Tay Kak Sie, Klenteng tua dan terbesar di Semarang

14:00:00

Klenteng tertua di Semarang

Klenteng dengan deretan altar para Dewa Dewi dan patung Budha ini dikenal sebagai Klenteng terbesar di kota Semarang

“Hai ya xio pia iii yi ni poo ni hao truk tuk tuk … “ suara seorang lelaki terdengar lantang dari corong speaker sesampainya kami di Klenteng Tay Kak Sie. Sesaat saya terdiam, mencoba mencerna apa yang saya dengar. Pikir saya, mungkin ada semacam kutbah atau ada pernikahan karena terlihat jajaran rangkaian bunga di depan Klenteng Tay Kak Sie.

Perlahan kami melangkahkan kaki menuju klenteng. Patung sang penakluk Samudra Laksamana Ceng Ho berdiri gagah menyambut siapa saja yang datang. Dikakinya sebuah tempat  kotak merah seukuran warung penjual rokok dengan sebuah “jendela” menghadap kearah klenteng.

Ternyata, suara alunan cerita dalam bahasa Tionghoa menyeruak dari tempat ini. Sebuah pertunjukan dengan boneka wayang Tiongkok sebagai lakonnya. Boneka boneka dijalalankan diiringi alur cerita yang di ceritakan oleh satu orang saja. Hal yang biasanya saya lihat dalam di film film Tiongkok.

Sejenak menyaksikan pertunjukkan, saya gegas masuk kedalam klenteng. Tak hanya tidak mengerti alur cerita dalam bahasa China, juga karena terik sang mentari yang bikin kepala saya pening. Kota Semarang memang terkenal dengan panasnya yang humid. Kami datang kemari jam 9 pagi, tapi rasanya kayak disengat mentari jam 1 siang.
 
Klenteng terbesar di Semarang
Pertunjukkan wayang Boneka di Depan Klenteng

Wisata kota Semarang
sepasang Naga diatap Klenteng

Seperti Klenteng pada umumnya, Klenteng Tay Kak Sie didominasi warna merah dengan jajaran lilin berukuran jumbo. Dipenuhi dengan ornamen dan simbol simbol yang berhubungan dengan kepercayaan aliran Budha, Tao dan Konfusianisme. Diatapnya sepasang naga saling berhadapan sedang memperebutkan matahari.

Dalam mitologi Tionghoa, Naga merupakan lambang keadilan, kekuatan dan penjaga barang barang suci. Naga atau Liong mempunyai kekuatan untuk mengubah bentuknya, hal ini berarti naga memiliki kewaspadaan yang tinggi. Sepasang naga diatap klenteng tersebut menjadi simbol penjaga klenteng dari pengaruh jahat.

Masuk kedalamnya, aroma Hio menyapa hidung. Asap tipis Hio melambai lambai terbang menghilang bersama udara. Ditengah pintu terdapat sebuah meja bertuliskan aksara China. Diatasnya sebuah wadah kuningan tempat menyalakan Hio, buah buahan tersaji diatas piring, gulungan kertas dan berjajar 3 buah cangkir berukuran kecil.

Klenteng berbentuk persegi dengan atap terbuka ditengahnya. Lurus dengan pintu terdapat sebuah altar. Klenteng Tay Kak Sie merupakan salah satu Klenteng tua di kota Semarang. Didirikan pada tahun 1771.

Dari literature yang saya baca. Pada tahun 1724 didirikan sebuah sebuah rumah pemujaan yang kemudian diberi nama Kwan Im Ting. Lokasinya terletak disamping sebuah kolam kecil, ditengah rerimbunan pohon asam dan agak terpencil dari pemukiman
Pada tahun 1753 terjadi peristiwa bentrokan antar kelompok penjudi yang sedang mabuk di halaman Kwan Im Ting. Peristiwa ini menimbulkan reaksi yang sangat besar dari tokoh masyarakat waktu itu. Dari peristiwa tersebut kemudian muncul pemikiran untuk memindahkan Kwan Im Ting ketempat lain yang lebih luas dan aman. Berbagai pembicaraan terus dilakukan, hingga akhirnya pada tahun 1771.
Atas petunjuk dari ahli fengshui, dipimpin oleh Khouw Ping, beberapa saudagar tionghoa memilih sebuah areal tanah luas ditepi Kali Semarang yang kala itu masih berupa kebun lombok. Itulah sebab dibalik penamaan Gang Lombok di daerah ini.
Masyarakat Tionghoa bergotong royong menyumbang berbagai keperluan pendirian tempat ibadah baru mereka, bukan saja sumbangan uang, tapi juga berbagai bahan bangunan. Tukang  batu, tukang kayu, ahli ukir dan banyak lagi didatangkan dari berbagai tempat. Patung  para dewa dan dewi didatangkan langsung dari negeri China. Tahun 1772, setahun semenjak mulai dibangun, klenteng itu telah berdiri dengan megah dan kokoh. Dan menjadi Klenteng terbesar di kota Semarang.
Tempat yang harus dikunjungi di Semarang

Kawasan pecinan Semarang

Klenteng Tay Kak Sie

Klenteng tay Kak Sie

Tempat yang harus dikunjungi di Semarang

Altar Dewa Dewi

Klenteng Gagng Lombok

Klenteng tertua

Klenteng China

Tay Kak Sie sendiri artinya Kuil Kesadaran. Saya melangkah menuju altar yang berada di depan. Disana sudah ada beberapa wisatawan mancanegara. Dan juga beberapa fotografer yang sibuk mencari angel yang pas untuk dibidik. Jujur saja, saya jadi minder keblinger. Gimana tidak, saya menggunakan kamera pocket tipis nan imut sementara mereka menggunakan kamera gede dengan monyong lensa yang panjang.
 Di atas Altar terdapat patung Dewa Dewi Dan Juga Patung Budha dengan warna kuning emas. Berjajar Lilin lilin besar nantik cantik dengan hiasan unik. Aneka buah tersuguh diatas piring. Sebuah tembaga kuningan untuk menyalakan Hio. Bersanding dengan cawan gelas cantik dengan minyak didalamnya. Bendera dan aneka ornamen bertuliskan aksara China berdiri di sela sela altar. Sementara diatasnya menggantung lampion cantik bersanding dengan lampu gantung menawan.
Altar utama ini diapit oleh dua altar kecil yang berada di kanan dan kirinya. Patung patung Dewa berwajah oriental lengkap dengan pakaian khas Tionghoa. Diatasnya menggantung jajaran lampion kecil kecil warna merah. Keseluruhan dekorasi di altar nampak berharmoni dalam suatu tatanan yang meneduhkan hati.
Selain altar utama, di sayap kanan dan kiri klenteng masih terdapat beberapa altar dari Dewa dan Dewi berbeda. Beberapa jamah berdatangan, bahkan beberapa ada yang datang dari luar kota. Mereka menyalakan 3 hio di genggaman. Memejamkan mata. Kemudian menunduk beberapa kali di hadapan altar sang Dewa Dewi. Berharap kelancaran rezeki, limpahan kesehatan dan menghirup sebuah kebahagiaan hidup.
Lunpia Semarang

Puas berkeliling, terakhir saya mencicipi lunpia gang Lombok yang sudah melegenda itu. Dengan resep turun temurun yang selalu menggugah selera. Letaknya berdampingan dengan Klenteng Tay Kak Sie. Tempatnya kecil dan sangat sederhana, tapi yang beli antri. Karena memang nggak buka cabang. Banyak yang beli untuk dibawa sebagai oleh oleh.
Lunpia berisi rebung dan telur dijual dengan harga Rp. 12.000 saja. Saosnya kental sekali dengan taburan cacahan bawang putih mentah. Ada dua pilihan, lunpia basah atau kering. Kami pesan lunpia kering. Enak sekali dengan rasa bawang putih mendominasi. Pokoknya rasanya Heucek ping ping ping.

You Might Also Like

21 comments

  1. Ya ampyuuun lunpianya bikin ngences mbak. Pengeeen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget, Harus makan lunpia disini plus bawa buat oleh oleh :)

      Delete
  2. Waah zulfa camera pocket tapi fotonya bagus bagus. Itu lumpia ya ampuun sumpah pengen banget lumpia original buatku itu ya yang isiannnya rebung. Kalo di jakarta isinya bihun, kali sama kayak surabaya dan sekitarnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disitu saya merasa tersanjung *plakkk. Yag bikin keren memang klentengnya, bagus kalau difoto.

      Ya sama, di Surababya isianya wortel dam kecambah. sausunya juga beda.

      Delete
  3. Waduh... lunpiane nggarai ngeceessss.... Aku lebih suka lunpia basah, mbak.. tapi kalo dikasih lunpia kering yo suka juga.. #ancenndheramus :D :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. he eh, bikin ngecesss endesss meresss iler, hahahah. Jadi intinya dikasih lunpia kagak nolak ya, oke lupakan Diet.

      Delete
  4. Lho, ketipu.... jare artikel ttg kelnteng, kok onok lumpiane, tho? Sebelll... ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, saya tahu gimana rasanya mbak :)))))

      Delete
  5. Kok aku jadi kangen lumpia gang lombok yaaaa, kirimin dongggggg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, mending itu brangcusss ke Semarang langsung. :)

      Delete
  6. Cemmana itu rasa haucek ping ping ping. Sebagai yang gak suka rebung aku jadi penasaran :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha pokok e rasanya endang gulindang. Wah kenapa nggak suka rebung?

      Delete
  7. wow...
    aku pernah kesini sendirian, minta tolong difotoin sama petugas kebersihan ga mau, sibuk katanya.... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Mesakno. Berarti hars balik lagi sama teman biar ada yg fotoin :)

      Delete
  8. hai mbak Zulfa membaca postinganmu ini serasa mengobati kangen pengin pulkam ke Semarang..hehehe..selama puluhan tahun tinggal aku sendiri yang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di tempat wisata Klentheng (padahal aku lewati slalu PP sekolah-kuliah dan kerja).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, rumahnya Semarang juga tho, tahu gitu mampir ya... hehehe
      Haduw, next time coba main main kesini, bagus klentengnya instagramable

      Delete
  9. loh ini bukannya sam po kong ya? apa beda lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda lagi, kalau Sam Poo Kong itu baru. kalau ini masuk klenteng tua di Semarang

      Delete
  10. Yuhuuu enaakk bingit yaa lunpia satu ini. Walau jujur aku deg2an abis :p *kedip2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget. masih terasa bawang putih di mulut. Hehehe

      Delete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram