Pertama
kali tinggal di India. Setiap kali pulang ke Indonesia, baliknya kami selalu
bawa 2 kardus Indomie. Campur semua
rasa. Entah dimakan sendiri atau buat oleh oleh. Karena keluarga Shah Jahan (Suami)
suka Indomie. Setelah bertahun lamanya, akhirnya kami putuskan tinggal
di Indonesia. Gantian Shah Jahan yang selalu
bawa Indomie setiap kali pulang ke India. Baginya, Indomie sudah cukup mewakili rasa rindunya sama masakan Indonesia
ketika menyelesaikan beberapa perkerjaan di India.
Akhirnya kami memutuskan pindah lagi ke India. Banyak
barang yang harus kami bawa. Segunung mainan dan segambreng bumbu. Khususnya
bumbu masakan yang sudah jadi. Takut nya si kecil nggak doyan makanan India
yeng terkenal berempah. Dia juga pricky.
Karena Overload, Akhirnya Indomie
sekardus nggak jadi kebawa. Sedih dan kecewa luar biasa.
Sampai
di India. Dia minta dimasakin mie. Menu kesukaanya. Saya masak mie buatan
India. Hampir semua mie di India rasanya sama. Rasa curry dengan rempah tajam.
Jelas saja dia nggak doyan. Kalau sudah gini, kuahnya saya buang. Ditambahkan
irisan bawang Bombay dan telor, Jadilah mie Omelet. Kalau dibikin omelet dia
nggak nolak. Kecuali kalau pas lagi bosen.
Suatu
saat, kami kehabisan mie dan beberapa keperluan lain. Saya minta Shah jahan
untuk membeli. Kebetulan dia berada dirumah mertua bersama si kecil. Cukup
dekat, hanya lima blok dari apartment tempat tinggal kami di Delhi. Dia
bilang bakalan belanja di supermarket dekat rumah ibu mertua.
![]() |
| Indomie di Luar negeri, berlabel Export Product |
Sampai
di apartemen, Shah Jahan senyum senyum kayak orang lagi jatuh cinta. Tumben?
pikir saya dalam hati. Sambil nampang curiga 1000 Watt. Soalnya kalau saya
titip sesuatu, seringnya lupa. Dikedua tangganya dua tas plastik besar dengan
bawaan yang sangat banyak. Perasaan saya cuman memintanya membeli mie dan keperluan
lain yang nggak banyak. Pasti kelupaan sesuatu, curiga lagi.
Waktu saya buka. Mata saya terbelalak seakan tidak percaya. Bola mata keluar kayak di film kartun. Apa saya nggak salah
lihat atau baca? Alhamdullilah, senangnya luar biasa. Dua plastik besar itu isinya
cuman Indomie. Ada tiga rasa. Yakni Indomie goreng original, Indomie rasa ayam dan Indomie vegetable (sayur mayur). Ternyata oh ternyata, ketika suami mencari
mie di supermarket tersebut, terlihat penampakan Indomie. Jadilah dia borong
semuanya. Dan yang paling happy tentu
saja si kecil. Tiap hari maunya dimasakin Indomie.
Minggu
depannya lagi suami datang ke supermarket tersebut. Borong semua. Datang lagi,
kami borong semua. Suatu hari ketika kami mau borong lagi, rasa Indomie
gorengnya nggak ada. Suami tanya ke kasir. Ternyata ada seorang wanita di
daerah sekitar yang doyan ngeborong Indomie juga. Dulu dia pernah tinggal di
Arab. Dan tahu Indomie dari TKW Indonesia. Dan semua pelanggan yang membeli
Indomie rata rata pernah tinggal atau
bekerja di daratan UAE (United Arab Emirate).
Bangga, Indomie tak hanya dicinta masyarakat Indonesia, International juga.
Memang, ya, Indomie enaknya sungguh
terlalu.
Biar
nggak kehabisan. Suami kasih nomer hapenya ke kasir toko. Meminta dia menelpon
kalau ada stok baru. Karena stoknya memang nggak banyak. Paling cuman 20-30
bungkus saja dengan tiga variasi rasa. Kalaupun kami pesen, itupun dengan
jumlah yang sama. Karena supermarket tersebut “dijatah” cuman segitu.
Wih,
senengnya luar biasa bisa mencecap rasa
Indonesia di luar negeri melalui Indomie. Sejak saat itu kita selalu ada
stok Indomie di apartemen. Apalagi datang rasa baru dan menjadi favourite saya ketika di Indonesia,
Indomie rasa cabe hijau. Maklum, pecinta rasa pedas. Kalau si kecil teteup suka
sama Indomie goreng yang original.
Mienya
agak beda, lebih tebal. Kalau bumbu tetep sama. Hanya saja kalau di Indonesia
mie goreng menggunakan sambal cabe. Di India menggunakan cabe bubuk. Biasanya Indomie
ini saya masak bersama wortel. Kami santap bersama nasi dan telur mata sapi. Ditemani
lalapan ketimun dan tomat. Terkadang kami makan bersama salad khas India yakni
salad bawang Bombay dihujani jeruk nipis. Rasanya mantep, seger dan nonjok.
![]() |
| Indomie goreng Original, saus cabe diganti cabe bubuk |
![]() |
| Indomie Rasa Cabe Hijau |
![]() |
| Indomie aku masak dengan sayur dan dilahap dengan salad |
Bahkan
kalau kami sedang jalan jalan. Indomie
selalu menemani dalam perjalanan. Alias mbontot
Indomie. Karena mudah cara bikinnya, juga praktis dibawa. Dimasukkan kedalam lunch box bersama nasi, telur dan salad. Bontotan ini khusus dimakan sama si kecil, karena dia nggak suka
jajan di jalanan dan seringnya nggak cocok sama lidahnya.
Nah,4
bulan terakhir supermarket tersebut hanya menyediakan Indomie rasa sayur mayur.
Trus sekarang malah nggak pernah stock Indomie lagi. Hampir 2 bulanan. Shah
Jahan tanya berkali kali ke petugas kasir. Katanya sudah nggak kirim lagi.
Karena pembatasan export import dengan Pakistan. Oh I
see, ternyata Indomie di India berasal dari Pakistan trus
kemudian di kirim ke India. Pantesan harganya 3 kali lipat dari harga di Indonesia.
Dua kali ekspor. Sebungkus dihargai 20 Rupees atau sekitar Rp. 4000 Rupiah.
Kalau sudah cinta, harga berapapun tetap
dibeli. Tombo ati kangen Indonesia.
![]() |
| Harganya tertera MRP 20 Rupees |
Demi
Indomie, kami keliling di beberapa supermarket. Bahkan supermarket dengan brand besar. Dibela belain sampai keluar
kota. Dan tidak menemukan Indomie. Sedihnya tuh disini, nunjuk lidah ama perut.
Beberapa merk menawarkan cita rasa Singaporean,
Manchurian, china hot spicy. Tapi tetep nggak sedahsyat Indomie. Semoga bisa ketemu Indomie lagi di Negeri ini lagi,
Aamiin.
Indomie cita rasa Indonesia di negeri
Seribu Dewa.
Ini
ceritaku, mana ceritamu ?





