We Are Khasmere [Not] Indian

13:41:00


Secara administratif masuk negara bagian India tapi penduduknya merasa bukan bagian dari negara India.

they are Indian” Pernyataan itu terucap dari bibir Saheed, sopir Jeep kami. Sambil menunjuk kearah lapangan yang luas dipenuhi tenda illegal. Lapangan yang berada di tengah kota Srinagar dalam perjalanan menuju Gulmarg. Mendengar Ucapan itu sontak saya mengernyitkan Dahi. Ketika melihat kearah lapangan. Memang, dilihat dari wajah dan warna kulit mereka terlihat lebih hitam yang banyak saya temui di kota kota lain di India. Berbeda dengan Penduduk Kashmir yang putih dan mancung. Apakah tentang rasialisme? BUKAN !.

Si Saheed ini berusia sekitar 20 tahun. Dia belajar menyetir sejak berusia 15 tahun. Dari ayah nya dia belajar mengendarai mobil yang juga seorang sopir. Kalau di Indonesia dengan wajah yang putih, sorot mata tajam, rambut hitam kecoklatan. Pastilah dia sudah menjadi bintang sinetron dan dikejar-kejar cewek. Di Kashmir, wajah seganteng gini hal yang biasa J

Keesokan Harinya. Ketika makan malam di Housebout (rumah kapal diatas Danau Dal). Hidangan yang tersaji berupa nasi, ayam dan dan salad. Kemarin malam, kami dinner dengan nasi, ayam, kentang berbumbu, sayur berkuah dan salad. Tak tersuguh menu khas roti bundar dan lempeng yang menjadi ciri khas masakan India.

Emak pun nyeletuk dengan wajah penasaran, Mr. Fridaus here people in Kashmir doesn’t eat Roti? Dengan tegas dan lantang beliau menjawab. “Thats India, Not Kashmir. Here in Kashmir we ate rice.” Pernyataan kedua kali, seolah mengiyakan apa yang diucapkan oleh Saheed. Pak Firdaus ini pemilik houseboat. Kami memilih memesan breakfast dan makan malam dari beliau. Karena ingin menikmati makanan khas Khasmir dengan cita rasa homie. Malam itu emak berbincang sedikit dengan beliau tentang India dan Kashmir.

“I am stay in Delhi”  ucapku
“What are you doing there in Delhi ? are you working?”  tanya beliau dengan wajah keheranan dan seakan ingin tahu.
“Nope, I stay with my Husband and he is Indian”  Ucapku dengan santai
Mendengar hal tersebut, beliau terdiam. Trus dilanjut dengan sebuah pertanyaan. “Is he Muslim ?”
“Alhamdullilah, He is Muslim”  jawabku
“Who is his Name” bertanya dengan wajah penuh keinginan tahuan dan emak sebut nama suami yang memiliki nama Islam.
“Oke, Alhmadullilah”. Beliau menjawab seolah It’s Ok itu sesuatu yang tak biasa.

Tiga hari tinggal dirumah Pak Firdaus. Emak seolah berada dirumah, tak merasa asing sama sekali. Terdengar suara adzan dimana mana. Di India, hanya kawasan komunitas Islam saja kita bisa mendengarkan suara adzan. Rumah Pak Firdaus tepat berada di sebelah houseboat. Nah, ini unik sekali, beliau tinggal dirumah, tidah diatas Houseboat. Yap, diatas sebuah tanah yang berada di tengah Danau Dal. Didepannya terdapat dermaga dan beliau memiliki sebuah perahu.

Makanan Khas Kashmir, rasanya antara India dan Indonesia

Bukankah Kashmir berada di India? Memang Kashmir terbelah menjadi dua. Yakni sebagian wilayah berada di negara India dan sebagian diseberang negara Pakistan. Tapi satu hal yang sangat sensifif dan sangat begitu sulit untuk dimengerti atau disatukan. Kayak air dan Minyak. Bahwa Khasmere (sebutan bagi penduduk Kashmir) Bukanlah India. Khasmere is Khasmere and Indian is Indian. TITIK.

India dan Kashmir kalau dilihat dari segi kulit, beda. Dari segi agama, beda juga. Dari segi makanan, beda dikit. Dari segi bahasa? beda juga. Daratan India menggunakan Hindi sebagai bahasa Nasional sedangkan sebagian besar penduduk Kashmir menggunakan bahasa Khasmere dan sedikit Urdu. Nah, Urdu ini hampir sama dengan bahasa Hindi hanya saja penulisannya menggunakan huruf arab. Kayak kitab kuning. Pakistan menggunakan Bahasa Urdu sebagai bahasa Nasional. Dan sebagian Sekolah Muslim (penduduk muslim India) lebih menggunakan bahasa Urdu ketimbang Hindi.

Perang yang berkecamuk. Pertumpahan darah dan demonstrasi telah mengukir sejarah dalam kehidupan penduduk Khasmir. Semua dimulai ketika seluruh anak benua India merdeka dari dekapan Inggris. Dilanjut perpecahan antara umat Muslim dan Hindu yang membelah negara menjadi Pakistan dan India. Entah mengapa, Kahsmir yang 90 persen masyarakatnya beragama Islam “tidak dilepas” oleh India.  Mungkin karena ini, ini dan ini . Peace J

Meski sekarang Kashmir lebih aman, tentram. Tapi masih banyak tentara dan polisi berkeliaran dengan senapan laras panjang. Sepanjang perjalanan darat yang kami lalui, camp camp tentara terserak dimana mana. Deretan truk tentara sering emak temui sepanjang perjalanan. Di Kashmir sendiri, lihat tentara dan polisi bertebaran menjadi pemandangan yang biasa.

Ah, entah sampai kapan gejolak perbedaan tersimpan dalam hati. Bagaikan bom waktu yang siap meledak kapanpun Juga. Semoga, bumi Kashmir dengan segala kemolekan barisan pegunungan berselimut salju tak tertumpah oleh darah. Amin.

“Lets Live in Peace and Harmoni”  Kata Uncle Dalai Lama J



You Might Also Like

2 comments

  1. haloo emak bolang, salam kenal. menarik sekali artikel-artikelnya. akhirnya penasaran saya soal kashmir bisa terjawab setelah baca cerita emak. saya mau tanya, apakah kita orang Indonesia membutuhkan visa khusus untuk ke Kashmir? ataukah sudah cukup dengan visa India yang kita miliki? terima kasih. =)

    Lukman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo Lukman, Salan kenal juga.

      Tidak ada Visa khusus Kashmir, Sudah cukup dengan Visa India.

      Delete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram