Balada Gelombang Panas India Merenggut Ribuan Nyawa

14:00:00

Gelombang Panas di India

Microwave alam berukuran jumbo menghantarkan gelombang panas bersuhu 48 derajat Celcius telah merenggut nyawa lebih dari 2000 jiwa di India, kebanyakan dari mereka yang meninggal dunia adalah para tunawisma.

Jumlah tersebut diprakirakan bertambah. Kemungkinan ada jumlah tersembunyi. Seluruh televisi India memberitakan kematian yang terus meningkat setiap harinya karena gelombang panas di India begitu terik menyedot seluruh energi tubuh. Pemerintah India memberi peringatan kepada masyarakat untuk tetap dirumah. Tenda tenda darurat terpasang. Rumah sakit melayani banyak pasien yang terserang dehidrasi. Astaghfirullah.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin Alam sudah lelah dengan tingkah laku manusia. Seperti yang saya jelaskan dalam postingan sebelumnya. India memiliki lima musim yang unik. Setiap tahunnya di awal bulan Mei hingga Juni India memasuki puncak musim panas. Tapi tahun ini, India tak hanya berselimut panas, juga diterjang Gelombang panas membuat suhu naik 5 dejarat. Jika biasanya musim panas kisaran 40-42, maka pada tahun ini mencapai 48 derajat Celcius.

Tak cukup disitu saja. Gelombang panas ini bersifat kering. Membuat tubuh dehidrasi tinggi. Menyerang otak hingga menyebabkan kematian. Korban tertinggi ganasnya gelombang panas adalah para tunawisma yang tidak memiliki rumah, manula dan sopir. Tak dapat dipungkiri, di India wajah wajah kemiskinan nyata terlihat. Gelandangan tinggal dibawah terpal lubang lubang menjadi pemandangan yang biasa di negeri Semilyar penduduk ini.

Negara bagian Andhra Pradesh di selatan India menjadi propinsi dengan jumlah korban jiwa terbanyak. Mencapai 1200 jiwa. Disusul dengan negara bagian Telangana dan Orissa di Timur India. Di Delhi, tempat tinggal saya saat ini. Gelombang panas menewaskan sekitar ratusan Jiwa. Dan melelehkan jalanan di Aspal di Dekat Safdarjung’s tomb.

Tak dapat dibayangkan, di negara kita saja, panas maksimal mencapai 37 derajat Celsius. Bagaimana dengan 48 derajat Celsius?  Rasanya bernafas saja susah, Karena menghirup udara yang panas dan kering. Kepala rasanya mendidih. Air dari tendon mampu melepuhkan kulit. Dehidrasi tinggi membuat kami meneguk air minum dingin berulang kali. Terlambat sedikit dan kurang air minum, kepala jadi pening dan lemas.

Jalanan dekat Safdarjung meleleh (Diambil dari liputan 6 (dot) com )


Musim Panas di India
Ruwetnya kabel serta Nampak AC dan Air Cooler ada di setiap apartemen
Di kala musim panas tiba. Sudah menjadi hal manusiawi kita menggunakan pendingin ruangan atau sekedar angin mengalir. Bayangan deretan rumah padat di India menyalakan AC, Air Cooler ataupun kipas angin secara berjamaah. Tegangan listrik PLN India menjadi overload. Ditambah lagi korupsi, kurangnya insfrastruktur dan banyaknya masyarakat yang mencuri listrik. Aliran listrik tiba tiba padam atau terjadi ledakan di transformer. Seperti cerita saya sebelumnya dalam postingan Sileut negeri semilyar penduduk : Listrik.

Di Apartemen kami memiliki inverter. Jadi jika listrik tiba tiba padam, kami masih bisa menyalakan kipas angin. Saya Ingat, tanggal 26 kemarin. Bersamaan dengan datangnya puncak gelombang panas yang mematikan itu. Mungkin saya tidak akan melupakan kejadian ini seumur hidup. Kabel di depan apartemen terbuka dan memercikkan api. Sebenarnya sudah lama, hampir sebulan dan tidak ada ada tanggapan atau perbaikan. Akhirnya percikan api yang membesar tak dapat dihindari. Petugas Listrik memperbaiki sambungan kabel.

Matilah listrik seluruh wilayah, saya santai aja. Alhamdullilah masih ada inverter untuk menyalakan kipas Angin. Setelah lima menit tiba tiba inverter berbunyi  tit tit tit dan Makjleb. Astaghfirullah, inverter kami rusak. Tidak punya aliran listrik alternative. Tidak bisa menyalakan kipas angin. Saya dan si kecil rasanya tidak bisa bernafas. Kayak masuk kedalam sauna kering. Tidak ada aliran angin sama sekali. Astaghfirullah, bahkan oksigen yang kami hirup rasanya panas.

Berbotol minuman dingin kami teguk. Masih terasa kering tenggorokan. Si kecil bolak balik ke kamar mandi untuk membasuh muka. Dan karena begitu panasnya, air dari kran terasa seperti air mendidih melelehkan kulit. Akhirnya saya simpan air dalam timba, agar panasnya menguap. Kadang saya memintanya membasuh muka dengan air minum dingin. Saya olesi leher dan punggung dengan bedak dingin.

Si Kecil mulai meronta, masuk keluar balkoni. Sekedar berharap ada angin mengalir. Memperhatikan petugas listrik yang memperbaiki kabel yang dilakukan ”masih” secara manual. Tentu saja membutuhkan waktu yang lama, kira kira 5 Jam. Lumayan bikin badan ambruk ditambah lagi "mengikuti" si kecil kemanapun dia pergi. Karena saya menjadi dayang dayang yang selalu ngipasi Sang Raja.

Harusnya si Kecil masuk sekolah. Karena libur musim panas diundur. Sekalian digabung dengan libur hari raya. Saya gembira juga sedih. Karena bisa pulang lama di Indonesia. Tapi haruskah si kecil menghadapi  panas yang ganas dan  tetap masuk sekolah? Akhirnya sejak tanggal 25 saya liburkan sendiri.

Gelombang panas di India
Petugas Listrik asyik bermain Handphone diatas tiang listrik

Sedang memperbaiki kabel listrik yang pecah

hot wave in India
Mencoba menyatukan kabel dengan cara manual

Keesokan harinya, saya harus mengurus izin tinggal baru di India. Hal ini dikarenakan ada aturan baru (perubahan) dari imigrasi India tentang visa tinggal di India. Jam 9 kami keluar rumah. Cetar kayak jam 1 siang di Indonesia. Karena bensin hampir habis, kami tidak menyala AC mobil hingga sampai di pom bensin. Nah, kebetulan Shah jahan harus mengambil uang di Bank, saya dan si kecil menunggu di Mobil. Astagfirullah, sampai si kecil marah marah dan seluruh badannya basah karena keringat.

Saya lihat beberapa penjual makanan, minuman di pinggir jalan, tukang parkir dan orang orang yang sedang berjalan kesana kemari. Dari raut muka mereka, sepertinya tidak ada masalah, biasa biasa saja. Mereka berjalan layaknya musim semi.

Dari situ saya terdiam dalam renung dan melupakan “oven” dalam mobil. Mereka bisa karena biasa. Tamparan kehidupan yang keras menjadikan tubuh mereka mengeras sekuat batu. Saya yang tadinya super saiya (marah) karena shah jahan teralu lama di Bank, jadi malu sendiri. 

Saya yang tadinya mengeluh jadi luluh. Bersyukur. Alhamdullilah, saya masih duduk dalam mobil dan masih ketemu ranjang dalam apartemen. Bersyukur, saya menghadapi panas ini hari ini saja diluaran. Bagaimana dengan para penjual makan dan minuman di pinggir jalan. Bertemu dengan panas ini setiap hari. Terkadang mereka mendorong gerobak tanpa payung. Bagaimana dengan gelandangan yang tak memiliki rumah?

Di imigrasi kami antri selama 4 jam. Untung ada AC, meski tidak terasa dingin. Keluar dari Imigrasi. Kami bertemu dengan kemacetan Delhi. Efek Fatamorgana melambai lambai yang terlihat menguap dari aspal jalanan. AC yang sudah kami nyalakan maksimal terasa seperti kipas angin biasa. Jadilah si kecil marah marah memukuli Shah Jahan. Sibuk buka tutup AC dan diarahkan semua ke mukanya.

Rasanya sesak dan nggak bisa nafas. Astaghfirullah, panas sekali. Mungkin Allah mengingatkan diri ini yang nista dan penuh Dosa. Betapa panasnya neraka. Teringat ucapan teman ketika saya masih bekerja di kantor dulu. Setiap kali panas membara, dia berseloroh “Neraka Bocor, panas sekali Bumi”. Ucapannya terasa enteng, tapi kalau di telaah lebih dalam. Kata katanya memiliki arti mendalam.

Hasil laporan dari badan meteorology India menyatakan bahwa  gelombang panas akan menerjang hingga satu minggu kedepan, yang berarti hingga hari ini. Masih terasa panas dan kering. Hingga hari sabtu dan minggu kemarin jumlah kematian terus bertambah setiap harinya. Gelombang panas diprakirakan akan terus bertambah panas setiap tahunnya hingga 15 tahun kedepan. Astaghfirullah. Semoga Allah melindungi dan menjauhkan kita semua dari sengat mentari dan siksa api Neraka, Aamiin.

Sale melon in India
Bapak Tua penjual Melon berteduh di bawah apartemen menghindari sengat sang mentari

You Might Also Like

32 comments

  1. Ya Allah.. 48 dercel. Gak kebayang gimana itu panasnya, mbak.. Di Batam beberapa hari ini juga lagi panas-panasnya, mbak.. Sekitar 30 dercel aja sih, tapi bagiku udah puanas banget. Gak kebayang itu yang 48 dercel.. Moga selalu diparingi sehat, nggih mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Panassssss dan kering. Kalau nggak biasa bisa pingsan. Karena sejak gelombang panas menerjang, saya pilih dirumah aja. kecuali pas ngurus Visa itu. Astaghfirullah, nggak pernah ngerasain panas segitunya.

      Delete
  2. Astaghfirullah, saya lihat di TV komdisi gelombang panas di India dan akan berambah panas setiap tahunnya sampai 15th kedepan? Jakarta panas berhari hari gerah kering lembab sumuk tapi kalo baca cerita mbak ini bersyukur da di Indonesia. Jakarta sempat hujan siang ini alhamdulillah. Salaam kenal mbak, insha allah senantiasa dilimpahi rahmad Allahswt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, di Indonesia walaupun panas dan sumuk, masih ada angin lewat, mungkin karena masih dekat dengan lautan. Kalau yng di India utara ini rasanya nggak ada aliran angin, seolah berhenti di satu titik.

      Delete
  3. Subhanallah.... gak iso mbayangno aku Zulfa. Ngrasa 42 °C wae wes lemes, bolak balik ngombe. Opo maneh 48°C udara kering... Hiks. Mandar mugo gelombang panas segera berlalu... aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bolak balik ngomber plus lemes mbah. Koyok awak dewe nggak dewe daya. aku mesti simpen banyu adem nang kulkas akeh. Trus nang kamar meski onok 2 botol. Ngombe terus ben ora lemes.

      Delete
  4. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un :( Turut berduka untuk semua korban. Hanya bisa mendoakan dari jauh, semoga mbak sekeluarga dan seluruh penduduk di India, dapat selamat. Jangan ada korban lagi. Sedih dengan kondisi alam yang menerjan negeri India saat ini. Foto jalanan meleleh itu seram sekali mbak...aku merinding liatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Doa nya mbak. Ya, sedih saya lihat korban bertambah, Apalagi kebanyakan kalangan tunawisma.

      Saking panasnya sampe aspal meleleh.

      Delete
  5. Ya Allah sedih banget bacanya Mbak Zulfa. Semoga badai panas itu segera berlalu. Ah India semoga juga lebih cepat makmur. Amin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, Matur nuwuwn Doanya mbak Evi. Ya, semoga para tunawisma segera mendapatkan tempat tinggal yang layak dan makmur. Aamiin.

      Delete
  6. Innalillahi...duh mengerikan sekali ya Mbak. Saya di tengah terik 33 derajat celcius saja sudah berkeluh kesah. Sungguh beluma da apa-apanya dibanding cobaan masyarakat India sana.

    ReplyDelete
  7. Semalam WA-an sama calon host gagal itu mbak hehe, dia bilang di sana hujan. Aku katakan bagus karena panas di India sebegitu parahnya dan menewaskan lebih dari 2000 orang. Eh dia bilang nggak tahu huhuhuhuhu.

    ReplyDelete
  8. @Lina : Ya, sedih banget, apalagi korbannya kalangan Tunawisma. anatara ada dan tiada. Semoga badai ini cepat berlalu.

    @Haryadi : Ya, Alhamdullilah tadi malam habis mghrib hujan meski hanya sebentar. Tapi disyukuri saja, paling tidak ada aliran angin mengalir dan air yang meredakan panas bumi.

    Oh Host yg nggak jadi kemu tempati malam itu ya ? Sebenarnya aku mau cerita tentang host kamu itu Yan, Tapi kok aku cerita keburukan orang lain. hehehe kapan kapan aja lah. serba serbi host CS. Nah, dari sini aja kamu tahu, tinggal di India apalagi Delhi dan nggak tahu gelombang panas menewaskan ribuan orang, TERLALU!.

    ReplyDelete
  9. Masya Allah, nggak kebayang mba zulfa, semoga semuanya aman ya mba sekeluarga aamiin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamin. Matur Nuwun Doanya Mbak Dew. Alhamdullilah kami sehat sekeluarga. Alhamdullilah, tadi malam Delhi diguyur Hujan meski sebentar. Lumayan bikin adem suasana.

      Delete
  10. MasyaAllah :( jalan sampai bisa meleleh seperti itu ya.
    Gak kebayang saat listrik dan inverter mati, gak bisa nyalain AC, kipas angin. Semoga diberi keselamatan dan kelancaran untuk mba zulfa dan keluarga serta warga2 India. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamin Ya Allah, makasih doanya. Alhamdulilah 2 hari INI Delhi diguyur human :)

      Delete
  11. Masya Alloh ya mba zulfa.. kl alam punya kuasa bener2 manusia dengan kecanggihannya juga gak bisa menandingi yaa.. semoga gelombang panas segera berlalu dan adem semilir di india yaa.. sehat2 yaaa semuaanyaa *_*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, kuasa Alam tak dapat dicegah. Kita hanya bisa berdoa. Aamiin. Terima kasih atas doa temen teman semua. tiga hari berturut turut Delhi, Diguyur Hujan Dera. Alhamdullilahdah lumayan Adem.

      Delete
  12. Masya Allah, baca ini aku speechless mbak :( gak kebayang gimana sampai bisa begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sendiri kadang bertanya dalam hati, kok bisa ya hadapi semua gelombang panas. Alhamdullilah, Allah juga mengkucurkan rahmatnya secara bersamaan.

      Delete
  13. Mbak zulfa, emang kalo di india jarang ya rumah yg yg pnya taman sdri trus pohon ma tanaman di dpn rmh? Jd kliatan gersang bgt ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jarang banget yg punya taman, bisa dihitung dg Jari :)

      Delete
  14. Eh busyet sampai diatas 40 an yaaaa,, itu panas nya macam mana ??? duch bisa gosong gerah nich kulit mulus ku hahaha

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  16. @ Cumilebay : Macam dimasukkan Oven, Laaa situ pakai kancut doang aja dah gerah, apalagi yg lengkap :)

    @obat herbal : Ya, bersyukur sekali tinggal di Indonesia.

    ReplyDelete
  17. Mbak tinggal di India karena pekerjaan atau apa kah?
    Perih bacanya :""

    ReplyDelete
    Replies
    1. Say tinggal di India ngikutin suami :)

      Delete
  18. Assalamu'alaikum mba Zulfa, salam kenal... Terima kasih atas postingannya. Saya bermaksud ingin berkonsultasi dg mba, klo bsa saya mo minta nomor hp atau pin bb atau lainnya, terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumsalam Masyitoh. Subhanallah bagus banget namamu.
      Sami sami, monggo silahkan email saya ke attini.zulfayah@gmail.com, nanti saya kasih nomer Whatsapp saya :)

      Delete
  19. Subhanallah... manusia kalau dihadapkan dengan kekuasaan Tuhan dan alam, nggak berdaya ya. Panas segitu entah gimana rasanya. Tapi mereka survive ya, mbak. Mungkin karena sdh biasa dengan iklim di India.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betu banget. Makanya, Tak seharusnya manusia bersifat sombong.
      Yang survive karena biasa, sehat dan ada tempat berteduh. Yang meninggal kebanyakan tunawisma.

      Delete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram