Haleem, Kuliner Khas Muslim Timur Tengah Hingga Asia

17:50:00

Kichra

Aromanya. Gurihnya. Hangatnya. Pedasnya. Lumernya. Cacahan dagingnya. Bikin lidah bergoyang India tiap kali menyantapnya. Menggelitik tenggorokan berdendang mengikuti irama sang lidah. Kala musim dingin tiba, nyaris tak ada sekat hari tanpa menyantapnya.  

Mesti musim dingin berlalu. Musim panas mulai membara. Saya tetap menikmati haleem (Doyan mbadok). Tak peduli badan ini sudah langsing berlebih. Kolesterol berteriak membuat tangan dan kaki berdenyut. Tapi setiap sendoknya justru membuat sensasi tak bisa berhenti. Mengandung ‘narkoba’ yang membuat saya sakau dan lupa diri tanpa memperhatikan lemak dipinggang dan dipipi.

Selama musim dingin, setiap hari Senin bapak mertua selalu membawa Haleem dari kota tempat beliau tinggal. Karena memang tiap hari senin beliau mengunjungi kami di Delhi. Tak hanya Haleem. Juga berbagai menu masakan khas muslim berbahan dasar daging dan ayam dalam limpahan Ghee. Tak tanggung tangung beliau membawa setiap masakan dalam panci panci besar. Terkhusus Haleem, beliau membelinya dari restoran langganan.

Dulu ibu mertua suka membuat Haleem dirumah. Seiring waktu dan menua, beliau sudah tak sanggup lagi memasak Haleem. Karena untuk memasak Haleem dibutuhkan waktu minimal 6 Jam lamanya. Juga tenaga ekstra untuk mengaduk terus menerus. Butuh kesabaran dalam tiap racikannya.  Itulah sebabnya masakan ini disebut dengan Haleem. Diambil dari bahasa Persia yang berarti Kesabaran.

Haleem adalah masakan yang sangat popular di Timur Tengah, Asia tengah dan anak benua India. Termasuk Pakistan dan Bangladesh. Meskipun hidangan bervariasi dari satu negara dengan negara lain. Namum memiliki bahan dasar yang sama. Yakni terdiri atas  potongan daging, gandum, kacang kacangan dan barley. Dagingnya ada yang menggunakan daging domba, sapi atau ayam.

Semua bahan dimasak dalam wajan atau panci besar yang sudah berisi air. Dimasak secara tradisional. Masih menggunakan kayu dan kayu khusus untuk mengaduknya. Kemudian ditambahkan bumbu dan rempah rempah pedas yang bisa dikenal dengan garam masala. Harus terus diaduk minimal 6 jam lamanya. Hingga adonan membentuk seperti bubur.

Di India ada yang namanya Haleem dan Kichra. Sebenarnya sama. Perbedaaanya, kalau haleem, ketika setengah matang, daging diambil. Dibuang tulangnya kemudian daging digiling hingga menjadi bubur. Kemudian dicampur lagi dalam adonan dan dimasak lagi. Sedangkan kalau Kichra dagingnya dibiarkan utuh sampai masak. Setelah masak, daging bakalan lunak dan lumer. Hmmm, ngiler jadinya.

Haleem  dihidangkan dengan taburan daun minth, daun ketumbar, irisan jahe dan cabe hijau tipis tipis, jeruk nipis dan Bawang Goreng diatasnya. Haleem bisa disantap langsung atau disajikan bersama dengan nasi dan roti Naan. Roti ala India yang dimasak dalam oven tanah liat dengan bara arang didalamnya.

Haleem (foto diambil dari sbs.com.au)
Sebenarnya haleem dianggap sebagai snack atau jajanan yang banyak dijual di bazar atau pasar di kawasan muslim di India. Dan haleem ini memili kalori yang sangat tinggi. Nah, kebayangkan kenapa orang India badannya montok montok. Jajanannya kayak gitu apalagi makanan utamanya. Gagal diet terus.

