Menantang Andrenalin di Kedung Tumpang

15:00:00

Tulung Agung

Racikan alam di pesisir pantai selatan berupa gulungan ombak yang dahsyat menyapu bebatuan karang menghidangkan kolam  alami nan cantik.

Pagi merekah di ufuk Timur ketika kami sampai di Desa Pucanglaban, Kecamatan Pucanglaban Kabupaten Tulung Agung. Berbatasan dengan kabupaten Blitar. Setelah semalaman membelah jalanan sejauh 150 KM dari kota Surabaya. Melewati jalanan menanjak dan berkelok menggapai perbukitan yang dikerumuni pepohonan tinggi menjulang dalam balutan kabut tebal.

Meski cenderung masih pagi dan sedikit gelap, suasana desa diujung perbukitan ini sudah riuh oleh obrolan para pengunjung yang didominasi anak muda. Sebagian pengunjung bahkan bermalam disini. Tempat parkir sudah penuh dengan mobil bertipe SUV dan bus mini. Kebanyakan dari mereka datang dari kota Surabaya dan sekitarnya.

Kedung Tumpang Tulung Agung

Dahulunya pantai yang dikenal dengan Kedung Tumpang ini hanyalah tempat yang digunakan warga  setempat untuk memancing. Daya tarik kolam alami berupa ceruk ceruk berisi air diatas bebatuan karang yang berada tepat di bibir pantai membuatnya ramai dikunjungi wisatawan sejak 2 bulan yang lalu. Foto keunikannya tersebar begitu cepat melalui sosial media. Diakhir pekan pungunjung membludak hingga mencapai ribuan meski pantai yang terbilang masih perawan ini memiliki akses jalan yang cukup menguras tenaga.

Sampai di tempat parkir, kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki sejauh 4 KM menapaki jalan setapak yang hanya bisa dilewati oleh sepeda motor.  Jasa ojek tersedia dengan merogoh kocek Rp. 15.000 sekali jalan. Melewati gundukan perbukitan yang landai dipenuhi dengan perkebunan. Menawarkan panorama halimun pagi mengayomi baris perbukitan manghadirkan suasana yang tenang berbalut mistik.

Perjalanan kami tehenti di sebuah bukit dengan deretan warung sederhana beratapkan terpal dengan tiang seadanya. Lokasinya menyebar, ada yang berjualan disekitar tempat parkir dan ada yang menjual di sekitar perkebunan yang digunakan sebagai akses jalan menuju bibir pantai. Kebanyakan mereka menjual makanan dan minuman juga sandal jepit.
Medan menuju bibir pantai sangat curam dan berat. Menguras tenaga dan juga harus ektra hati hati. Terdapat dua akses jalan menuju bibir pantai, melalui jalur kiri dan kanan. Keduanya berupa jalan setapak dengan rimbun pepohonan.

Kami memilih karena Jalur kiri karena lebih landai dan relative lebih mudah tapi harus menempuh jarak lebih panjang yakni sekitar 400 meter. Pertama, kami menapaki jalan setapak menurun dengan kemiringan 30 derajat diantara perkebunan singkong, jagung dan Pisang. Dimusim kemarau, tanah menjadi kering membentuk butiran butiran kecil yang membuat kaki mudah terpeleset.

Kemudian mendekati bibir pantai jalanan bertambah terjal dengan kemiringan 45 derajat. Jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu orang saja dengan undakan sederhana dari tanah. Terkadang gundukan batu menyembul dari balik tanah membuat kami merangkak untuk melaluinya. Terdapat tali tampar yang dikaitkan di pepohonan yang memudahkan untuk berpegangan.

Jalan Menuju kedung Tumpang

kedung Tumpang


Undakan tanah dan tali tampar ini dibuat atas inisiatif warga setempat untuk memudahkan wisatawan menuju bibir pantai. Bayangkan saja, diatas jalanan terjal dengan kemiringan 45 derajat kita harus mengantri dengan pengunjung lainnya. Salah langkah, bisa terjatuh dan menimpa pengunjung lainnya dan dilahap jurang yang berujung bebatuan karang. Kaki saya gemetar ketika terpeleset melewati tanah kering bergeragal. Ketegangan semakin bertambah dengan  dentungan suara ombak memecah dengan ganasnya.

Sejatinya, Kedung Tumpang bukanlah pantai seperti pada umumnya, dimana garis bibirnya dipenuhi dengan hamparan pasir. Ketika kami sampai yang tersuguh adalah orkhestra alam berupa tebing dengan hamparan bebatuan karang yang tersusun sehingga dikenal sebagai Tumpang, sedangkan Kedung sendiri berarti ceruk yang berisi dengan air.

Kedung Tumpang diapit oleh dua pantai, yaitu Pantai Molang dan pantai Lumbung di sayap Timur serta Pantai Glogok di sayap Barat. Berbeda dengan Kedung Tumpang yang terjal dengan hamparan bebatuan karang, Pantai Molang dan Lumbung relative lebih landai, mamanjang dengan hamparan pasir, ombak pantai Molang menawarkan gulungan ombak yang tinggi, sangat cocok bagi mereka pecinta olahraga berselancar.

Menebar pandang jauh ke depan tampak hamparan Samudra Hindia menghantarkan gelombang yang kuat menghantam bebatuan karang dimana kami berpijak. Berwarna biru kehijaun.Tebing bebatuan menjorok kelautan sehingga nampak bagaikan sebuah teluk kecil. Suara dentingan ombak menggema, menghantarkan semburat busa dilangit langit yang membuat baju kami basah. Payung langit biru bergaris awan putih menjadi pelengkap panorama keindahan yang ditawarkan.

Untuk menuju kolam alami kami harus berjalan lagi sejauh 100 meter melewati bebatuan karang yang terjal dan naik turun. Sesekali ombak datang menyapa menampari bebatuan. Tinggi ombak disini tidak dapat diprediksi, terkadang rendah bahkan hingga setinggi 10 meter. Beberapa penjaga membunyikan peluit panjang pertanda gelombang tinggi datang. Meminta para pengunjung menjauh dari bibir pantai dan bergegas menuju batu karang yang lebih tinggi.

Benar saja, dari kejauhan nampak gulungan ombak yang tinggi dan memanjang. Merinding. Detak jantung terdengar begitu jelas seiring dekatnya ombak. Saya bergegas menuju batu dan berpegangan erat, meski sudah berada didataran tinggi tetap saja semburat air laut menyapa punggung. Menegangkan!

kedung Tumpang

Wisata Jawa Timur

Pantai Keren di Indonesia


Sesaat, penjaga meminta kami berhenti sejenak menunggu hingga ombak tenang dan bisa melanjutkan perjalanan. Bergidik ngiri ketika melihat sapuan ombak yang menyeret segala yang diterpanya. Lanjut lagi dan berhenti, begitu seterusnya.Terkadang kami harus gegas melewati bebatuan yang landai. Bahkan harus merangkak menaiki bebatuan yang terjal dan licin.

“Ayo mbak cepat bergerak, air akan semakin pasang ketika mendekati jam 9” ucap bapak penjaga. Jika tidak lekas bergerak, kami bisa terjebak dan diterjang ombak. Balik lagi maupun terus menuju kedung akan dihadapkan dengan ombak. Sedangkan dibelakang kami tebing tinggi yang tidak mungkin untuk didaki.  

Alhamdullilah, akhirnya kami sampai di kolam alami yang menjadi ikon Kedung Tumpang. Dengan pengorbanan sandal kami jebol. Kolam kolam yang berada tepat dibibir pantai ini memiliki bentuk tidak beraturan. Ada yang bulat, lonjong, semua berdampingan satu dengan yang lainnya. Kedalamannya juga berbeda satu dengan yang lainnya. Kolamnya jernih nampak lebih natural apalagi bebatuan disekelilingnya dibalut lumut hijau.

Kolam kolam disini terbentuk akibat kikisan ombak yang menghantam bebatuan karang selama bertahun tahun. Warnanya yang indah dan masih belum tersentuh oleh banyak tangan manusia menjadi alasan wisatawan datang kemari. Sayang sekali, ketika kami datang, tidak diperbolehkan berenang didalam kolam karena deburan ombak  terus menerus datang menyapu kolam.

Bau akik alami paling banyak diminati


Disini terdapat beberapa pedagang menjual minuman. Bahkan penjual batu akik cantik yang didapat dari sekitar pantai. Puas bersantai menikmati deru ombak kami kembali dengan melewati jalur kanan yang menanjak, terjal dan curam. Mendaki bukit dengan mengandalkan tali tampar dan kekuatan tangan. Seru! Kenikmatan ini kami akhiri dengan menyesap kesegaran es kelapa muda dengan suguhan alam pantai Lumbung.

Tips
  • Persiapkan energi yang cukup
  • Gunakan sandal atau sepatu trekking
  • Datanglah pagi hari untuk dapat berenang di kolam alami
  • Menjauhlah dari bibir pantai demi keselamatan
  • Bawalah sampah anda kembali agar kebersihan dan keindahan Kedung Tumpang tetap terjaga

*Tulisan ini tayang di Koran kedaulatan Rakyat





You Might Also Like

33 comments

  1. ahhhhh nie pantai emang bikin keceeee.... mupeng konon lagi hits di gelora anak instagram hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, lagi nge hits di Instagram. baru soalnya

      Delete
  2. Wah,,, kemarin habis bunga sekarang berganti pantai,,,, btw, lumayan juga yaw kalau jatuh itu, langsung ke batu karang, tapi misal kalau langsung ke laut malah aman,,, hmmm pemandangannya kayaknya menarik rik rik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan kalau jatuh. Ada teman yang keterjang ombak waktu kesini. Dagunya luka parah. kalau ke jatu ke ombak malah "aman" solanya langsung tenang bersamanya NYA.

      Segerrrr pemandnaganya

      Delete
    2. Wah,,, tadinya niatnya refreshing malah kecewa nggak jadi seneng - seneng mbak karena dagunya luka parah,,, Hahaha, yaw jangan dong, masak tenang bersama ombak,,, ditulungi langsung nuw mbak

      Delete
  3. Wah,,, kemarin habis bunga sekarang berganti pantai,,,, btw, lumayan juga yaw kalau jatuh itu, langsung ke batu karang, tapi misal kalau langsung ke laut malah aman,,, hmmm pemandangannya kayaknya menarik rik rik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada temen yang jatuh ke batu, dagunya berdarah. Jatuhnya karen keterjang ombak gede. Nyungsep.

      kalau langsung ke Lau lebih aman dan wassalam. kegulung ombak ganas kayak gitu.
      ayoo kesini, biasa tuh linta selatan dari jogya

      Delete
    2. Hahahaa,,, Iyaw mbak, bener laut selatan ombaknya memang bikin merinding,,,, Iya mbak,,, pernah sieh aku lewat Tulungagung, waktu itu ke Semeru,,, tapi pernah juga mengunjungi salah satu tempatnya Pantai Popoh,,, keren abis pemandangannya

      Delete
    3. Kalau popoh itu suara gemuruh yang dari celah bebatuan (mirip goa) itu. merinding dengernya.

      Delete
    4. Bukan mbak,,, tapi banyak kapalnya berwarna - warni, banyak pohon kelapanya di pinggir pantai, selain itu banyak patung hewannya juga,,, pokoknya suasananya dapet bangetlah, Tulungagung dan Trenggalek seinget saya memiliki pemandangan yang bagus banget

      Delete
    5. Wah, bearti kamu sibuk sama yng sekitaran patung itu. Coba kamu kebawah, ada semacam batu besar, Nah di celah batu itu bisa dengerin gemuruh besar. Tapi dah lama juga nggak kesana, terakhir SMA, hehehe

      Delete
  4. Petualangan tenan nang pantai iki, yooo... Seruuu! ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. emak mbolang si petualan. kalau langsing sih ok mbak. badanku kayak gini, rasane kudu nggelundung :)

      Delete
  5. wah sulit juga ya jalan ke sana tp namanya pantai tetap mengasikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya. walau sulit tapi sepadan dg pemandnagan yg ditawarkan

      Delete
  6. Yaaa Olloh deburaan ombak nya dahsyat banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget, harus siap siap terus. Banyak yg jatuh gegara ombaknya yg dashyat tiba tiba

      Delete
  7. memang kerenn pantainya .. unik lagi .. tapi untuk sampai kesana-nya ... perjuangan da doa ya ...

    ehh .. batu akik-nya harganya sekarang sudah murah2 dong ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, waktu kesana lihat jalanan masih perawan dan terjal gitu langsung ping ngurusin badan :)

      Iya. sekarang batu akik muraha ya, ada yg 5.000 saja

      Delete
  8. Nek aku mesti wis gemeteran. Ombake gede. Nek ora ati-ati iso keseret. Tapi menuju ke sana pasti seru banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuhuuuu, iki kaki wis gemeteran. iyo, nang kene kudud ati ati ben nggak keseret

      Delete
  9. melok deg2an baca perjalanannya mba, medannya sungguh dahsyaaattt....

    ReplyDelete
    Replies
    1. sik Perawan mbak, mangkane medane sodok susah, :)

      Delete
  10. wuaahh segitu beratnya ya medan menuju kesana mba... sampe dibikinin pegangan gitu.. ga kebayang aku... tapi pantai2 selatan memang ganas bener ya ombaknya... aku jg serem... laut roro kidul bangettt.. tapi ngeliat foto kolamnya, wuidihh, Bali kalah deh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan mbak, kalau langsing sih oke ya. laaa badan segede gaban gini. ampe susah nafas waktu naik pakai tampar itu

      Delete
  11. wow medannya *angkat tangan* saya menikmati ombak pantai selatan dari gunung kidul saja mba..hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe susah nian memang wedannya, tapi viewnya kece banget, khas pantai selatan.
      Iya pantai diguung kidul juga kece kece

      Delete
    2. hahaha, kan Mrs typooooo mbak.

      Delete
  12. Medannya lumayan juga, sampe harus pegangan pada tali. Jadi ingat air terjun Pelangi di Lampung hahaha. Dan uwow, batu akiknya :D :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. He eh, Lumayan gelendotan sampe meres lemak di pinggul. :)

      Delete
  13. mirib sama tempat wisata di nusa penida bali, tapi yang bikin unik itu ada batu akiknya, lumayan tuk kalau wisata ke sana bisa cari batu akik. wkwokwowko

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya, tebing tebingnya kayka di Nusa penida.

      cinta sama batu akik juga tho ?

      Delete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram