Running Like A Crazy To Manali

11:41:00


Di tengah kegelapan malam terminal antah berantah kami menunggu bus yang tak pasti

Manali, salah satu wilayah tujuan dari perjalanan Emak menjelajah Himalaya. Yakni Khasmir – Dharamsala – Manali dan Shimla. Emak kagak sendirian tapi sama LOL Backpacker’s. Rani (yang lagi memelas di foto atas ), Fery, Wilson, Lamda dan Jerome.

Setelah menikmati kedamaian Dharamsala. Penjaga hotel menanyakan kepada kami tujuan selanjutnya. Dengan santai kami jawab Manali. Kemudian dia menawarkan tiket menuju Manali dengan menggunakan Volvo bus nyaman seharga 650 Rupees dari Mcleodganj bus terminal. Bagi kami harga tersebut lebih mahal ketimbang bus HTCP dengan harga 400 Rupees. Kami menolaknya dengan halus dengan mengatakan bahwa kami sudah punya tiket bus menuju Manali.

Kami datang ke kantor loket pemesanan  tiket bus HTCP (Himachal Pradesh Transportation Corporation) di kawasan The Mall di Mcleodganj. Mereka bilang, kami tidak harus membeli tiket di loket, bisa langsung membelinya di terminal Dharamsala. Jadwal keberangkatan sore hari dan terakhir jam 9 malam. Akhirnya kami habiskan siang itu dengan menjelajah kawasan lain yang belum sempat kami datangi.

Sorenya, kami bergegas menuju terminal Dharamsala.  Dari Mcleodganj (kawasan tempat hotel kami menginap)  kita menggunakan taksi dengan charge 300 Rupees. Berarti share cost 100 Rupees/ orang. Jarak Mcleodganj ke terminal Dharamsala sekitar 7 KM. Sampai di terminal Dharamsala kita cari tuh loket HTCP. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Si Bapak di loket HTCP bilang kalau tiket langsung beli di bus. On the spot, kagak pakai reservasi dan nomer seat.

Kami say good bye sama teman kami si Jerome dari Singapura. Dia kagak ikut ke Manali. Tapi langsung menuju Shimla. 

Satu, dua, tiga jam nggak ada bus ke Manali yang datang. Sementara waktu sudah nunjukkin jam 7 malam. Menurut si bapak di loket HTCP, ada 3 bus dijadwalkan menuju Manali. Tapi hingga jam 7 malam kagak ada bus sama sekali.

Galau, antara melanjutkan ke Manali atau langsung ke Shimla saja. Karena ada beberapa bus yang langsung menuju Shimla.  Emak tanya ke temen temen. Bro sist, gimana? lanjut apa langsung ke Shimla? skip Manali kah?. Bagaimanapun kita jelajah bareng dan harus ada kesepakatan bersama. Mereka setuju kita langsung ke Shimla dengan catatan menunggu bus hingga titik darah penghabisan J. Maksudnya nunggu jadwal bus paling akhir yakni jam 9 malam.

Satu persatu bus mulai pergi. Suasana mulai lengang dan gelap. Sementara dinginnya kota Dharamsala mencubit kulit Brrrr. Di terminal, hanya ada orang yang senasib sama kita. Menunggu bus ke Manali. Tetiba orang orang yang duduk sama kita lenyap dari pandangan mata. Ternyata mereka menunggu di tempat bus ngetem.

That bus to Manali” Kata bapak petugas diterminal sambil menunjuk kearah bus yang datang. Alhamdullilah bus sudah datang. Kami segera berlari menuju bus. Ampun! tuh bus sudah penuh. Sementara masih banyak penumpang yang antri. Diantara lampu temarang yang redup disertai bau urine manusia. Kami hanya bisa memperhatikan adegan desak desakkan menuju bus. Meski sudah nampak penuh dan banyak yang berdiri, penumpang tetep maksa masuk kedalam bus.

Kepikiran ide gila macam film Bollywood. Naik diatas bus. Bareng sama tumpukan tas penumpang J. Ide gila yang bikin kami menggigil kedinginan dan terjatuh ke jurang. Kami cancel, kami masih normal dan berpikir jernih.

Kami kemudian bertanya kepada salah satu petugas di terminal. Dia jawab, bahwa Kami masih punya alternatif lain. Yakni dengan cara estafet. Menggunakan bus menuju Shimla dan turun di kota Kangra. Kemudian dari sana melanjutkan bus menuju Manali. Dia bilang, jadwal bus terakhir menuju Manali dari Kangra jam 11 malam. Kami sepakat menunggu bus tersebut. Meski kami tak tahu dimana itu Kangra dan situasi seperti apa yang bakalan kami hadapi. Titik darah penghabisan!.

Waktu menunjukkan jam 10 Malam ketika bus menuju Shimla tiba. Tak ingin kejadian yang sama terulang kembali, kami segera berlari. Untung, bus menuju Shimla tak banyak penumpang. Kami masuk dengan rasa lega.

Waktu duduk santai dalam bus. Si Fery colek emak. “Eh mbak, dibelakang kita ada bapak yang jaga hotel. itu tu bapak yang nawarin kita tiket langsung ke Manali”. Wah, emak kaget dan spontan menoleh kebelakang. Nampang muka manis manja group.

Si bapak tanya “Looo bukannya kalian mau ke Manali, kenapa naik bus ke Shimla”. Kita jawab seadanya, bahwa kita menuju Kangra, karena kami ketinggalan bus menuju Manali. “Looo, katanya kalian sudah dapat tiket bus? “ kami pun hanya terdiam. Dalam hati emak berkata “Kami hanya backpacker dengan budget muepet kesrempet” L . Maaf.

Dengan baiknya si bapak jelasin. Kalau dia mau pulang kampung. Rumahnya di Jammu. Beliau akan turun ke Kangra dan lanjut ke Jammu. Wah, kebetulan sama sama menuju Kangra. Sampailah kami di Kangra. Diterminal kami berbincang dengan si bapak hingga bus menuju Jammu datang. Semua penumpang telah pergi yang tersisa hanyalah kami.

Terminal Kangra yang kecil, sepi dan gelap. Dari kejauhan nampak redup lampu orange penerang jalan. Deretan toko mulai tutup. Sampah berserekan dan terbang dihembus angin. Lolongan anjing menemani kami. Menghilangkan ketegangan, kami hanya bisa bercanda. Duduk dilantai terminal yang super duper kotor dan hitam L. Sesekali hembusan aroma urine menyapa hidung kami. Sementara udara dingin membalut kulit. Pasrah antara ada dan tiada bus menuju Manali.

Jam 11 malam, bus tak kunjung tiba. Kami tetap sabar menunggu dan mentertawakan nasib kami sendiri. Lagi asyik bercanda, bus menuju Manali akhirnya datang. Alhamdullilah.....kami segera loncat menuju bus dengan ransel jumbo kami. Kondisi bus yang sangat memprihatinkan. Jauh dari kata nyaman. Kelelahan, kami tertidur sepanjang perjalanan. Hingga sampai di Manali ketika Sang mentari menyapa Bumi J.

Seolah tak kenal lelah. Dan terlupa dengan kejadian semalam. Kami langsung jelajah Kota Manali Surga di lereng Himalaya dan Solang Valley. Keesokan harinya lanjut menjejak Marhi. Perjalanan dari Manali menuju Marhi lebih menggigit lagi. Kami meneguk ganasnya cuaca Himalaya. Menjejak Marhi- The Himalaya Chain.


Marhi - Snow Point


Solang Valley

Dari perjalanan ini emak belajar satu hal. Jangan berbohong kepada siapapun. Harusnya kami menolak dan mengatakan yang sebenarnya kepada si bapak yang baik hati bahwa kami lebih memilih menggunakan bus pemerintah. lebih murah. pingin Adventures J.  India nggak segarang itu, masih segunung manusia baik hati yang selalu siap membantu.

Perjalanan selalu mengajarkan kebajikan, tergantung bagaimana kita menyerap inti sari perjalanan dalam kehidupan.

Happy Mbolang J

You Might Also Like

6 comments

  1. Suka quote terakhirnya.. Perjalanan selalu mengajarkan kebajikan, tergantung bagaimana kita menyerap inti sari perjalanan dalam kehidupan. Dan sudah seharusnya, semakin banyak berjalan, akan semakin bijak.. Bukan sebaliknya.
    Thanks for this nice story, mbak :)

    ReplyDelete
  2. #LOL
    Hampir aja jadi gembel di negri antah berantah Kangra. Kalau saja kita gak dpt bus ke Manali malam itu mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha nggak mbayangin gembel di Kangra. Pingsan karena terlalu banyak 'menghirup' aroma 'segar' urine :))

      Delete
  3. Aku ngebayangin naik di atas bus. Trus nari2 kayak di pilem India. Btw, bener2 penuh petualangan ya, Zulfa. Keren. ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun mbak Ira :) Aku sakajane yo ngebayangin ngunu mbak. Koyok nang film2, gleyot gleyot nang ndukure bus. hahaha Berhubung adem polll karo dalane sing terkenal curam tanpa penerangan jalan. Dadi mundur perlahan. :)

      Delete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram