Berkelana Rasa di Pasar Malam Semawis

14:00:00

Pasar malam Semawis

Pusat jajanan terpanjang di kota Semarang ini menjual beranekaragam hidangan mulai kuliner khas Semarang hingga kuliner ‘unik’ kekinian

Lembayung senja ditelan sang malam tapi geliat kota Semarang semakin ramai. Selain Simpang Lima yang berada di jantung kota, masih ada lagi pusat tempat wisata kuliner yang siap memuaskan lidah. Gerakkan roda kendaraan menuju kawasan pecinan, disana ada Pasar Semawis yang merupakan pusat jajanan terpanjang di Kota Semarang.

Berbeda dengan kawasan kuliner Simpang Lima yang buka setiap hari. Pasar Semawis atau yang akrab dikenal dengan Waroeng Semawis buka hanya pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu saja. Buka mulai Pukul 6 sore hingga malam hari. Semakin malam semakin ramai.

Di pagi hari kawasan ini hanyalah sebuah jalan biasa dengan deretan toko. Tapi di akhir pekan, menjelang sore hari kawasan ini disulap dengan jajaran tenda dan bangku sederhana. Ketika kaki saya berkelana menyapa kota Semarang, Pasar Semawis menjadi tempat yang ingin saya kunjungi. Maklum saja, para pembaca setia blog ini pasti sudah tahu kebiasaan saya hunting kuliner lokal alias doyan mbadok.

Pasar Malam Semawis

Kuliner Semarang di pasar Semawis

Kuliner enak di Semarang

Kuliner Khas Semarang

Pasar Semawis

Waktu datang ke pasar Semawis sebenarnya saya ngidam salah satu kuliner unik. Waktu itu saya melihatnya di salah satu program TV. Ada penjual Jamu tapi dalam bentuk sup. Dan dengan rasa yang berbeda, nggak super pahit kayak jamu biasanya. Maksud hati beli jamu galian singset. Biar lemak tubuh luntur 20 Kg semalam. Eh, ternyata nggak ketemu yang jualan, karena gerimis tiba tiba datang menyapa.

Bukannya nurunin berat badan, saya malah kalap dengan  hidangan yang ada disini. Pasar Semawis menyajikan beraneka ragam kuliner. Mulai kuliner Khas Semarang, Jajanan tempoe doeloe, es puter, serabi, aneka sate, sosis bakar sampe Kuliner ‘unik’ kekinian. Di pasar Semawis, saya dan Tarie mencoba tiga kuliner khas Semarang yakni pisang Plenet, es Cong lik dan nasi goreng babat.


Pisang Plenet

Sesuai dengan namanya Pisang Plenet ini menggunakan Pisang sebagai bahan pokoknya. Pisangnya bukan sembarang pisang tapi menggunakan Pisang Kepok. Pisang Kepok utuh dibakar dengan menggunakan arang. Diatasnya terdapat besi untuk membakar pisang. 

Setelah setengah matang. Pisang kemudian di-plenet hingga berbentuk bulat pipih alias gepeng. Dalam bahasa Jawa plenet berarti dipenyet atau digencet. Pisang di-plenet dengan menggunakan papan khusus seukuran pisang.

Setelah berbentuk pipih, pisang dibakar sebentar. Diatasnya ditaburi gula bubuk dan kismis. Kemudian ditumpangi lagi dengan pisang. Semacam “sandwich pisang”. Untuk menjaga kualitas rasa dan juga tekstur biar nggak lembek waktu di-plenet digunakan  pisang Kepok yang bener bener matang di pohon. Waktu mendarat dilidah, rasanya manis dan tidak neg dengan aroma pisang bakar yang bikin tambah sedap.

Di Pasar malam Semawis ini ada penjual pisang plenet yang sudah melegenda, namanya pisang Plenet Pak Tuko. Konon, beliau berjualan sejak 1960. Dari dulu hingga sekarang beliau masih menggunakan resep yang sama. Pisang plenet ini tipikal camilan buat sore dan malam hari. Cocok ditemani dengan teh atau kopi hangat. Apa lagi ditemenin sama kamu. Iya, Kamu.

Kuliner Khas Semarang

Pisang plenet khas Semarang
Pisang Kepok yang dibakar diatas arang

Kuliner khas Semarang Wajib Coba
Pisang Plenet



Es Cong lik

Es cong lik kepanjangan dari Es wong cilik. Yang berarti es merakyat tapi rasanya juara banget. Terdiri atas agar agar yang dipotong kotak kotak diletakkan kedalam gelas plastik atau mangkok. Ditambah dengan kelapa muda, bubur mutiara, buah siwalan. Diatasnya diberi es puter. Jika suka bisa ditambah kan buah durian.

Es puternya ini masih dibuat secara manual. Kayak bikin es puter zaman jadul dulu. Tanpa menggunakan pemanis dan juga pengawet. Rasanya masih original, rasa asli dan segar buah. Rasanya tidak terlalu manis, lumer dimulut. Apalagi buah siwalannya, hmmm rasanya kenyal kenyal aduhai.

Es Conglik Khas Semarang
Es Cong Lik  dan Es Puter 


Nasi Goreng Babat

Waktu menunjukkan pukul 11 malam, tapi sang perut masih kelaperan. Terakhir kami menyantap satu lagi kuliner khas Semarang, yakni nasi goreng babat. Letaknya dekat dengan pasar Semawis, mungkin sekitar 200 meter. Disana ada ibu penjual Nasi goreng babat yang rame dikunjungi keluarga dan anak muda gaul.

Tempatnya sederhana, bisa duduk diatas kursi kayu panjang atau duduk lesehan diatas tikar. Nasi goreng babat ini rasanya mirip nasi goreng jawa hanya saja ditambahkan potongan babat didalamnya. Rasanya pedas, super gurih dan sedap karena menggunakan bumbu pilihan. Lebih nikmat lagi dengan tambahan telor ceplok dan petai goreng. Hmmm ngiler.
Nasi Goreng babat kuliner khas Semarang
Nasi Goreng Babat 

Selain berburu kuliner, di pasar Semawis ini kamu bisa karaokean, lho. Bukan karaokean malu malu dalam ruangan khusus, tapi dalam tempat terbuka. Didengerin orang yang sedang menikmati makan malam. Kalo punya suara bagus, boleh lah uji nyali disini. Moga aja piringnya nggak pecah atau malah bikin mual yang sedang asyik makan. Hehehe

Mau pijat juga ada, tapi bukan pijat plus plus, ya. Jijay, pikirannya parno melulu. Mau pingin tahu tentang masa depan kamu, nikah kapan dan dengan siapa atau menunggu ketiban rezeki, atau mungkin ….. Kepoin mantan? bisa. Disini ada peramal pembaca kartu Tarot. Kalau saya pingin tahu satu hal, kapan angin berhembus membawa takdir tubuh ini berkelana dengan kereta Transiberia menuju Rusia?

Terakhir tips dari saya. Karena berada dikawasan pecinan, disini ada penjual kuliner dengan bahan dasar Babi. Hanya sedikit sih. Nah, kalau mau beli makanan jangan ragu untuk bertanya. Halal atau tidak. Ok ?

Happy mbadok :)

You Might Also Like

17 comments

  1. pilihan 3 menunya endes mbak karena saya ndak pernah mkn nasi goreng babat, pisang plenetnya saya ngebayangin aroma pisang bakarnya duh kah, dan es wong cilik itu juga rasanya lama sekali ga makan buah siwalan dulu makannya kalo pas lagi ke gresik dan skitarnya saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuliner Semarang memang endes gulindesss bikin ngcesss banget. hehehe
      Iya, di Gresik dulu banyak penjual Siwalan. sekarang bisa dihitung dengan jari penjual siwalan

      Delete
  2. Ojo mbadok wae, mengko tambah lemu lho hahaha
    Btw awakmu dhurung moleh tha ??? opo wes pindag mrene wae ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk
      Sik nang Omah, Rabu aku mbalik nek nggak kami.
      Dirimu ape moleh ta? Yukkk Kopdar maneh.

      Delete
  3. Mba zulfa ko ga cerita najin pas plesiran...dia mkn apa dll (^.^)v

    ReplyDelete
  4. Mba zulfa ko ga cerita najin pas plesiran...dia mkn apa dll (^.^)v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe kalau nggak ada Najin berarti daku plesiran sendirian.
      kalau sama dia pasti ada cerita dia, hehehe

      jadi emak nakal sementara

      Delete
    2. Oo najinnya ngga ikut? Uda pulang duluan kah? Saya kepo :D

      Delete
    3. Najinnnya nggak mau ikut, amunya dirumha sama mbah ti nya. :)

      Delete
    4. Ya Allah so sweet bgt sih...lhah :D ...uda lengket sm mbah uti nya y mba,pke bhs apa sm mbah uti?...ato krn takut cape ngikutin mamanya(eh manggilnya apa y)..muter mulu hehe...sepertinya sy butuh rekreasi,pgn bisa jl2 ky mb zulfa

      Delete
    5. Mungkin karena dia lelah, Ammy nya kebayakan jadwal mbolang, hehehe

      Delete
  5. Hahahaha keinget banget malam ini kita udah hampir-hampir teler tapi masih nekat next kuliner yaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuhuuuuuuu, untung ada yang diajakin sepiring berdua *kedip2mata

      Delete
  6. semarang banyak juga kuliner-nya ya ....
    pengen nyoba pisang plenet ah ...
    kalau saya yang inget ... semarang ya lumpia ... he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, Klo semarang pasti identik dengan Lunpia. Padahal banyak banget kuliner lain yang enak enak.

      Delete
  7. Huh, sebel sebel, sebel......! ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar ya mbak Sabar.... monggo ngiler, *dibalanggedang :))))

      Delete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram