Friday, 15 July 2016

Ponsel Menjadikanku Seorang Entrepreneur

Giveaway aku dan kamera ponsel

Ponsel tak sekedar mengabadikan momen kebersamaan bersama keluarga dan sahabat, lebih dari itu ponsel bisa menjadi rekan kerja yang handal

Bermula dari sebuah pencarian ide bisnis di Bidang IT oleh sebuah brand handphone ternama.  Pemenang akan mendapatkan modal usaha senilai ratusan juta Rupiah. Tak hanya modal usaha, pemenang kompetisi bakalan didampingi seorang ahli wirausaha untuk menjalankan usahanya selama setahun kedepan. Tantangan yang begitu menggairahkan.

Pengumuman lomba menglingkari hati selama berhari hari. Seolah menjadi mesin penjawab kegundahan saya selama ini. Saat itu, saya bekerja disalah satu perusahaan dibidang IT di Surabaya. Berada di posisi Manager, secara materi bisa dikatakan bekecukupan untuk hidup mandiri. Tapi kecukupan materi yang ditawarkan tak sebanding dengan kurangnya perhatian untuk si kecil.

Sangat tak mudah memang menjadi seorang Ibu sekaligus wanita karir. Sepandai pandainya kita membagi waktu antara keluarga dan karir tapi keluarga tetep memiliki jatah “sisa”. Mulai pagi hingga sore, 8 jam sehari, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Dan saya hanya memiliki waktu 2 hingga 3 jam sehari bersama si kecil. Tak jarang pula karena menumpuknya pekerjaan dan meeting, saya harus lembur hingga tengah malam. Dan parahnya, saya sering masuk kantor ketika weekend.

Inginnya, meski saya sibuk di kantor, saya masih bisa berhubungan dengan si kecil. Tak sekedar berbincang melalui handphone dan menanyakan tentang keadaan dan aktifitas. Tapi juga melihat segala aktifitas melalui video live streaming di handphone. Pada saat itu, handphone masih belum secanggih sekarang ini.

Dari pengalaman dan keinginan yang selalu dilangitkan dalam barisan doa, saya terpikir untuk memiliki ide bisnis berbasis teknologi. Idenya, memiliki day care berbasis Teknologi. Jadi, day care ini tak hanya menjaga anak anak selama kita bekerja, juga menyediakan teknologi live streaming berupa video yang berada disetiap sudut tempat. Dan bisa diakses melalui sentuhan tangan di ponsel.

Jadi, meski dikantor saya masih bisa memantau kegiatan si kecil selama di Daycare melalui video streaming yang tersedia. Tak hanya menyajikan video juga akses tumbuh kembang si kecil. Bahkan kami bisa makan siang bersama meski berbeda tempat. Saya bisa meyaksikan dia tidur siang. Atau ketika sedang bermain main bersama temannya. Jadinya, seorang ibu tidak akan ketinggalan informasi tumbuh kembang si kecil meski sibuk bekerja. Dan inginnya semua bisa diakses melalui ponsel. Memang sih, pelukan dan perhatian kita secara langsung tidak bisa tergantikan, paling tidak ada ada fasilitas teknologi yang membantu mendekatkan antara ibu dan anak.

Semua keinginan itu kemudian saya tuangkan dalam Ide bisnis tersebut dan saya ikutkan dalam kompetisi tersebut. Waktu berlalu, saya pikir kalah mengingat saingannya begitu banyak dan berat. Tak disangka, ide bisnis berbasis teknologi yang masih murni dan asli hasil pemikiran anak Indonesia ini terpilih menjadi 20 finalis dari ribuan peserta di seluruh Indonesia. Dan selanjutnya menjadi 7 finalis untuk terbang ke Jakarta dan berkompetisi menyampaikan ide dihadapan dewan Juri yang terdiri atas pakar usaha dan juga Wirausaha sukses. Salah satu dewan jurinya waktu itu adalah seorang pakar di bidang fotografi, Jery Aurum.

Giveaway aku dan kemara Ponsel
Bersama Finalis dan Jerry Aurum

kamera Ponsel
Bersama mas Doni, peliki frozen Youghurt

Zenfone laser
Bersama ibu Maria Elka pangestu

Di Jakarta saya tak hanya berkompetisi memenangkan lomba. Semua finalis diajarkan cara memulai bisnis, budgeting hingga marketing. Saya Juga berkesempatan bertemu sederet orang penting di Indonesia salah satunya adalah Menteri perdagangan dan perindustrian, yang pada waktu itu dijabat oleh Ibu Maria Elka Pangestu.

Yang paling menarik adalah saya bisa bertemu para pebisnis muda yang juga berkompetisi memenangkan Youth Enterpreneurship Indonesia yang disponsosri oleh British council. Kami juga bertemu dengan sederet pebisnis muda sukses di berbagai bidang. Salah satunya pemilik restoran Holycow di Jakarta. Satu hal yang menarik dari kesuksesan Holicow adalah penggunakan teknologi social media yakni Twitter sebagai media branding perusahaan mereka. Dari sini saya mendaptkan semacam pencerahan, bahwa ponsel tak hanya bisa menunjang usaha bisnis dari segi komunikasi saja, tapi lebih dari itu bisa digunakan sebagai branding.

Meski saya tidak memenangkan kompetisi tersebut, sepulangnya dari acara tersebut saya langsung mengajukan resign di perusahaan saya bekerja. Beberapa tawaran bagus diajukan oleh General manager agar saya tetap bekerja di perusahaan. Niat untuk berwirausahara menancap begitu kuat. Tawaran itu saya tolak dan sebulan setelah itu saya sudah tidak bekerja di kantor lagi.

Untung saja, beberapa bulan sebelum resign saya bekerja secara freelance dengan seorang teman yang memiliki usaha alat kesehatan. Saya diminta membantunya untuk berkomunikasi dengan pihak diluar negeri untuk mengimpor barang di Indonesia.

Bermodalkan ponsel pintar hadiah dari kompetisi tersebut, hampir keseluruhan pekerjaan saya jalankan melalui gengaman tangan. Saya tak harus menyalakan laptop untuk melihat email yang masuk dan me-reply-nya. Ditambah lagi dengan kemudahaan SMS banking dalam bertransaksi. Kebahagiaan lain yang paling penting adalah kebersamaan saya bersama si Kecil dirumah. Melihat tumbuh kembangnya merupakan hal yang tak ternilai dengan apapun juga.

Disela sela kesibukan saya sebagai ibu rumah tangga dan mengurus usaha bersama teman, saya berfikir untuk menggunakan uang puluhan juta yang saya dapatkan dari kompetisi tersebut untuk membuka usaha baru. Ya, dalam kompetisi tersebut, meski tidak menang sebagai finalis saya mendapatkan smartphone dan juga uang puluhan juta rupiah. Alhamdullilah, saya kemudian menyusun beberapa konsep bisnis baru yang tak jauh jauh dari background pendidikan sekaligus hal yang saya sukai  yakni di bidang Informasi teknologi. Terkhusus perkembangan teknologi menggunakan fasilitas Internet dan Ponsel.

Pada waktu itu saya percaya bahwa dimasa yang akan datang, hampir keseluruhan pekerjaan akan terhubung dengan Internet melalui smartphone. Tanpa adanya penggunaan kedua teknologi tersebut perusahaan akan tersisihkan dengan pesaingnya. Tujuh tahun berlalu. Saat ini saya melihat secara nyata bahwanya apa yang saya pikirkan pada waktu itu benar adanya. Disini saya merasa cerdas *plakkk

Sebelum merealisasikan Ide, suami meminta saya untuk tinggal kembali di India. Ide sudah tertancap jelas dan semangat sudah membumbung tinggi. Dah, tiba tiba …… ahhh, sudahlah.  Sungguh, super galau.

Terbanglah saya ke Negeri Mahabharata. Negeri yang sebenarnya sudah tidak asing lagi karena saya pernah mencecap kehidupan disini sebelumnya. Di India saya sepenuhnya ibu rumah tangga. Terbiasa dengan segala aktiftas dan hidup dalam kemandirian membuat kehidupan saya di India tidak menyenangkan. Tapi kodrat sebagai seorang istri harus dijalani dengan ikhlas dan sabar (mendadak jadi emak solehah).

Kerinduan dengan keluarga di Indonesia terbantu dengan adanya ponsel. Kami bisa berbincang sesering mungkin dengan menggunakan teknologi chat plus video berbasis internet. Tak hanya itu saja. Teknologi kamera yang tersemat didalamnya membantu saya senantiasa bertukar foto dengan keluarga di Indonesia.

Dan ketika jalan jalan liburan bersama keluarga di India, saya abadikan momen kebersamaan kami. Beberapa detail keunikan dan keindahan bangunan saya abadikan dalam bingkai kamera ponsel. Lumayan, ponsel yang sama sebagai hadiah dari kompetisi memiliki kamera yang cukup bagus.

Waktu berlalu, selain menjaga si kecil, waktu luang ini saya manfaatkan dengan membaca. Tentu saja, karena saya suka mbolang, bacaannya tak jauh jauh dari dunia travelling. Salah satunya dengan membaca beberapa tempat yang barusan atau akan saya kunjungi bersama keluarga.

Dari banyak referensi ternyata negara India yang didominasi umat agama Hindu justru memiliki banyak tempat peninggalan peradaban Islam. Ketertarikan ini berujung dengan keinginan untuk menulisnya dalam sebuah blog. Dan pada akhirnya saya mengirimnya ke sebuah Koran Nasional di tanah Air. Dan saya tidak menyangka tulisan pertama tentang peradaban Islam di India bakalan tayang.


Beberapa foto yang tayang diambil dari kamera Ponsel

Hal yang membuat hati berbunga adalah foto yang tayang di Koran itu adalah hasil jepretan dari ponsel yang sama. Benar benar tidak menyangka, hasil jepretan ponsel bisa terbingai cantik di Koran. Sejak saat itu derajat kepedean saya dalam hal menulis perjalanan dan fotografi meningkat. Apalagi dengan berodalkan kamera ponsel saya bisa berkreasi.

Kini, keseharian saya disibukkan dengan menulis baik di blog maupun untuk media cetak di Indonesia. Berkat Ponsel, saya terhubung dengan teman teman baru yang bekerja dalam bidang yang sama yakni travel writer. Baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri. Kami saling bertukar pengalaman, tips menulis hingga berbagi alias curhat. Tak jarang pula, saya sering mendapatkan tawaran pekerjaan seperti review maupun mengisis konten di blog, semua karena hubungan baik yang kami jaga melalui forum chat di ponsel.

Tak hanya menulis di hadapan laptop, ponsel juga menjadi tempat menuangkan ide maupun cerita yang tiba tiba datang tanpa diundang. Kalau gini, saya nggak mau lama lama nyalakan laptop. Ponsel saya sambar dan segera menuliskannya sebelum semua terlepas dari ingatan menadi sebuah goresan kalimat.

Tak jarang pula, ide yang tadinya hanya sekelumit justru membuahkan beberapa kalimat berlanjut menjadi beberapa paragraf yang panjang ketika menuliskannya di ponsel. Entah mengapa, ketika menulis di ponsel daya tarik bercerita lebih luwes. Mungkin saya merasa sedang bercerita dengan seseorang. Jadi cerita yang saya tulisa jadi lebih menarik. Kelemahan saya menulis di ponsel adalah satu, sering typo. Parah banget typoonya karena si jempol mengikuti ukuran badan. (emboh, kapan diet e).

Berkecimpung di dunia travel writer sekaligus blogger, mau tak mau saya harus berteman baik dengan social media. Ponsel seolah menjadi bagian yang tak dapat terpisahkan dari seorang blogger. Manfaatnya segunung. Saya bisa langsung update alias pamer foto kepada penggemar melalui media social instagram. Share postingan terbaru di fanspage. Dan bisa cuap cuap dengan penggemar di twitter. Tak jarang pula, saya bisa berinteraksi secepatnya dengan menjawab semua pertanyaan yang masuk di blog melalui ponsel. Kini, writerpreneur telah menjadi profesi yang sangat saya sukai. Pada akhirnya saya bisa menbuktikn bahwa hobi bisa menjadi sebuah Profesi. Tak mudah memang, tapi semua harus dibarengi dengan kerja keras tinggi.

Apalagi sekarang zamannya vlog, ponsel sangat bermanfaat banget merekan video dengan cepat biar tetap up to date di media social untuk para penggemar. Jalan jalan tinggal shoot, edit langsung deh bisa share ke seluruh pembaca. Apalagi saat ini saya juga menikmati profesi baru sebagai citizen jurnalis sebuah TV swasta di Indonesia. Tak hanya meliput tempat wisata juga kejadian yang bersifat mendadak atau momen tertentu.

Banyak sekali liputan yang terabaikan karena saya nggak bawa kamera. Terpikir untuk membeli ponsel baru dengan kualitas foto dan video yang bagus. Apalagi saat ini baterei handpone yang saya miliki menggembung alias nggak bisa dipakai. Tanpa Ponsel, rasa ketinggalalan terasa. Mulai kehilangan job, nggak bisa update dan masih banyak lainnya.

Beberapa minggu ini setelah baterei menggembung dan “pingsan” karena saya tidak mendapatkan baterei pengganti disini, saya mencari handphone berkualitas yang cocok buat profesi saya sebagai seorang travel writer dan blogger. Handphone dengan kualitas kamera16 Megapixel jadi fotonya nggak pecah ketik di muat majalah. Bisa selfie kece juga. Kualitas video HD yang mumpuni biar bisa masuk Tivi. Bisa buat ngetik juga dengan model yang sleek dan enak dipegang. Dan yang penting nih, harganya bersahabat. Setelah baca referensi sono sini dan melihat review di Youtube, hati saya terjatuh dengan si rupawan Zenfone 2 Laser ZE550KL. Semoga kelak handphone ini menemani saya bekerja, mengambil foto di majalah juga video untuk citizen journalis. Mbolang semakin menyenangkan.


Dari pengalaman ini, saya mengajak pembaca dan penggemar untuk menggunakan kamera ponsel kearah yang lebih posisif. Nggak sekedar selfie atau chit chat doang sampe melupakan orang sekitar. Tak sekedar mengabadikan moment kebersamaan bersama keluarga dan sahabat saja. Lebih dari itu, bisa untuk mengetik, menuangkan ide, SMS banking, bahkan bisa juga menjadi sarana untuk marketing produk ketika kita memutuskan berwirausaha. Ponsel bisa menjadi rekan kerja yang baik. Bahkan menjadi sumber pundi pundi agar asap dapur terus membumbung tinggi. Yuk! Gunakan kamera ponsel kita yang cerdas sebagai tempat berkreativitas dan beraktifitas dengan lebih baik lagi.


*Tulisan ini diikuit sertakan dalam Giveaway Aku dan kamera Ponsel By uniekkaswarganti.com

Wednesday, 29 June 2016

4 Tips Sederhana Tampil Segar Saat Traveling

Tips tampil segar selama Travelling

Perawatan kulit wajah  yang benar memancarkan aura kecantikan tersendiri dan menggunungkan kepercayaan diri tampil natural

Less is beautiful. Aura kecantikan seorang wanita terpancar mempesona justru ketika mereka tampil natural tanpa make up. Bener nggak? Kaum adam langsung tersenyum mengiyakan. Bahkan jauh dilubuk hati terdalam para kaum hawa juga membenarkan pernyataan tersebut.

Meski benar adanya tapi saya sering mendenger teman wanita bilang kalau dia nggak pede kalau nggak dandan. Kemana kemana sibuk berpoles poles wajah. Nggak mau jalan jauh takut bedaknya luntur. Tak jarang juga kebiasaan wanita tampil menor justru bikin suami kesel. Iya kan? Iyakan aja.

Bagi saya pribadi perawatan kulit sehari hari lebih penting ketimbang tumpukan make up di wajah. Ketika travelling bahkan dalam kehidupan sehari hari, saya nggak pernah pakai make up. Bedak aja saya nggak punya. Ntah mengapa ketika memakai make up, saya justru merasa nggak pede. Suami sendiri lebih suka saya tampil natural karena dasarnya saya memang sudah cantik dan menarik *ngaca (lalu dilempar telur sama pembaca, hehehe).

Meskipun saya nggak pakai make up tapi bukan berarti saya anti make up, lho, ya. Sah sah aja dandan tapi jangan berlebihan. Nggak perlu harus memperberat kulit wajah dengan tumpukan berbagai produk yang justru bikin wajah nggak bernafas dengan baik.

Masih inget dengan cerita kepedean saya ketika harus interview Live di NET TV tentang perjalanan saya jelajah Himalaya? Bagaimana saya tampil percaya diri tanpa make up bahkan bedak, cukup bermodalkan sapuan liptik tipis di bibir. Kadang kalau ada kondangan, saya poles bibir dengan lipstick tipis tipis. Ini semata karena saya cukup percaya diri dengan tampilan kulit wajah saya yang senantiasa memancar cerah.

Pengalaman menggunakan Cetaphil

Nah, kesederhanaan saya ini (halah!) justru membawa berkah tersendiri bagi saya yang suka mbolang. Pertama, saya nggak harus ngeluarin duit buat beli bedak, lipstik, bulu mata badai, blush on membahana dan sebagainya. Duitnya bisa disimpen buat beli tiket kereta Trans – Siberia. Kedua, ransel lebih ringan karena nggak harus masukin segudang peralatan kosmetik dalam tas. Jalan jadi lebih gesit dan nggak mudah capek. Ketiga, less worry, karena nggak pernah takut atau khawatir make up luntur kala jalan jalan.

Saya percaya bahwa ketika wajah kita bersih, segar dan terawat itu adalah “make up” alami, teraman dan terbaik bagi kulit wajah kita. Sekaligus menjadi investasi kecantikan kala kita tak lagi muda.

Ketika jalan jalan pun kita harus senantiasa menjaga kecantikan kulit. Nggak harus bawa perlatan kosmetik segunung yang bikin ransel menggembung. Berikut tips sederhana tampil segar dan percaya diri saat travelling.

  • Banyak minum air putih

Selain menghindari dehidrasi saat jalan jalan. Air putih mempunyai segudang manfaat kesehatan bagi tubuh kita. Karena air berfungsi melancarkan peredaran darah dalam tubuh yang artinya bagus untuk kesehatan jantung. Air juga berfungsi sebagai Detokfisikasi yakni membantu mengeluarkan racun dalam tubuh melalui urine dan keringat.
Selalu bawa air putih dalam  ransel atau tas kemanapun kamu pergi. Sudah banyak air putih yang dikemas sangat ekonomis untuk kebutuhan jalan jalan dan sangat mudah dibawa. Air juga berfungsi mengencangkan kulit tubuh dan wajah. Mencegah penuaan dini karena air juga dipercaya membantu elastisitas kulit. biar kerutan kerutan nggak menyapa meski kita sering terpapar matahari dan Debu. Jadi Air membantu kulit wajah senantiasa nampak bercahaya alias kinclong.

  • Pembersih muka

Saya paling senang perjalanan darat meski memakan waktu lama. Tak tanggung tanggung kadang perjalanan menuju lokasi tertentu ditempuh dalam bus atau kereta hingga 24 jam lamanya. Tak jarang pula saya sering terjebak dalam kemacetan jalan berdebu.

Kalau gini, muka jadinya kusam dan kotor karena debu yang menumpuk diwajah. Rasanya kayak wajah saya dibedaki sekilo. Plus, wajah juga kadang terasa gatal juga karena tumpukan kotoran yang menyapa wajah ini membuat kulit wajah terasa gatal. Karena memang saya memiliki kulit yang sensitif. Kalau udah gini bikin bad mood dan perjalanan jadi nggak asyik. Mau cuci muka dimana kalau sudah terjebak kayak gini?

Itu sih dulu. Sekarang, saya punya pembersih muka andalan yang nggak harus dibasuh dengan air. Namanya Cetaphil Gentle Skin Cleanser. Nggak mengandung busa karena bahan utama dalam Cetaphil adalah Purified water. Tinggal tuangkan Cetaphil ditelapak tangan. Usapkan pada kulit dan gosok dengan lembut. Jika sudah cukup usap atau bersihkan dengan handuk.

Nggak terasa lengket? Nggak. Seperti saya bilang tadi, bahan utamanya terbuat dari Purified water alias air yang sudah dimurnikan. Cetaphil juga soap free yang artinya ketika dipoles kewajah nggak akan ngeluarin busa seperti produk produk lainnya. Mungkin yang terbiasa menggunakan busa akan merasakan sedikit aneh ketika menggunakan Cetaphil pertama kali. Tapi ntar juga terbiasa karena kulit lebih halus dan sehat setelah memakainya.

Karena Soap Free, Cetaphil sangat bagus untuk wajah karena nggak mengandung busa yang membuat kulit kering. Biasanya, nih, ya, kalau pakai produk foam pembersih muka biasa, muka rasanya seperti ketarik karena kelembaban diserap sepenuhnya oleh busa. Kalau pakai Cetaphil muka rasanya lembut, bersih dan kenyal.

Wajah yang berminyak tak nampak keling lagi alias mengkilap. Justru nampak lebih natural. Good news is, Cetaphil tak hanya cocok untuk kulit berminyak seperti saya, produk ini juga cocok untuk semua jenis kulit.

Selain berminyak, kulit muka saya juga sensitive. Kena debu, bakalan gatel dan memerah. Karena sensitive tinggak dewa, jadinya nggak bisa sering sering pakai kacamata hitam. Kenapa? karena bagian kacamata yang nempel di kulit wajah bakalan menyebabkan kulit muka saya jadi gatal. Jadi kalau ada bahan non emas yang menempel dikulit tubuh terlalu lama, kulit bakalan merah dan gatal minta ampun. Itulah mengapa saya nggak pernah memakai aksesoris yang tidak terbuat dari emas. Termasuk kacamata. Makanya, saya jarang banget gunain kacamata hitam. Kecuali klo matahari pas terik banget atau terlalu banyak debu melambai di udara, harus pasang kaca mata.

Nah, sekarang kekhawatiran saya menggunakan kacamata sedikit berkurang. Karena Cetaphil ini termasuk medicated pembasuh muka. Yang artinya sangat membantu kulit yang sensitive biar nggak gatel gatel lagi.

Tak hanya untuk kulit sensitive seperti saya tapi juga membantu kulit lain yang bermasalah seperti kulit berjerawat. Cetaphil ini merupakan produk yang sudah direkomendasikan oleh Dermatologist untuk membantu kulit wajah yang bermasalah. Nggak hanya untuk wajah, Cetaphil juga bagus untuk seluruh kulit tubuh. Mantap!

  • Gunakan Sunblock

Saya sungat suka jalan kaki selusuri kota. Mblusuk nggak jelas tanpa peta. Dan siang hari adalah waktu yang pas menjelajah suatu kota. Dan saya nggak suka pakai payung untuk menghindari paparan sinar matahari siang hari. Capek nian nih tangan jalan jalan selusuri kota, pantai atau bahkan nanjak gunung dengan nenteng payung. Belum lagi ransel di pundak. Ribet minta ampun.

Biar nggak ribet dan tetep menikmati perjalanan serta kulit wajah senantiasa tetap sehat meski terpapar sinar matahari di siang bolong, polesin aja Sunblock. Karena takut hitam? Nggak takut hitam sih tapi takut bintik hitam yang “memaskeri” wajah. Lho, bedanya apa? kalau kulit menghitam alias gosong karena terpapar sinar matahari, bakalan kembali normal atau hilang sekitar seminggu atau paling lama sebulan lah. Tapi klo bintik hitam, nah ini, wassalam. Butuh waktu lama dan butuh perawatan wajah khusus buat ngilangin bintik hitam.

Ini pengalaman pribadi, ya, yang bikin saya nyesal sampai saat ini. Dulu, saking natural-nya, saya nggak mau berbagai macam krim termasuk sunbclok nempel diwajah. Rasanya kayak ada lem nempel di wajah. Saat itu, saya punya pemikiran simple, cuci muka saja sudah cukup.

Lama kelamaan, bintik hitam satu persatu menyapa wajah. Saya pikir bintik hitam ini bakalan cepat pergi, secepat kepergian dia tanpa kata dan menyisakan segunung duka (apaan sih, hehehe). Maksud saya bakalan hilang berbarengan dengan kulit yang menghitam. Eh, setelah saya plototin kulit wajah ternyata tuh bintik hitam tetap setia di wajah (andai saja itu kamu yang selalu setia, eaaaa).

Sebulan, dua bulan, berbagai perawatan tradisional saya coba. Seperti nempelin aneka bubur buah yang saya buat sendiri di wajah. Masker buah dan susu. Saya juga kombinasi dengan krim wajah ‘penghilang’  bintik hitam. Tapi, tuh bintik hitam masih aja nyebelin menodai wajah. Dan butuh waktu berbulan bulan ngilangin. Lelah.

Karena nggak mau kejadian yang sama terulang kembali, setiap kali travelling, bahkan ketika keluar rumah saya selalu apply sunblock. Selain mengindari bintik hitam juga berfungsi menghindari kulit kebakar. Nggak mau kan kulit jadi memerah dan mengelupas (berasa jadi zombie). So, kalau mau jalan jalan baik ke pantai atau naik gunung, jangan lupa gunain sunblock. Inget, Apply sunblock ke kulit wajah 30 menit sebelum jalan.

Kalau bisa gunakan produk dari perusahaan kosmetik yang sama dengan pembersih muka. Kebetulan, Cetaphil juga memiliki produk untuk melindungi kulit wajah sehari hari. Namanya Cetaphil Daily facial Mosturaizer. Yang tak hanya berguna melembabkan juga melindungi kulit wajah dari paparan sinar matahari.

  • Pelembab Bibir

Saya nih punya kebiasaan buruk. Kalau bibir pecah dan kering, bakalan jadi target mainan tangan saya yang memang nggratil. Enjoy banget, ngelupsin kulit kering di bibir satu persatu dan sampai berdarah darah gitu. Apalagi kalau ngelakuinnya sambil ngelamun dalam perjalanan, parah bahkan sampai perih. Kalau dibiarin kulit bibir bakalan menghitam.
Apalagi ketika jalan jalan ke tempat yang dingin. Semakin dingin kawasan semakin kering kulit kita termasuk bibir. Biar kulit bibir nggak kering, segar dan terlihat sexy gunain pelembab bibir.

Lagian nggak susah kok bawa pelembab bibir karena bentuknya yang kecil macam lipstick juga ada dalam kemasan imut juga. Jika kamu suka yang alami, polesin madu tipis tipis ke bibir. Karena madu mampu melembabkan bibir juga bagus untuk menjaga stamina tubuh jika dikonsumsi.

Nah, sudah tahu kan tips tampil segar ala saya saat travelling? Mudah bukan?  banget. Perawatan kulit wajah ini tak hanya saya gunain waktu travelling saja. Dalam kehidupan sehari haripun saya cukup mengandalkan 4 perawatan tersebut. Paling kalau ada waktu luang saya polesin plain yoghurt ke wajah dan saya biarkan kering sambil baca buku. Youghurt membantu kulit wajah tetep kencang dan bercahaya.


Terlihat segar dan menawan saat travelling nggak harus membawa segudang kosmetik dalam ransel. Dengan Perawatan yang baik, kulit wajah akan bercahaya dengan sendirinya. Perawatan kulit lebih penting ketimbang polesan make up. Remember, Less is beautiful. Kecantikan sesungguhnya terpancar dari dalam hati.

#Cetaphil
#Cetaphilindonesia
#Cetaphilid
#Cetaphilexperince

Monday, 20 June 2016

Ratusan Lentera Meriahkan Festival Damar kurung

Damar kurung

Damar kurung yang menjadi salah satu maskot kota Gresik ini adalah sebuah lentera yang dinyalakan warga muslim Gresik sebagai tradisi menyambut malam lailatul Qadar pada bulan Ramadhan

Diantara banyak tulisan tentang India di media, baik tentang wisata maupun budaya, terbesit dalam hati apa yang bisa kamu kamu lakukan untuk negerimu terkhusus kota kelahiran. Tak usah muluk muluk atau nunggu sampai jadi menteri pariwisata, bertutur kata dalam sebuah postingan dan dibaca banyak orang sudah menjadi kepuasan tersendiri. Tinggal diluar negeri jangan lupakan Ibu pertiwi kan ?

Tahun lalu ketika pulang ke tanah air dan bertandang ke kampung halaman, keinginan saya cukup sederhana yakni memperkenalkan kuliner kota Gresik. Seminggu sampai di tanah air, menghirup udara kota kelahiran yang semakin hari semakin panas, saya mulai berwisata kuliner. Mulai dari Nasi Krawu, Lontong Romo, Sego karak, Sego Meniraneka telur Ikan sampe Soto Kikil Manjung. Menuliskan kuliner gresik dalam goresan kalimat yang enak dibaca lalu diposting kedalam blog setidaknya telah menjadi langkah awal memperkenalkan kota Gresik.

Tak hanya kuliner, kota Gresik sendiri memiliki sejarah panjang khususnya sejarah penyebaran Islam di tanah air. Sebagai kota santri, dibulan Ramadhan kota Gresik memilki sederet tradisi. Sebagian tradisi masih dirayakan dengan kemeriahan dan sebagian mulai ditinggalkan. Sebagian tradisi terlupakan, dan bahkan masyarakat asli gresik sendiri justru tidak mengetahui keberadaan tradisi tersebut.

Alhamdullilah, tahun ini berkesempatan pulang ke tanah air. Ingin sekali bisa menggali dan menulis tradisi selama bulan Ramadhan di Kota Gresik. Seperti tradisi Megengan,  Malam selawe, makan kolak ayam, Pasar Bandeng dan puncaknya Lelang Bandeng yang masih dirayakan begitu antusias oleh masyarakat Gresik.

Salah satu tradisi yang luput, bahkan saya sendiri yang lahir dan dibesarkan di Gresik tidak mengetahuinya. Yakni tradisi warga muslim Gresik menyalakan Damar Kurung di teras rumah untuk menyambut malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan. Dan pada saat ini tradisi menyalakan damar kurung semakin meredup. Bahkan sebagian besar masyarakat Gresik tidak mengetahuinya, termasuk saya.

Damar kurung berasal dari kata Damar yang berarti lampu, sedangkan Kurung berarti pelindung atau penutup. Mungkin orang lebih akrab mengenal kata kurungan, yang digunakan sebagai sangkar burung. Jadi, Damar kurung sebenarnya adalah sebuah lentera berbentuk seperti sebuah kurung, bentuk kubus dan dilapisi dengan kertas bergambar dua dimensi.

Damar Kurung yang merupakan seni tradisional kabupaten Gresik saat ini telah menjadi salah satu maskot kota Gresik. Jika berjalan sepanjang jalan kota Gresik, kita bisa melihat damar kurung digantung bersama dengan lampu penerang jalan. Di alun alun dan juga pusat kegiatan warga Gresik biasanya dipajang damar kurung.

Festival Damar Kurung
Lentera Damar Kurung

Festival Damar kurung 2016
berlukiskan 2 dimensi

Dari beberapa literatur yang saya baca di mbah Google, ada beberapa perbedaan tentang sejarah damar kurung. Ada yang menuliskan bahwa damar kurung sudah dikenal sejak Zaman Hindu-Budha. Ada yang mulai sejak zaman pemerintahan Sunan Giri dan terus berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda dan juga Jepang.

Yang unik dari lukisan damar kurung adalah memiliki pola yang pakem. Yakni lukisan dua dimensi yang mengandung unsur sebuah cerita. Baik cerita tentang kehidupan masyarakat Gresik sehari hari seperti kondisi pasar, pasar malam, tradisi Ramadhan, kegiatan tertentu sampai kuliner khas kota Gresik. Gambarnya kecil dan imut mengelilingi keseluruhan kertas, nampak begitu unik.

Festival Damar Kurung

Sebenarnya saya mengenal tradisional seni damar kurung, hanya saja saya tidak mengetahui jika di Gresik ada tradisi menyalakan damar Kurung selama malam Lailatur Qadar di bulan Ramadhan. Rasane pingin nutup muka karo sesek, hehehe.

Nah, dalam rangka melestarikan kembali tradisi dan budaya, setiap tahunnya dibulan Ramadhan di kota Gresik, Jawa Timur  diadakan Festival Damar kurung. Festival ini diadakan sejak tahun 2012. Saya mengetahui adanya festival ini ketika saya googling di internet, saat itu saya ingin mengetahui lebih dalam tentang Damar kurung.

Festival Damar kurung tahun ini berlangsung pada tanggal 17 – 19 Juni 2016. Diadakan di Kampung Kebomas yang berada di Jl.Sunan Giri 3. Ketika mengetahui festival ini berlangsung di Kampung Kebomas, saya mengernyitkan dahi. Sederet pertanyaan menjejali pikiran. Tapi satu pertanyaan besar adalah kenapa di Kampung Kebomas, kenapa tidak diadakan di WEP (Wahana Ekspresi Poesponegoro) atau alun alun Gresik yang notabene merupakan pusat kegiatan warga dan juga berada di jalan protokol utama kota Gresik.

Berangkatlah saya menuju Kampung  Kebomas bersama keluarga saya, Erlita setelah shalat Isya’. Sebuah spanduk besar bertuliskan festival Damar kurung melayang di Jalan utama Sunan Giri. Mengarah masuk ke gang yang tak terlalu lebar.

Festival Damar Kurung

Ratusan damar kurung bergantungan di langit langit Kampung Kebomas. Bagaikan kunang kunang berukuran jumbo berbaris dalam deretan yang teratur. Beberapa tembok milik warga dilukis. Ada yang sedang melukis damar kurung di tembok. Beberapa penjual berjualan di sisi jalan dengan menggunakan meja sederhana. Ada yang menjual baju, sepatu,  aneka kuliner termasuk kuliner khas kota Gresik dan juga souvenir Damar Kurung.
Festival yang sudah memasuki tahun kelima ini bertujuan untuk merajut kembali antusiasme masyarakat meneruskan tradisi memasang damar kurung diteras rumah. Menciptakan pengetahuan dan memproduksi karya baru damar kurung melalui beragam pameran dan workshop.

Terus berjalan menyusuri kampung Kebomas sambil melihat aneka lukisan yang membungkus damar kurung. Sesekali berhenti sekedar mengambil video atau selfie. Damar kurung yang terpajang disini adalah hasil karya anak Kampung Kebomas.

Kaki ini berhenti disebuah rumah bertingkat. Mata ini tertumbuk dengan muka rumah bertuliskan Damar Kurung Institute. Kaca lantai dua terpampang foto sosok wanita tua melegenda, Masmundari. Beliau dikenal sebagai pelukis damar kurung satu satunya di zamannya. Akhirnya, pertanyaan besar dalam pikiran terjawab sudah, Festival diadakan di Kampung Kebomas karena disini terdapat Institute damar Kurung.

Masmundari legenda Damar kurung
Masmundari, Sang legenda pembuat damar Kurung

Saya masuk kedalamnya, sosok pemuda sedang membersihkan sisa kertas yang tadinya dibuat untuk membuat damar kurung. Sebuah lemari kaca bermahkota damar kurung berukuran besar. Menebar pandang ke dinding berlapis karpet hijau tua, terpampang berbagai berita tentang sosok sang  legendaries, Masmundari.

Festival tahun ini, panitia secara khusus mengangkat sosok beliau dalam tema "Dekade Sepeninggal Masmundari". Masmundari sendiri dikenal khalayak umum sejak karya lukisan Damar Kurung dipamerkan untuk pertama kalinya di Bentara Budaya Jakarta pada tahun 1987. Masmundari menjadi legenda hingga detik ini.

Semakin malam peserta semakin membludak. Beberapa pencari warta mulai berdatangan. Acara ini dibuka oleh Noval effendy selaku penggagas festival damar kurung.

Kesenian khas kota Gresik
Noval effendy, penggagas Festival Damar Kurung
Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari bapak Camat Kebomas. Dari sekian banyak sambutan yang beliau sampaikan, ada satu yang tertancap keras dalam pikiran. Beliau berharap festival damar kurung tahun depan bisa didakan lebih meriah lagi. Yakni diadakan di sepanjang jalan utama Sunan Giri. Dan mendatangkan banyak sponsor. Penonton menyambut meriah dengan tepukan tangan. Semoga menjadi kenyataan dan bukan bagian dari janji saja sebagaimana politikus Indonesia saat ini. Aamiin.

Sambutan selanjutnya dibawakan oleh Dewan Kesenian Jawa Timur. Harapannya, festival damar kurung bisa menarik lebih banyak pengunjung, tak hanya dari sekitar Gresik, bahkan dari penjuru nusantara. Dan berharap menjadi agenda Nasional. Dan sebagai penutup, sang legenda sastra Jawa, Budi Palopo melantunkan puisi sastra Jawa dengan apiknya.

Kesenian yang berada di jawa timur

Damar kurung lentera khas kota Gresik

Festival Damar Kurung 2016 di Gresik

Festival Damar Kurung 2016 di Kampung Kebomas

Saya bersama dengan Erlita kembali menyusuri Kampung Kebomas. Mencicipi kuliner, makan pentol sampe mabok, hehehe enak banget soalnya. Rame sekali acaranya, dijejali anak anak, orang tua dan kebanyakan kaum muda. Mereka lebih asyik  selfie.  Acara ini berlangsung sampai jam 11 malam. Tapi mendekati pukul 21.30 kami mengakhiri keseruan ini.

Sampai dirumah, saya gegas menulis tentang festival Damar kurung. Edit video. Dan kemudian upload video festival damar kurung ke NET. Alhamdullilah, hari minggu pagi liputan saya tentang festival damar kurung tayang di Indonesia Morning Show di NET.

Festival Damar Kurung tayang di NET TV
Liputan Damar Kurung di NET TV (dan ini seharunya bukan 4 kali tapi 5 kali festival diadakan)

Bahagia luar biasa, bisa memperkenalkan festival ini khususnya kesenian Damar kurung ke seluruh masyarakat Indonesia. Kedepan, semoga festival damar kurung tak hanya festival daerah tapi juga secara Nasional. Dan menjadi bagian dari pesona Indonesia. Untuk melihat Kemerihaan Festival Damar Kurung yang tayang di NET Klik Disini.

Selanjutnya keinginan terbesar saya adalah memperkenalkan sederet wisata di kota Gresik. Alhamdullilah, beberapa minggu lalu wisata Bukit Jamur  juga tayang di Indonesia morning show NET TV. Semoga kelak menjejak pulau Bawean. Aamiin.


#Damarkurungfest2016
#DekadeMasmundari





Tuesday, 14 June 2016

Kisah Bertemu Dalai Lama Tayang di MyTrip Vol 27



Bagai kisah Cinderella bertemu pangerannya. Kisah perjalanan saya menjelajah Dharamsala hingga bertemu dengan Dalai Lama bermula karena cerita sebuah sepatu. Ya, ketika saya sedang asyik menyusuri pertokoan di kawasan Mcleodganj,Dharamsala tetiba seorang biksu bergegas menghampiri saya. Beliau kemudian bercerita tentang sepatunya. Cerita kemudian berlanjut hingga akhirnya saya bertatap muka, bersalaman dan mendengarkan petuah dari Sang Dalai lama.


Seperti apa cerita serunya? Baca kisahnya di majalah My Trip Vol.27/2016

Tuesday, 7 June 2016

Menyaksikan Keseruan Amazing Race di Humayun’s Tomb

Humayum’s Tomb

Jauh sebelum dunia mengenal Taj Mahal sebagai lambang keabadian cinta. Di Negeri Shah Ruk Khan ini, ada sebuah bangunan bersejarah yang memiliki kesamaan kisah dengan Taj Mahal. Bahkan, dibangun jauh terlebih dahulu sebelum Taj Mahal.

Humayun Ka Magbara atau lebih dikenal dengan nama Humayun’s Tomb terletak di Ibukota India, New Delhi. Jika Taj Mahal dibangun oleh sang kaisar dan dipersembahkan untuk permaisuri tercinta. Sebaliknya, Humayun ka Maqbara, dibangun oleh sang permaisuri dan dipersembahkan untuk sang kaisar tercinta.

Humayun ka Maqbara merupakan tempat peristirahatan terakhir seorang kaisar era kekaisaran Mughal di India yang bernama Nasir Ud-din Muhammad Humayun, lebih akrab dengan nama Humayun. Beliau sendiri tak lain adalah kakek buyut dari Kaisar Shah Jahan, sang pendiri Taj Mahal. Wah, ternyata para pesohor di zaman kekaisaran Mughal bukan hanya handal dalam taktik peperangan, tapi juga romantisme cinta mereka.

Humayun ka Maqbara dari apartemen saya tinggal saat ini berjarak sekitar 10 KM. menggunakan kendaraan pribadi memakan waktu sekitar 20 menit, termasuk macet dan segala tetek bengek keriuahannya. Shah Jahan bergegas menuju loket. Sementara saya dan Najin asyik menunggu digerbang pintu masuk. Tiket masuk wisatawan asing senilai 250 rupees atau sekitar Rp. 50.000 sudah ditangan. Kaget, karena tiket masuk mengalami kenaikan sebesar 150 %, dulu cuman 100 Rupees.

Selain Qutub Minar dan kawasan Old Delhi, Humayun’s Tomb ini  juga merupakan salah satu tempat yang sering kami kunjungi ketika kami tinggal di Delhi. Tapi, semenjak tiket masuknya naik sebegitu banyak, saya jadi jarang datang kemari (curhat mode on). Apa yang membuat kami sering datang kemari? Baca sampai habis!

Melewati petugas keamanan yang dilengkapi dengan pistol laras panjang. Saya diminta untuk membuka dan memperlihatkan isi tas, petugas melakukan pengecekan dan mengambil snack yang berada dalam tas. Pengunjung dilarang membawa makanan, aturan ini diperlakukan untuk menjaga kebersihan tempat yang masuk dalam World Herritage UNESCO.

Menapakkan kaki menuju komplek makam Humayun, sayap kanan kiri terlihat sederet bangunan tua nan unik. Kami menuju sayap kanan terlebih dahulu, disana menghampar makam dan Masjid Isa khan.

Reruntuhan pintu gerbang memasuki Masjid Isa Khan mengisyaratkan usia renta bangunan. Pintu gerbang menyatu dengan lingkaran tembok kokoh memeluk Makam dan Masjid Isa Khan. Beliau adalah seorang utusan pada masa kejayaan Dinasti Islam Sher Shah Suri. Dibangun pada abad ke 15.

Melewati undakan dan berada di pintu gerbang. Sebuah bangunan berbentuk mirip mahkota raja ala Eropa terhampar didepan mata. Bangunan makam dan taman serasi berbentuk octagonal. Diatasnya terdapat sebuah kubah besar dikelilingi sepuluh Chattris imut dan cantik. Chattris ini semacam kubah disanggah empat pilar yang menjadi ciri khas bangunan di India. lengkung pilar batu besar nampak kokoh menyanggah atap kubah dari setiap sisinya.

Sesaat mata saya tertumbuk dengan tenda besar besar disebelah kiri. Duduk wanita bule dengan beberapa kamera besar, kabel dan box box besar. Pikir saya, mungkin lagi ada shooting film. Sementara diujung tenda ada dua lelaki bule saling berpelukan gembira dengan wajah dan baju penuh warna bubuk holi. Nah, dua cowok ini pakai ransel super gede.

Saya mengenyitkan dahi, kira kira film Hollywood apa yang lagi shooting disini?. Dua wajah bule tersebut juga  nggak terkenal. Tapi cakep meski wajahnya penuh bubuk Holi. Baiklah, saya jalan cantik aja, siapa tahu produser lihat tampang kece saya dan meminta jadi aktris pemeran utama *benerinjilbab. Saya abaikan mereka, toh saya juga sudah terkenal di Indonesia sebagai emak mbolang yang baik hati dan selalu ceria *plakkk.

Sebelum memasuki bangunan utama Isa Khan, terlihat dua lelaki duduk dikursi dengan kamera didepannya. Sementara lelaki lain yang menginterview berada didepan, agak kesamping. Sementara tiga buah kamera besar berada di sisi depan dan samping. Disini, saya teringat, kayak sesi interview program kesukaan saya, Amazing race. Inget kan, setiap session mereka selalu menceritakan perjalanan mereka.

Saya tidak memperhatikan baik baik, saya langsung masuk kedalam bangunan utama. Didalam terhampar batu nisan Isa khan dan kelima anggota keluarganya. Asyik melihat Mighrab yang dihiasi ukiran ayat suci Al Quran. Tiba tiba Gerakan bayangan melayang diatas kubah, jantung saya berdetak kencang dan ingin rasanya berlari kencang. Astaghfirullah. Ternyata, diatas lengkung jendela, beberapa burung dara terbang kesana kemari. Ada ada saja, serasa jantung ini mau copot. Sementara Najin merasa tak nyaman didalam.

Tak lama berselang, saya memutuskan keluar. Terlihat dua lelaki bule, yang ini nggak pakai serbuk holi dibadannya. Mereka terlihat tergesa gesa. Kemudian memeluk wanita India dan mengucap terima kasih. Sementara cameraman dengan kamera gede di bahunya ikut berlari bersama mereka. Wah, tak salah lagi nih, pasti Amazing  Race. Eh, tapi mereka kok nggak berbicara bahasa inggris, ya. Ui ui ithuty zhfjzhyau ishkhui, emboh ngomong opo.

Di sisi barat makam berdiri Masjid Isa khan. Masjid tipe terbuka ini memiliki tiga buah kubah. Hanya bagian mighrab depan yang tetutup kubah, pelatarannya terbuka beratapkan langit.


Humayun ka Maqbara
Dekoasi Islami di Langit langit makam Isa Khan

Humayum’s Tomb
Makan Isa Khan bersam keluarganya

Isa Kham tomb
Masjid Isa Khan

Beranjak meninggalkan komplek Isa Khan, didepan terdapat Bu Halima Tomb. Bentuk bangunan mirip dengan Hamam yakni tempat mandi para Kaisar, tapi dilengkapi dengan undakan. Saya perhatikan bentuknya mirip dengan panggung pertunjukkan tapi terbuat dari batu. Berdampingan dengan Bu Halima Tomb terdapat gerbang putih menjulang yang menghantarkan menuju Humayun Ka Maqbara atau Humayun’s tomb.

Sesampainya di gerbang putih, kami masih harus berjalan menuju gerbang utama. Disebelah kanan, sebuah pintu gerbang yang bentuknya lebih kecil, tertulis Arab sarai. Kami putuskan untuk menuju makam Humayun terlebih dahulu dan menelusuri keseluruhan komplek setelahnya.

Gerbang utama masih berjarak sekitar 100 meter dari gerbang putih dimana saya berdiri saat ini. Dari kejauhan, gerbang utama setinggi 16 meter nampak kokoh dan menawan. Terdiri atas dua lantai berhias 4 lengkung jendela dengan pintu utama ditengahnya. Dua menara cantik berada diujung atas kanan dan kirinya. 

West Gate (gerbang sebelah barat) keterangan yang tertulis dalam sebuah batu berbentuk persegi sebagai informasi bagi wisatawan. West gate ini adalah satu dari tiga gerbang memasuki Humayun’s Tomb.  

Sampai di pintu gerbang, mata hati mendadak romantis melihat landskap pesona kecantikan makam Humayun. Mata ini disuguhi sebuah bangunan megah bak Istana kerajaan berdiri diantara taman rerumputan hijau. Mengalir air sepanjang mata melihat, membentuk kolam dan air mancur ditengahnya.

Lengkung pintu gerbang membingkai cantik landskap bangunan dalam jepretan kamera. Makam yang didirikan pada tahun 1565 diprakarsai oleh sang permaisuri bernama Hamida Banu Begum. Sepeninggal suami tercinta, beliau merasakan kepedihan yang mendalam. Terselip dalam benak beliau, membangun sebuah tempat untuk merenung serta mengenang segenap cinta dan kasih sayang bersama sang raja.


tempat tempat wisata di Delhi
West gate pintu Gerbang utama menuju Huamyun ka maqbara

Hamida Banu Begum akrab dikenal dengan Bega Begum mulai membangun makam sekembalinya beliau dari Ibadah Haji. Tepat delapan tahun sepeninggal sang Kaisar. Terinspirasi deskripsi surga di dalam Al Qur’an. Mirak Mirza Ghiyas sang arsitektur, mendesign makam sang Maharaja dilengkapi dengan taman dan aliran air.

Saya perhatikan, design dan arsitektur bangunan bagaikan gabungan antara design istana dan Masjid. Terdiri atas dua lantai, dilengkapi dengan kubah putih besar diatasnya. Dikelilingi 4 buah Chattris warna putih dan 8 Chattris mungil warna biru. Chattris ini semacam kanopi berbentuk kubah kecil dengan empat buah pilar penyanggah, sebagai ciri khas bangunan zaman kekaisaran Mughal atau bangunan India lainnya.

Kami lanjutkan langkah kaki menuju bangunan makam yang didominasi warna merah bata dan marble putih ini. Berjalan sepanjang aliran air yang membelah taman ini, bagaikan ‘karpet merah’ menuju istana. Ditengahnya sebuah kolam dengan air mancur memantulkan bayangan kecantikan makam dalam air. Sejenak saya berhenti, mengabadikan panorama Indah ini dalam lensa kamera.

Setelah puas megambil gambar, saya melanjutkan tapak kaki menuju pelataran makam. Dilanjutkan melewati lima buah anak tangga batu menuju lantai dasar. Bangunan lantai dasar ini berbentuk octagonal, dihiasi deretan lengkung pintu. Dengan Jajaran pilar penyanggah berwarna merah bata serasi berpadu padan dengan lengkung pintu warna putih.

Melanjutkan tapak kaki menuju ke lantai dua. Pintu berukuran jumbo terbuat dari kayu tua dan tebal siap menyambut didepan anak tangga. Takut jatuh, saya berjalan perlahan melewati puluhan anak tangga dengan kemiringan 45 derajat ini.

Wah, lega sekali ketika sampai di lantai dua. Dihadapan saya, bangunan bertingkat berbentuk octagonal didesign artistik dengan ornamen Islami berdiri dengan eloknya. Dari lantai dua ini, terlihat pintu gerbang disebelah Utara dan Selatan lengkap dengan taman dan aliran air. Di sisi utara (sebelah kiri tangga) pelataran lantai dua ini, tehampar beberapa batu nisan.
Humayum’s Tomb

Delhi Sightseeing


Batu nisan berusia ratusan tahun ini nampak tua dan kusam. Tidak tertulis, makam siapa yang bersemayam didalamnya. Kami memutari bangunan untuk menuju kedalam bangunan utama. Gaya arsitektur persia ini memiliki design asimetris. Jadi dilihat dari sisi manapun, bangunan nampak sama. Sungguh, sebuah mahakarya arsitektur yang luar biasa.

Melewati pintu masuk, sebuah dekorasi unik menghias langit langit. Berbentuk melingkar berhias pahatan bebatuan warna warni dengan bentuk geometry mirip batik. Serasi berpadu padan dengan design garis dan bunga ditengahnya.

Sebuah batu nisan persemayanan kaisar Humayun berada tepat ditengah bangunan. Batu nisan terbuat dari batu marble putih. Diatasnya, menggantung sebuah lampu hias tua berusia ratusan tahun. Dindingnya bertingkat dihiasi lengkung lengkung jendela.

Dalam bangunan berbentuk octagonal ini terbagi menjadi 4 ruangan yang berada disetiap sudutnya. Setiap ruangan menaungi 3 atau 4 persemayanan batu nisan. Ruangan satu dengan yang lainnya terhubung dengan sebuah lorong panjang berbentuk persegi. Salah satu makam dalam ruangan ini adalah makam sang permaisuri Banu Begum.

Saya perhatikan, semua batu nisan terpahat tulisan ayat suci Al Qur’an, Subhanallah. Dan disetiap ruangan terdapat Mighrab yang dibuat dengan design menerawang menunjukkan arah kiblab. Hal ini menunjukkan sisi religius para penguasa Islam kala itu.


Taj Mahal in Delhi


Puas berkeliling dan memperhatikan detail bangunan dan makam, kami turun melalui tangga sebelah selatan.  Menuju salah satu sudut taman, disana berdiri Nai-ka-Gumbad atau Barber’s Tomb. Tidak tertulis dalam sejarah, makam siapakah yang berada didalamnya. Hanya bertuliskan makam seorang laki laki dan seorang wanita.

Bangunan ini nampak mungil, cantik, unik dan juga misterius. Dilengkapi dengan kubah besar diatasnya dan empat buah Chattris cantik warna biru. Mendekati bangunan, membuat bulu kuduk saya berdiri. Selain tempatnya yang nyempil diujung taman, sekelilingnya dipenuhi dengan pohon rindang, tampak sunyi dan sepi.

Lelah berkeliling dan menyusuri gerbang dan taman komplek. Kami duduk santai diatas rumput hijau disalah satu sudut taman. Nyaman sekali, kami rebahan sambil menikmati landskap makam berhias pohon palm menjulang. Sesekali wefie. Bukan hanya kami, beberapa wisatawan manca negara terlihat duduk bersantai, membaca buku, ngobrol hingga tertidur pulas, seolah olah enggan beranjak dari taman surgawi ini.


Humayum’s Tomb
Barber's Tomb
Sisi taman lain dihadapan kami menjadi lokasi shooting amazing race. Digunakan sebagai pit stop utama. Deretan kamera jumbo, kamera lengkap dengan roda, lampu lampu, salon, box box besar. Kamera  tersorot pada dua sosok lelaki yang saya jumpai di Isa Khan tadi. Mereka sedang asyik bercengkrama dengan pembawa acara didampingi wanita India dengan mengenakan Saree.

Bendera bendera bergaris khas amazing race tergantung disekitarnya. Saya saksikan dengan seksama. Eh, kenapa pembawa acaranya bukan mas Phil, ya. Yang ini beda, lebih cakep dan muda *pasangkacamata. Teringat peserta yang tadi saya temui tidak menggunakan bahsa Inggris, saya pikir mungkin ini amazing race negara lain.

Ternyata, ya, kalau kita lihat amazing race biasanya peserta lari kenceng ke Pit Stop. Eh, ternyata ini diatur juga. Hehehe mesti yang lain dah datang, lainnya harus nunggu interview di Pit Stop.

Begitu juga ketika selesai, mereka tak langsung pergi melanjutkan perjalanan. Setelah pergi, shoot, eh mereka balik lagi buat istirahat dan bincang bincang, kirain selama ini langsung mlencing kemana gitu.

Nah, ini. Yang bikin saya Ge er kelangit ketujuh. Setelah duduk santai, kami putuskan balik ke apartemen. Sejenak saya menatap area shooting lebih dekat. Posisi saya berada di belakang perserta amazing raze, otomatis pembawa acara berhadapan dengan saya. Alamak cakep banget. Kok kayaknya si pembawa acara menatap kecakepan saya terus menerus, ya . Duh jadi salah tingkah. Hahaha ojok Ge er.

Kami balik melewati gerbang yang sama. Kami berjalan santai sambil ngobrol. Tetiba didepan kami melintas sesosok lelaki dengan membawa kamera gede plus Tripod. Shah Jahan memulai pembicaraan. Oh, ternyata mereka ini amazing race dari Israel. Di negaranya judulnya bukan amazing race tapi HaMerotz LaMillion. Setelah saya baca di internet mereka lagi shooting HaMerotz LaMillion session lima.


Shooting amazing race

Amazing race Israel

Humayum’s Tomb


Didekat gerbang putih arah pintu masuk, terdapat gerbang Arab Sarai (urdu) berarti losmen atau hunian. Ketika makam Humayun dibangun, Bega Begum mendatangkan ratusan imam dan juga ahli kaligrafi batu dari Jazirah Arab. Diarea inilah mereka tinggal dan dimakamkan. Saya masuk kedalam sendiri, sementara Shah jahan dan Najin menunggu diluar.

Memasuki arab sarai, suasana nampak sepi. Tidak banyak wisawatan yang memasuki area ini. Mereka cukup mengintip dari pintu gerbang dan segera berlalu. Selain tempatnya yang kurang terawat, juga banyak batu bangunan sisa renovasi berserakan disana sini.

Meskipun saya sempat ragu, tapi rasa penasaran memantapkan langkah kaki menelusurinya. Masuk kedalam, disebelah kanan terdapat Hamam, sebuah bangunan berbentuk kotak persegi setinggi badan berfungsi sebagai tempat pemandian kala itu. Disebelah kiri, nampak  berdamping sebuah bangunan makam dan Masjid Afsarwala.

Nila Gumbad
Nila Gumbad adalah makam dari Miyan Fahim. Berbeda dengan tempat tampat lainnya yang masih berada di komplek Humayun’s tomb yang dikelilingi pagar batu. Nila Gumbad berada ditengah persimpangan jalan raya menuju komplek Humayun. Keunikan dari Nila Gumbad, terletak pada warna kubahnya yang berwarna biru, Nila (urdu) yang berarti biru.


Tempat wajib dikunjungi di Delhi
Humayun Ka Maqbara
Keseluruhan komplek Humayun ka Magbara memang luas sekali. Pada waktu itu, untuk membangun komplek makam, sang permaisuri menghabiskan uang sekitar 1,5 juta rupees atau sekitar tiga ratus juta rupiah. Wow, nilai yang fantastik pada zaman itu. Hal ini juga menjadi bukti, bahwa cinta tak ternilai dengan uang.

Sebagai seorang wanita, saya kagum dengan ketulusan dan kebesaran cinta Bega Begum kepada suaminya. Cinta yang tak lekang oleh ruang dan waktu. Bahkan ketika maut memisahkan, segenap cinta yang tertanam, tertumpah dalam ‘istana’ taman makam surgawi, Humayun Ka Magbara