Red Fort - Megahnya Istana Mughal

12:34:00

Red Fort
Red Fort merupakan salah satu bukti Kejayaan dan kedigjayaan Kerajaan Mughal di subkontinent delhi. Begitu jayanya, bisa kita jumpai seantero India bahkan Pakistan beberapa Istana Jejak peradaban Islam di India. Sekarang zaman telah berubah, mengelayut kehidupan mengejar materi, teknologi telah merubah cara hidup bersosialisasi, mengubah yang dekat menjadi jauh dan menjauhkan yang dekat. Di zaman yang extra modern, kaum muda menentukan pilihan,mau jadi apa dan dengan siapa mreka akan menghabiskan sisa hidupnya, tapi tidak Di negeri Hindustani. Negara yang maju karena outsourcing dan kemajuan teknologi Informasi ini, masih menganut sistem “arrange married”, orang tua masih berperan utama dalam mencari dan menentukan pasangan hidup buat anak anak nya, Bahkan banyak website yang meyediakan pencarian calon suami/istri. Apakah seorang anak tidak berhak menentukan pilihan mreka sendiri? Mungkin hanya sedikit. Apakah cewek dan cowok India nggak kenal pacaran? Tidak, mreka kenal pacaran. Kenapa mreka masih menganut sistem arrange married? Adat, itulah jawaban yang tepat . Diantara modernisasi adat masih dipegang sangat kuat dan menjadikannya sendi kehidupan. Bahkan didalam kehidupan mreka, masih mengenal sistem kasta. Kasta tertinggi adalah brahma dan kasta terendah adalah sudra. Sebuah ‘tingkatan’ sosial taraf kehidupan seseorang, manusia dibedakan, manusia diasingkan, manusia diihat dari kedudukan yang “ditentukan” oleh ‘adat’ manusia, meski mreka mempunyai 2 mata yang sama, 2 tangan yang sama dan 2 kaki yang sama tapi mreka berbeda tingkatan, berbeda hak dan berbeda taraf kehidupan.
The Great Red Fort
Masih teringat dalam memori otak ini, menyusuri jalanan kota Delhi, yang notabene adalah  Ibu kota Negara India, masih banyak kita jumpai pengemis di tepi jalan, di perempatan jalan, tenda yang dibangun sementara di tepi jalan untuk hidup, dengan baju berhiaskan debu setebal 10 cm, wajah berbedak asap dan rambut berkuncir pasir, berat bukan? Sungguh mengiris dada, sudah cukupkah pemandangan yang hampir mirip kita jumpai di negeri kita sendiri? Tidak. Suatu saat ketika menyusuri sebuah jalanan,terhenti langkah kaki ini ketika melihat seorang anak berusia 2 tahun, tanpa baju ditepi jalan yang berdebu, dengan lalu lintas kendaraan yang padat, dia membantu ibunya untuk memecah batu untuk sesuap nasi. Jujur, saya pun seorang ibu, saya percaya jauh dilubuk hati sang Ibu,dia tidak tega melihat anaknya harus besar dijalanan berdebu, dia pasti mempunyai impian yang besar untuk anak anaknya, berusaha dan berdoa, bahwa suatu saat kehidupan pasti akan berubah menjadi Indah.


Setiap kali berjalan menyusuri kota ini, melihat orang berkelahi dan beradu mulut adalah hal yang biasa, sekeras inikah kehidupan di negeri ini?. Di layar televisi, akan selalu ada berita tentang seorang wanita yang bunuh diri, melarikan diri atau dianiaya oleh suami dan keluarga suami hanya karena dowry atau mas kawin. Di India mas kawin diberikan oleh seorang perempuan kepada calon suami, dan rata rata nilai dowri ditentukan oleh pihak calon suami yang nilainya sangat lah banyak. terkadang seorang ayah rela menjual semua harta benda untuk perkawinan anak perempuannya agar tidak mengecewakan, agar tidak terjadi masalah setelah menikah. Sungguh berat kehidupan ini, itulah mengapa, bayak terjadi kasus aborsi di negeri ini, bukan karena hamil duluan, tapi karena diketahui bahwa jenis kelamin anaknya perempuan. Melahirkan seorang anak perempuan bagaikan sebuah musibah. Begitu kompleknya keaneragaman dan permasalahan di negeri ini, tapi semua itu tidak menghapus keindahan dan kebesaran negeri ini, 1001 cerita indah yang tak akan lengkang oleh waktu, merubah diri menjadi lebih baik, lebih dewasa dan lebih menghormati adat suatu bangsa. emak akan selalu merindukan kicauan burung di pagi hari, burung gagak berterbangan kesana kemari, bau daun menyapa pertanda musim dingin datang, bau dupa dimana dimana, warna baju yang ngejreng, mahendi,saree, kuil kecil setiap langkah dan pohon, suara gelang bergemerincing, autoriksaw dan tatapan mata elang.



You Might Also Like

0 comments

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram