Menyusuri Kota Lama Semarang

14:00:00

Jelajah Kota lama Semarang

Kawasan berdiri sejak awal abad ke 19 yang menjadi pusat perdagangan ini  dipenuhi dengan bangunan tua berarsitektur Belanda, menjadikannya dikenal dengan “Little Netherland”

Mentari mulai menghangatkan bumi ketika saya menunggangi si revo menuju stasiun pasar Turi, Surabaya. Dua hari kedepan, Si Revo bakalan nginep di stasiun. Sementara kaki ini bergegas memasuki gerbong kereta api Cepu Express yang menghantarkan tubuh ini merasakan hangatnya Kota Semarang.

Dingin menancapkan gigil. Saya bergegas mengenakan jaket hangat dan menyandarkan ransel dalam kabin kereta. Hasrat ingin berbincang dan kenal dengan cowok bening di bangku sebelah pupus sudah, ketika mereka dengan santai dan sopan memanggilku, BU. Disitu saya merasa tua, pesona unyu luntur sudah *bakarKTP.

Daripada bête, saya menatap hamparan sawah yang seolah berlari meninggalkan kereta. Sesekali saya membaca berita di smartphone atau chit chat di group Whatsapp yang bikin bibir sexyku menyungingkan senyuman. Kebiasaanku untuk berinteraksi didalam kereta musnah sudah. Kalau memaksa berbincang, ntar saya dikira tante girang. Ya, sudahlah. Akhirnya seperempat dari total 6 jam perjalanan saya manfaatkan untuk melelehkan air liur aka bobok cantik.

Sang mentari mulai menggoreskan jingga diatas langit  ketika saya sampai di stasiun Tawang, Semarang. Sebuah kotak pesan masuk kedalam ponsel. Tarie, sahabat yang tinggal di Semarang memberitakan bahwa dia akan terlambat menjemput. Untunglah, saya ini bukan tipikal traveler rempong dengan bawaan diransel yang bikin pundak menjerit. Saya memanfaatkan waktu menjelajah kota Lama Semarang dengan berjalan kaki.

Kota Lama Semarang
Stasiun Tawang
Stasiun Tawang sendiri adalah bagian dari kawasan Kota Lama Semarang. Stasiun yang selesai dibangun pada bulan Mei 1914 ini memiliki gaya arsitektur Belanda yang sudah disesuaikan dengan kondisi daerah tropis. Langit langit stasiun nampak begitu tinggi dan lebar membiarkan angin bersikulasi dengan bebas.

Beranjak keluar, stasiun Tawang mempunyai daya tarik visual tersendiri. Diatasnya sebuah kubah yang hampir mirip dengan bentuk kubah Gereja Blenduk. Hanya saja bentuknya lebih kecil. Bertengger cantik diatap stasiun. Sesaat saya duduk santai di depan danau pancing di depan stasiun sambil mengemas jaket dan memasukkan kamera.

Saya ingin berjalan santai menikmati sederet bangunan tua tanpa halangan si kotak hitam. Kubah Gereja Blenduk terlihat jelas dari stasiun tawang. Melangkah perlahan ditemani senyuman ramah penduduk setempat. Sepanjang jalan mata ini disuguhi bangunan tua, sebagian nampak terpelihara bahkan masih digunakan sebagai pabrik rokok. Dan sebagian lainnya nampak kusam, menghitam dan tak terurus.

Kota Lama Semarang adalah suatu kawasan di Semarang yang menjadi pusat perdagangan pada abad 19-20 . Pada masa itu, untuk mengamankan warga dan wilayahnya, maka kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng Vijhoek. Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang dibenteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai : Heeren Straat. Saat ini bernama Jl. Let Jen Soeprapto. Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok, yang disebut De Zuider Por.

Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga Outstadt. Luas kawasan ini sekitar 31 hektare. Dilihat dari kondisi geografi, nampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga nampak seperti kota tersendiri, sehingga mendapat julukan "Little Netherland".

Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa colonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. 

Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan di benua Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah. ( informasi ini dikutip dari Wikipedia).

Kota Tua Semarang
Gereja Blenduk

Gereja Blenduk
Menara Gereja
Kaki saya terhenti dengan lengkung cantik landmark bangunan yang menjadi ikon kota lama semarang yakni Gereja Blenduk. Gereja yang berusia lebih dari 200 tahun ini masih nampak bersih dan cantik. Dan hingga saat ini masih aktif digunakan untuk kegiatan Ibadah.

Gereja yang berdiri pada tahun 1753 ini ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Bahkan ketika saya sampai disini, ada beberapa wawancara khusus dari stasiun televise swasta. Dinamai gereja Blenduk karena dibagian atas 2 menara dan sebuah kubah besar. Kubah dalam bahasa Jawa berarti Blenduk.

Gereja Blenduk tak hanya memiliki design arsitektur yang cantik dalam jepretan kamera, disini juga menjadi tempat yang asyik buat duduk santai. Apalagi berhadapan dengan taman Sri Gunting yang diayomi pepohonan rindang. Dan dikelilingi pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai makan dan minuman. Bikin betah.

Saya kemudian menyebrang jalanan menuju kantor asuransi Jiwasraya yang berhadapan dengan Gereja Blenduk. Bangunan bersebelahan dengan rumah makan Ciganjur. Keduanya juga merupakan landmark bangunan tua peninggalan Belanda. Sepanjang jalan raya yang ramai dengan kendaraan ini juga dipenuhi dengan bangunan tua.

Kaki mungil saya melangkah melewati jalanan mungil yang dipenuhi dengan jajaran tiang lampu tua. Tiang lampu tak seberapa tinggi dengan sebuah lampu tua nan cantik diujungnya, mengingatkan saya akan Kota Shimla, yang menawarkan nuansa Eropa di India. Jalanan ini dipenuhi bangunan berusia lebih dari seabad. Sebagian nampak terawat dan kebanyakan dibiarkan rusak dan terbengkalai. Sangat disayangkan. Jika dipelihara, tak akan kalah pamor dengan Kota Tua Jakarta, bahkan mungkin Malaka.

Itinerary jelajah Semarang

jelajah Kota Tua
Jembatan Berok dahulu bernama DEZUIDER PORT kemudian berganti nama SOCIETEITSBRUG. Dinamai jembatan "BEROK" karena orang pribumi tidak bisa melavalkan kata "BURG" yang dalam bahasa Belanda berati jembatan.

jalan jalan ke Semarang
Kantor Asuransi Jiwasraya di Depan Gereja Blenduk

Kota lama Semarang

Kota lama Semarang

Jelajah Semarang

Jelajah kota Semarang

Tempat menarik di Semarang


Dua jam berlalu, tenggelam dalam nuansa Semarang di masa lalu akhirnya saya kembali ke Gereja Blenduk. Bertemu dengan Tarie dan melanjutkan jelajah kota tua semarang hingga adzan Maghrib berkumandang. Terselip harapan dan doa dalam hati, Semoga kelak ketika saya kembali, Kota Lama Semarang bersolek cantik.


You Might Also Like

26 comments

  1. Kami juga kemaren singgah di Kota Lama ini waktu sore, mbak.. Pengen nunggu sampe malem, sampe lampu-lampu hias cantiknya dinyalakan. Tapi kami teringat belum menunaikan sholat ashar. Jadi langsung cuss ke MAJT.
    Eh tapi kok aku gak ngeliat sampean ya di depan Gereja Blenduk? Apa sampean yang sembunyi di balik lampu hias itu ya? #plak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sampe malam mbak Dee, cangkruk an di angkringan depan.
      Aku ya ke MAJT malam malam lihat Semarang dari atas.

      hahaha, Justru yang mbelenduk itu perutku :)))

      Delete
  2. Foto-fotonya mbak Zulfa bagus banget. Kemarin aku ke sana ga kepikir mau ambil angle kayak gitu. Sekarang malah nyesel. Hiks. Ini tanda disuruh balik lagi ke sana. Perasaan 2x ke sana gagal terus dapat foto bagus wkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun Mbak Rien. Wah, hasil jepretan mbak Rien pasti lebih kece dari diriku.
      *elus2kamerapocket

      Delete
    2. Ayo balik lagiiiii.... :D

      Delete
  3. Saya dulu sempat singgah saja di semarang, padahal bangunan kunonya cantik2 bernilai historis gitu pengen kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, ayoo next jangan singgah aja, sekalian jalan jalan cantik :)

      Delete
  4. Aiiih pengen ke sanaaaa. Aku belum pernah ke Semarang, cuma lewat doang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga next waktu ke Jawa nggak cuman lewat ya mbak, bisa halan2 sekalian

      Delete
  5. Sayang kemarin nggak sempat explore lebih banyak lagi sebab jadwalnya padet *soksibuk
    Aku ngiri ama Semarang, bangunan2 tuanya masih terjaga sehingga menjadi daya tarik wisata, beda ama di Malang :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sibuk ngapain Wan? Paling kalian sibuk narsis waktu kopdar ya? heheh
      Ya bangunan tuanya banyak sekali.

      Delete
  6. Wuiiiiiih...bangunan-bangunannya masih bagus ya mbak. Eropa mini ini mah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sebenarnya banyak sekali gedung gedung tuanya. Semoga kedepan bisa dipertahankan dan jadi wisata tersendiri

      Delete
  7. Sering ke Semarang tapi cuma lewat, rugi banget ya padahal Kota lama cantik gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Next jangan lewat doang mbak,, hayooo jalan jalan explore Semarang

      Delete
  8. Semarang selalu saja jadi tempah singgah sementara, blm pernah puas explore semarang. Kayak nya wajib di datangin secara khusus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus, apalagi Kulinernya, Siapain perut,ya, soalnya enak enak semua

      Delete
  9. Belum pernah ke kota lama Semarang mbak, padahal kalau ke tanah air suka ke sana :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau pulang ke Tanah Air, jangan lupa kesini. Asyikkk loo palagi Kulinernya, endang gulindang :)

      Delete
  10. Aku dulu cuma lewat di Semarang. Kalau diliat di foto kayaknya Semarang gak kalah sama Penang. Potensial dimasukin WHS UNESCO nih,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak kalah dan lebih luas, hanya saja nggak terawat. Kalau mau dirapiin ala penang, lebih kece lagi

      Delete
  11. Semarang kayake wes ngawe2 aku iki. Semarangggg, tunggu daku! ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, Semoga ya mbak, pulang kampung tahun depan bisa jalan jalan cantik kesini

      Delete
  12. Bangunan lama itu kokoh sekali ya. Di Bandung juga banyak bangunan tua yang masih kokoh dan dirawat dengan baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bangunan lama itu kokok sekali, karena mereka menggunakan ramuan khusus dalam bahn bahannya.

      Delete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram