10
tahun penantian emak menjejak Surga Bumi Jammu dan Kashmir. Beberapa kali emak berencana dan selalu
gagal. Gejolak perang, pertumpahan darah, demonstrasi hingga travel warning.
Tahun
1947 setelah perpecahan negara India dan Pakistan. Wilayah Kashmir menjadi
konflik perebutan wilayah antar kedua negara. Penduduk Kashmir 90 Persen adalah
muslim. Seyogyanya masuk dalam negara Pakistan. Tapi begitu eloknya tanah
Kashmir hingga India tidak ingin melepasnya.
Pada
saat ini 43% Wilayah Kashmir termasuk Kashmir
valley, Ladakh dan Sianchen glacier
masuk adminitratif India. Sedangkan 37% masuk wilayah administratif Pakistan
yang dikenal sebagai Azad Kashmir.
Alhamdulliah,
tahun lalu emak bersama teman teman berkesempatan mengunjungi propinsi yang
berada di ujung Utara negara India. Kami memilih perjalanan darat yang memakan waktu
hingga 24 lamanya dari kota Delhi. Meski kedamaian telah menghampiri bumi
Kashmir tapi deretan truk, camp dan
tentara berlaras panjang berkeliaran dimana mana.
Sampai
di Srinagar malam hari, kami langsung menuju Danau Dal. Danau yang menjadi
jantung wisata kota Srinagar, Ibukota jammu dan Kashmir. Kami tinggal di sebuah
houseboat, rumah kapal diatas danau
Dal. Kami menggunakan perahu kayu atau biasa dikenal dengan Shikara.
Pak
Firdaus pengelola houseboat menyambut
kami dengan salam hangat. Menyediakan teh Kashmir. Teh yang diracik dengan
kapulaga dan cengkeh seketika mengendorkan urat saraf yang kelelahan.
Seketika
istri pak Firdaus memasak dan menyediakan makan malam. Rumah beliau berada di
sebelah houseboat. Rumah kecil yang
beliau tinggali bersama orang tua, istri dan kedua anaknya. Kehidupan yang
begitu sederhana ditempat yang luar biasa pesonanya.
Makan
malam tersaji diatas meja. Kami sibuk bercengkrama dan tentu saja, mengabadikan
menu makanan dalam jepretan kamera. “My sister, jangan biarkan makanan
menunggu. Semua orang bekerja keras, membanting tulang dan berlari demi sesuap
nasi. Segerahlah makan” ucap beliau.
Ucapannya
bagai sebuah tamparan. Astaghfirullah, betapa selama ini kita diselimuti
kebiasaan makan yang ‘kurang’ baik. Terkadang kita sibuk memotret makanan,
upload di social media dan sibuk berkomentar tentangnya. Membiarkan makanan ‘menunggu’
kita. Ditambah
dengan kebiasaan tidak menghabiskan makanan dalam piring. Hanya karena kita
takut dibilang “rakus” atau karena perasaan sungkan.
Tentu saja, sisa makanan akan terbuang kedalam sampah. Padahal setiap butir
beras yang Allah berikan terhampar Rahmat NYA.
Disini kami tak hanya mencicip alam Surga dunia yang Allah anugerahkan kepada penduduk Bumi. Juga dikelilingi orang orang yang mengingatkan kita akan Surga yang sesungguhnya. Subhanallah, kearifan dan keramahan muslim Kashmir yang menganggap kami seperti saudara sendiri.
Keesokan
harinya, Adzan berkumandang begitu eloknya. Bertautan diantara keheningan Danau
Dal yang dingin. Emak merasa tak asing, seperti berada dinegeri sendiri. Sang
mentari pagi menyembulkan sinar dibalik pegunungan berselimut salju. Nampak lalu
lalang perahu warga sekitar danau. Sekedar berbelanja atau mengantarkan anak ke
sekolah. Tak segan mereka mengucapkan salam dengan senyumnya yang ramah. Begitu
cantik dan rupawan paras wajah mereka.
![]() |
Wanita Kashmir sedang berbelanja diatas Danau Dal |
![]() |
Panorama Sunrise didepan houseboat |
Di
India dan juga kashmir, wanita muslim dikenal sebagai aurot. Yah, sesuatu yang harus ditutupi dan dijaga. Sebagian dari
mereka mengunakan jilbab hitam hingga menutup wajah. Kebanyakan menggunakan
baju panjang dan celana lebar tradisional (salwar
kamiz) dengan penutup kepala (Dupatta).
Keponakan
Pak Firdaus bekerja sebagai juru potret dan menyewakan baju khas Kashmir. Paman
beliau, pak Ahmad menjadi guide
perjalanan. Meski usia lanjut, beliau masih kuat menanjaki perbukitan. Nama
Allah, Subhanallah dan InsyaAllah sering terucap dari senyum ramah beliau.
Keluarga
Pak Firduas adalah potret kehidupan Khasmere.
Sebutan bagi penduduk Khasmir yang berjumlah sekitar 13 juta jiwa. Bekerja di sektor
pariwisata dan sebagian besar bercocok tanam. Karpet dan hasil olahan Wol menjadi industri yang di ekspor
hingga ke manca negara. Pashmina dan Swahl berkulitas tinggi menjadi oleh oleh yang
sangat diminati oleh wisatawan lokal dan mancanegara.
Dimalam
hari, ketika para pedagang berdatangan. Menawarkan safron, bunga, Tas,
aksesoris dan masih banyak lagi. Tak segan, Pak Firdaus membantu menawar barang
buat kami. Para Pedagang menjualnya dengan jujur, tidak memaksa dan langsung
dibawah dari para pengerajin di desa. Yang terpenting bagi mereka, kami sangat
menikmati dan bahagia selama berkunjung ke Kashmir. Ketika berjumpa ucap salam
dari bibir mereka. Ketika berpisah saling berucap Allah Hafiz.
Setelah
tiga hari berada di sini. Ah, sungguh berat meninggalkan bumi Allah yang
berjuluk Surga di Bumi. Semoga, kedamaian selalu mengayomi saudara kita di
Kashmir.
Allah
Hafiz Muslim Kashmir.
![]() |
Salah satu dari ratusan lembah cantik yang Terserak di Bumi Kashmir |
![]() |
Befoto menggunakan Pakaian Khas Kashmir |
![]() |
Pashmina dan Shawl Kashmir |