Wajah Kathmandu

June 06, 2020



backpacking ke Nepal

Ketika roda kendaraan meninggalkan bandara seketika itu pula diri ini terseret memasuki masa lampau, menawarkan romansa jadul yang menghangatkan jiwa


Tangan menggandeng erat Najin. Diikuti mbak Andri di belakang kami. Berjalan menuju pintu keluar bandara. Mata menebar pandang, menatap sekeliling luar Tribhuvan International airport. Kerumuman menyapa. Teriakan menawarkan taksi dan juga hotel terdengar riuh.

Di antara kerumuman, sesosok lelaki melambaikan tangan dan tersenyum manis. Berwajah mongolid, putih pink berpakaian rapi sambil menunjukkan sebuah kertas tercetak manis nama lengkap saya. Ya, sebelumnya saya telah booked hotel sekaligus meminta dijemput di bandara. Saya tersenyum balik dan berjalan santai menuju padanya.

“Welcome to Nepal” ucapnya. Kami berkenalan. Dia mengatakan mengenali kami secara langsung dari Indonesia karena kerudung yang saya kenakan. “Thank you” ucap saya menimpali. Sambil mengobrol, kami berjalan menuju tempat parkir bandara.

Sebuah mobil van putih menunggu disana. Pintu mobil terbuka dan “Hai, welcome to Nepal” Sapa seorang berwajah manis dari dalam mobil. Hitam manis, hidung mancung, ada belahan di dagunya, bermata coklat dan rambut hitam tebal. Nggak nyangka bakalan dapat sopir secakep ini.

Keduanya, staff hotel dan sopir menjadi gambaran wajah sebagian besar penduduk Nepal. Ada yang berparas etnis mongolid. Dan ada juga yang berwajah India. Banyak pula yang berwajah kombinasi keduanya. Keragaman yang menunjukkan letak Nepal yang berada di India dan Tibet.

Sopir manis mengenalkan namanya dan saya mengenalkan dengan nama panggilan “I am, Zulfa”. Najin menyambar dengan secepat kilat  “Hai, this is My beautiful motta Ammy”. Kalau di bahasa Indonesia seperti ini “ Hai, ini Ammy ku yang cantik dan gendut”. Wajah saya otomatis bersemu merah. Antara jengkel dan pingin ngakak, mata saya langsung melotot menatap Najin. Dianya malah ketawa nakal. Sopir dan pegawai hotel mengumpat senyuman mendengar ucapannya. “So boy, what’s your name? you can speak Hindi? “ Sebagian besar masayarakat Nepal bisa berbahasa Hindi.

Roda kendaraan meninggalkan bandara menuju pusat kota. Menyeret diri memasuki masa lampau. Sesaat tiada beda antara Nepal dan India. Menawarkan romansa jadul yang kental terasa. Debu jalanan menari di udara. Banyak kabel menjuntai dan bersilang tak beraturan. Tak banyak gedung tinggi. Yang membedakan adalah aroma. Ya, India menghadirkan aroma dupa pekat di udara.





Pakaian sehari hari wanitanya hampir sama dengan di India. Sebagian besar wanita mengenakan setelah salwar suit dengan selendang bermotif senada. Bindi, lingkaran merah penghias dahi, pertanda sudah menikah bagi seorang wanita. Aksesoris gelang dan kalung juga sama. Tapi tak banyak yang mengenakan saree.

When I knew you are from Indonesia I am so happy” ucap sopir menghentikan lamunan mata mentap jalanan Kathmandu. Saya membalas dengan senyuman memunculkan rasa penasaran. “When earthquake struck, Indonesian arrive quickly, helping us a lots, We really really appreciate it”. Sebagai warna negara Indonesia, tentu saja saya bangga mendengarnya.

Kami datang 11 bulan kemudian, setelah Nepal dihantam gempa bumi berkekuatan 7,8 skala richter. Getarannya kuat terasa hingga Ibu kota India, New Delhi. Tempat saya tinggal kala itu. Tak hanya India, getaran juga terasa hingga China dan Bangladesh. Memporak porandakan hampir seluruh negeri di kaki Himalaya ini. Merenggut hingga 8,857 nyawa. Puluhan ribu orang terluka. Ribuan kehilangan rumah.



Hampir setahun berlalu, luka karena gempa masih terlihat, masih ada beberapa tenda pengungsi di tepi jalan jalan. Rumah rumah bertingkat yang rusak. Begitu pula dengan kuil dan bangunan. Deretan rumah berhimpitan dengan dominasi warna bata. Baju dikeringkan di depan balkoni rumah.

Sejak gempa bungi menerjang, Kathmandu tak ramai sedia kala. Tak banyak turis yang datang. Nuansa muram masih terasa. Trauma, kehilangan, tangisan semua kesedihan seolah melebur menjadi satu dalam sebuah harapan.

Mobil berhenti di perempatan lampu merah. Seorang anak jalanan mengetok pintu mobil kami. Wajahnya berbedak debu. Usianya tak beda dengan Najin. Wajahnya memelas dan tangan mendekat dengan kaca mobil. Wajah yang selanjutnya banyak saya temui di negeri para Dewa.

Ya, berjuluk demikian karena sebagain besar penduduk Nepal menganut agama Hindu. Banyak kuil dan stupa terlihat di tepian jalan. Kuil yang saya jumpai sangat berbeda bentuknya dengan yang di India. Baik kuil maupun stupa keduanya memiliki ciri yang khas. Usainya banyak yang mencapai ratusan tahu. Keberadaan kuil dan stupa yang berdampingan ini menjadi bukti bahwa keragaman agama terjalin harmonis.






Setelah 30 menit berlalu, kendaraan mendekati kawasan Thamel, tempat dimana hotel kami berada. Wajah jalanan kawasan yang tersohor dikalangan para turis ini mengingatkan saya kan kawasan Popies lane di Kuta, Bali. Jalanan menyempit. Wajah komersial terasa dengan deretan toko dan restauran. Mulai toko aksesoris, baju, peralatan naik gunung, tas hingga oleh oleh khas memenuhi jalanan. Deretan toko berjejal dengan hotel mewah hingga hotel budget di gang gang kecil. Membentuk seperti sebuah labirin yang asyik untuk dinikmati sambil berjalan kaki. Nampak beberapa turis berjalan menyusuri jalan, berbelanja atau sekedar mengobrol di salah satu cafe.



Rasa tak sabar rasanya ingin segera jalan jalan di sekitar Thamel. Tapi kami sadar diri, beristirahat sebentar dalam hotel adalah hal yang tepat setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hingga dua jam lamanya dari Delhi ke Nepal.

Sore yang sejuk di musim semi, setelah cukup istirahat, untuk pertama kalinya, saya, Najin dan Mbak Andri berjalan santai menyusuri labirin kawasan Thamel hingga malam menyapa.


 Maret 2016

You Might Also Like

4 comments

  1. wah pas banget kemarin denger kalau Miss Universe 2022 akan diadakan di Nepal
    jadi bisa sedikit liat gambarannya
    iya kayak di India ya mbak
    mirip cuma sepintas penduduk ras mongoloidnya lebih banyak daripada di India (cmmiw)

    miris banget tapi liat kemiskinannya meski banyak didatangi turis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah baru tahu kalau Miss Universe 2022 bakal di Nepal, pasti nanti temanya unik banget nih.

      bener sepintas mirip orang India,ada ras mongolid juga

      Delete
  2. aku pengen sekali mampir ke Nepal, wishlist :D

    ReplyDelete

Follow Twitter

Follow Instagram