Bisa
dibilang lentog ini perkawinan antara Opor dan Gudeg
Kebetulan
sekali, saya datang ke Semarang pas di hari Minggu. Saya diajak menikmati
lentog di kawasan Car Free Day
di dekat Simpang lima. Sebenarnya sempat khawatir kehabisan, karena kami bangun
kesiangan. Plus harus copy beberapa
foto perjalanan kami waktu piknik bareng di Menjangan. Untunglah, Sang Penguasa
alam merestui, kami masih bisa menyantap Lentog pagi itu.
Suka
dengan tampilan penjual lentog. Menggunakan pikulan yang terbuat dari kayu
rotan. Kami duduk di lesehan diatas tikar sambil menatap keramaian aka cuci
mata.
![]() |
| Ibu Penjual Lentog dengan pikulan tradisional, perhatikan lontongnya |
Lentog
ini terdiri atas 3 bahan utama. Bahan pertama yakni lentog atau lontong yang
dipotong kecil kecil. Yap, lentog itu sebenarnya lontong, beras yang dimasak
dengan daun pisang. Yang unik dari lentog adalah ukuran lontongnya yang gede banget.
Seukuran betis orang dewasa. Bukan betisnya si Hulk apalagi betis saya yang
gendut.
Lontong
dipotong kecil kecil diatas piring yang sudah dilapisi daun pisang. Membuatnya
semakin sedap saat disantap. Lontong kemudian diguyur dengan sayur Gori. Waktu
denger kata gori, pikiran saya langsung menuju istri Cak Shah Rukh Khan, namanya
Gauri Khan. hehehe
Gori
sendiri kalau di Jawa Timur dikenal dengan tewel (ketewel) yakni nangka muda. Dimasak
dengan santan hingga santannya mengental. Bedanya dengan Gudeg, kalau gudeg
dimasak sampai santannya susut dan adonan jadi nyemek kalau gori ini masih ada kuahnya.
Lontong
yang sudah diguyur dengan gori tadi kemudian disiram dengan lodeh tahu. Ada yang
bilang Semur tahu. Rasanya juga kayak opor tahu. Tahu digoreng kemudian dimasak
dengan santan kental. Setelah masak kuahnya nampak seperti santan mblondo, maksudnya santannya nampak
menggumpal kecil kecil dan halus.
![]() |
| Lodeh Tahunya habis, bumbu bali, suwir ayam, bawang goreng dan cabe hijau kukus |
![]() |
| Sayur Gori |
Selain
lentok “biasa” yang terdiri atas ketiga
bahan tersebut yakni lontong, sayur gori dan lodeh tahu. Biasanya ada menu
tambahan lainnya seperti suwiran ayam dan telur yang dimasak ala gudeg. Kalau
pingin pedes nggak bisa nambah sambal, karena memang nggak ada sambal tapi ada cabe
hijau utuh yang dikukus.
Saya
mencoba lentog dengan suwiran ayam. Disini si ibu memberi sedikit kuah bali
yang merah membahana. Trus ditaburi bawang goreng. Ketika lentog menyentuh
lidah, sensasi rasa super gurih manis mendarat di lidah. Rasa gurih santan dan
manis ini memang menjadi ciri khas masakan daerah di Jawa Tengah. Teksturnya
juga sangat lembut. Cocok buat sarapan pagi.
![]() |
| lentog dengan Suwiran Ayam |
![]() |
| Lentog |
Di Kabupaten
Kudus sendiri, lentog adalah menu sarapan pagi. Sama dengan lontong Rumo di Kota Gresik. Makannya dengan menggunakan suru yakni sendok dari daun pisang. Tapi
waktu di Semarang makannya dengan sendok biasa, lebih enak sih, soalnya lebih
gampang ambil kuahnya. Seporsi lentog dijual cukup murah, hanya Rp. 7000 saja.
Sudah kenyang pastinya.