Selama bulan Ramadhan dan Muharram menurut penanggalan hijriyah, haleem disajikan secara khusus. Banyak sekali kita jumpai penjual haleem selama bulan Ramadhan. Khususnya di India, Pakistan dan Iran.

Haleem sebenarnya berasal (populer) dari daratan arab dan dikenal dengan nama Harisah (Harees, Hareesa). Sudah ada sejak abad ke 10. Seorang penulis Arab bernama Arab Abu Muhammad Al-Muzaffar bin Sayyar pernah menyusun buku masak hidangan para Raja, Khalifah, pemimpin dan penguasa dari Baghdad. Ditemukan bahwa Harisah dan Haleem memiliki kesamaan. Harisah masuk ke India diperkenalkan oleh tentara Arab yang menjadi bagian dari angkatan bersenjata Nizam Hyderabad. Salah satu propinsi di India selatan. Pada saat itu dipimpin oleh penguasa Muslim.

Di negara kita juga ada Harisah. Saya pernah mencobanya di kota kelahiran saya sendiri, Gresik. Biasanya dijual ketika ada bazar atau acara khusus. Dibuat dengan berbagai macam campuran kacang kacangan dan daging kambing. Kalau di India disajikan kayak bubur. Harisah di Indonesia lebih padat dan gurih.

Selain berkalori tinggi, haleem diyakini dapat menambah stamina pria. Itulah sebabnya kenapa pria muslim India kuat  dan ‘kuat‘. Dah wis, kok malah ngalur ngidul.

You Might Also Like

14 comments

  1. Tau nyoba masak dhewe, Zulfa? Lek bawang gorenge onok pisan sing dodol nang kono? ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nggak pernah gawe dewe mbak, ibu mertua. Nek bawang goreng aku bikin dewe. solae akeh masakan an India sing maem bareng bawang goreng.

      Delete
  2. Bawang goreng jg favorit org india ya mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Mbak Ima, Bawang goreng jadi favourit. Nggak cuman buat taburan, tapi juga buat adonan dalam bumbu masak.

      Delete
  3. Itu ada curry nya gak mba? Saya agak bergidik kalau terlalu banyak kari heuheu. Eh btw ada bawang goreng super pedas di bandung. Disana adakah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang ini tanpa curry Zahra, kayak bubur kacang kacangan. meski banyak rempah tapi nggak kerasa, sudah didominasi rasa kacang kacangan, gurih. Wah, ada bawang goreng super pedas? pingi coba. disini nggak ada. cuman bawang goreng biasa

      Delete
  4. wah kirain bawang goreng cuma kita aja yang suka...nampak enak haleem mba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, Enak pakai banget mbak Dewi, lupakan diet kalau makan ini :)))

      Delete
  5. Oh jadi istilah "GENDUT" itu lebih halus kalo mengunakan kata "Langsing Berlebih" hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buahaha Yuhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

      Delete
  6. Tuuuh kaaaan.. penasaran lagi ama haleem. Kalo di Ampel kan ada gule kacang ijo, yang biasa dimakan pake roti maryam. Haleem ini kayak gitu nggak ya? Eh tapi haleem gak pake santan ya, mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, aku sering juga makan itu. pertama dibawakan kakak ipar. dia bilang rasanya kayak masakan India. akhirnya kumakan, langsung suka. tiap kali ke ampel, sore sore. Rasanya beda, kalau gule kacang ijo itu lebih mirip harisah. kalau haleem ini rasanya lebih lembut, nggak terasa tajem rempahnya, soalnya campur banyak aneka kacang kacangan.

      Delete
  7. kenapa baca obyek tulisan ini berasa gak pengen cedal ya :3 #plaks

    ini makanan mode penggemukan deh keknya cocok dikirimin sepanci ke jogja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha *plakkk* wah klo butuh lemak tubuh nggak usah kawatir, ntar aku 'donor' waktu pulang :)

      Delete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram