Kasta memisahkan manusia kedalam sebuah strata sosial dengan
tingkatan berbeda beda masih digunakan di India. Bagaikan sebuah garis pembatas
yang tidak bisa ditembus dan disatukan. Menganggap diri bermartabat tinggi dan merendahkan berkasta rendah hanya
karena darah. Sejak lahir telanjang manusia distempel dalam garis
kehidupan kasta yang lebih dikenal dengan sistem Jatis di negeri tepian sungai
Gangga ini.
Kasta dianggap sebagai fakta kuno dalam kehidupan
masyarakat Hindu. Namun sebagian mengatakan bahwa sistem kasta ini sengaja “dibentuk“ oleh Razim kolonialisasi
Inggris.
Sistem ini bagaikan belenggu kehidupan. Membuat orang kaya makin
kaya dan yang miskin semakin nelongso
dan tersingkirkan. Seseorang bisa
dikenali kastanya dari namanya. Quota pekerjaan dan pendidikan diperlakukan. Berkasta
tinggi mendapatkan pekerjaan lebih baik sementara berkasta rendah semakin tergencet.
Diskriminasi kasta yang lebih rendah adalah Hal
yang ILLEGAL di India. Semuanya diatur dalam pasal 15 dalam hukum konstitusi. Sebenarnya
Pemerintah India melalui Mahkamah Agung berusaha menghapus sistem kasta. Berusaha
meningkatkan perekonomian kaunm tertindas dalam hal ini golongan Dalit. Memberikan kuota di perguruan tinggi
dan pekerjaan bagi kasta rendah. Tapi tradisi tetaplah tradisi. Budaya yang
diteruskan dari satu generasi ke generasi.
Berikut sitem kasta yang ada di India.
1. Brahmins
(Priest/Para pemimpin agama)
2. Kshatriya (warrior)
3. Vaishya (pedagang)
4. Shudras (artisan)
Foto diambil dari Wikipedia
Sebenarnya masih ada satu lagi “kasta” yang paling
rendah. Begitu rendahnya hingga tidak dimasukkan dalam group
Kasta. Istilahnya “untouchable” alias
tak tersentuh dan terbuang yakni Kelompok Dalit. Biasanya mereka jadi tukang bersih bersih, pembantu,
memungut sampah, tukang cuci baju dan
pekerjaan lainnya yang dianggap “rendah”.
Sistem
Kasta ini tak hanya dianut oleh pemeluk Agama hindu. Sebagian umat beragama Kristen,
Budha, Yahudi, Sikh, Jain bahkan Islam. Memang tidak dilakukan secara terang terangan
tapi dalam kelambu abu abu.
Emak
pribadi pernah mengalaminya. Suatu
saat kami berkunjung ke rumah teman karena adiknya sebentar lagi menikah. Emak
haus dan nggak tertarik minum teh. Emak maunya minum air putih dingin.
Kebiasaan orang India menempatkan air minum kedalam kuali besar yang terbuat
dari tanah liat. Rasanya segar.
“Apakah kamu tidak keberatan minum dalam gelas yang sama
dengan yang kami gunakan?“
“maksudnya“
jawab emak sambil keheranan
Dengan menggunakan tangan, dia menunjukkan ke diri
sendiri, lalu menunjuk kearah bawah. Kemudian menunjuk ke arah emak dan
menunjuk kearah atas. Trus menunjuk kearah gelas sambil gedek. Emak jadi
terheran. Adik ipar kemudian memintanya untuk menuangkankan air minum
buat emak.
Suatu ketika emak pergi ke desa. Kejadian yang sama
terulang kembali. Akhirnya emak tanya ke adik ipar. Dia menjelaskan sebagian
orang “bawah“ masih diselimuti kasta. Dan
mengangggap kita dari Kasta Arya (India keturunan Persia) karena kita berhidung
mancung dan berkulit putih. Laaaa kan hidung emak pesek? Sudahlah!.
Suatu ketika, salah satu karyawan pabrik mempunyai
hajatan pernikahan. Kami diundang. Dia sudah menunggu di gerbang. Kami belum
masuk, dia sudah minta maaf tidak bisa memberikan makanan yang terbaik. Mereka tak segan membersihkan tempat duduk dan
memberikan “jatah“ tempat duduk di sebelah mempelai dan emak “diasingkan“ dari para tamu lain.
Begitu pula ketika menjamu makanan. Bak
permaisuri mereka sibuk melayani emak, mulai bawa gorengan, kebab, minumam
sampai ice cream. Semua tidak berhenti mengalir. Emak jadi kikuk sendiri. Padahal emak pingin membaur
dan lihat warna warni baju ngejreng dan
senada dengan gelang yang dikenakan.
Manusia tidak dibedakan atas warna kulit, ras atau
kasta. Duduk
sama rendah berdiri sama tinggi. Manusia dikatakan ”berkasta” tinggi jika dia selalu
peduli, selalu memberi tanpa menyakiti.