maupun luar negri yang membahas tentang travelling, sekalian budget dan cara mudah mencapai tempat tersebut ditambah tips tips lainnya.

7.    Teman Bekpek
Cari teman bekpek dengan negara tujuan yang sama? Melalui forum atau web khusus? Dimana?. kebanyakan teman teman bekpek itu bertemu secara spontan alias on spot di tempat tujuan atau hotel tempat kita tinggal, saling berkenalan, ngobrol ngobrol dan jalan bareng. Sekarang? Banyak banget web yang ‘mencarikan’ teman bareng ngebekpek, mulai dari backpacker Indonesia, Backpacker dunia, Lonelyplanet, travelbuddy, Couchsurfing dan masih banyak lagi diluaran sana. Asyik bukan?

Dibalik segala kemudahan pada saat ini dan 'repotnya' masa lalu. Emak sangat sangat bersyukur kepada sang pencipta yang memberikan kesempatan kepada emak untuk bisa mencicipi dunia luar dengan kondisi keuangan yang terbatas, rajin menabung, Leave fashion for passion dan terus bermimpi menjelajah seluruh pelosok negeri Indonesia hingga ujung dunia.

Nggak usah bingung, heboh dan nyiyir kalau LCC dihapus atau ditentukan batas minimal. Kita serahkan aja sama pemilik penerbangan dan pengatur negeri ini.  Jika kamu beneran suka travelling tak akan ada alang merintang. Bukankah sebuah mimpi untuk dikejar dan digapai?

Happy Mbolang J


You Might Also Like

8 comments

  1. Lek aku nang kene sering nggawe ryanair, Zulfa. Zaman mbiyen maskapai iki koyo bus. Yen kepengen lungguh jejer wong 4, kudu ngantri boarding nang ngarep dhewe. Yen wes dibuka, langsung cepet2an mlayu nang pesawat. hihihihihi. Yen saiki Ryanair langsung oleh nomoer tempat duduk. Gak perlu mlayu2 maneh. ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe lucu mbak yo, koyok bus temenan. Mbayangno balapan golek lungguh. Tapi mbolang zaman biyen iku koyok onok seni e mbak. lebih menikmati perjalanan. opo maneh nek numpak kabar ferry ..... hadew kangen zaman 'slow' biyen :)

      Delete
  2. foto fotonya mb zulfa masih tempo duoloe yaaa.. bersyukur yaaa kita masih mengabadikan foto2 lama dan cerita2 di blog.. kebayang jaman emak2 kita atau nenek2 dulu gak sempat cerita ke generasi kita.. hihihihihi ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdullilah bersyukur banget. Meski pakai strip film. Paling tidak bisa nyimpen semua kenangan. Itu kemarin pas nulis blog. Sengaja cari foto foto zaman jadul dulu. Kenangan. :

      Matur Nuwun dah mampir ke blog :)

      Delete
  3. Mbak, itu celananya cut bray yak? Tempo dolo buanget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya *tutupmukaamakresek* hahaha itu aku pinjem Bang Arafik Tera Janna :))

      Delete
  4. Heehee betul mbak lain dulu lain pula sekarang. Dulu pertama ke India pake Malaysia airline PP 8jutatambah visa 492 ribu tambah airport tax 150 ribu. Celengan abiiiis semua tinggal koin 50 rupiahan dapet dari kembalian belanja dari Borma supermarket:-) .Sekarang mau ke I dia lagi dapet yg murmer Malindo pp 3,2 juta..lumayaaaan binggits..heeheehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, nabung sampe berdarah darah. Wah, Alhamdullilah dapat Murah banget PP 3,2 Juta. Aku hunting Malindo nggak pernah dapat, huhuhu nasib Anak Nakal, hehehe. Entah ini Pulang kampung mau naik apa. berserah sama Maskapai.

      Delete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram