Hawa Mahal, Istana seribu jendela di Kota Jaipur, India

January 07, 2017

Hawa mahal pink city

Istana berdesign mahkota Dewa Krishna ini menjadi  "jendela" menatap kehidupan luar oleh para wanita keluarga istana

Kami menolak dengan halus dan memilih berjalan kaki. Kami memang berencana susuri kota tua Jaipur dengan berjalan santai. Lagipula, jarak City palace dengan Hawa Mahal juga tak terlalu jauh. Tapi bapak tua yang kurus, dengan wajah tegas, tulang pipi menonjol, gigi yang terhitung dengan jari, berkulit gelap, rambut memutih mengenakan baju yang lusuh meminta kami menaiki Rikshaw (becak) dengan bayaran seikhlasnya.

Kasihan, kami mengiyakan tawarannya. Mungkin si bapak tidak makan seharian. Mungkin beliau butuh uang buat setoran sewa becaknya hari itu. Atau mungkin ada keperluan dirumah. Pikiran ini berkecamuk dengan kerasnya.

Antara kasihan dan nggak tega sebenarnya. Gimana nggak, bapak tua harus mengayuh becak dengan badan saya segede trailer penuh muatan, ditambah si kecil Najin dan Shah jahan. Ya, sudahlah.

Perjalanan lancar namun ramai dengan suara telolet kendaraan. Mendekati Hawa Mahal jalanan sedikit nanjak. Si bapak turun dari pedal dan memilih mendorong becak. Shah jahan memilih jalan kaki karena kasihan sama si bapak. Eh, ternyata dia memaksa Shah Jahan tetap duduk. Kami memaksa turun dan jalan, si bapak tetap menolak dan tidak mau berhenti mendorong becak.

Khoi bhat nahi, Khoi bhat nahi ucap si bapak dengan peluh bercucuran. Disitu saya bingung, tak mungkin meloncat diantara keramaian. Meski kurus tetapi gurat otot yang menonjol dari kulitnya menunjukkan betapa kuatnya si bapak. Seorang pekerja keras. Disitu saya merasa nggak enak.

Shah Jahan menyodorkan Rupees sesampainya kami di depan Hawa mahal. Sukriyah, ucapan terima kasih beliau ucapkan berkali kali. Saya turun dari becak dan berucap Sukriyah dengan senyuman.

Dan dengan ramahnya, dia bilang akan menunggu kami hingga selesai dan mengantarkan kami kembali ke tempat parkir. Shah Jahan bilang bahwa kami akan jalan jalan dulu di pasar seni dan makan. Baru kami akan kembali ke tempat parkir mobil. Beliau bilang  akan kembali ke Hawa mahal untuk mengantar kami. Baiklah.

Hawa Mahal berada ditepi jalan utama kota Jaipur. Tepat disamping perempatan jalan. Kendaraan lalu lalang tak beraturan. Suara bising kendaraan menemani cukup membuat kepala pening. But, this is India, complicated is interesting thing.

Wajah Hawa Mahal nampak menonjol diantara bangunan sekitar. Tembok berwarna merah muda menjulang setinggi 15 meter. Dipenuhi dengan deretan dan susunan jendela berjumlah 953. Banyaknya jendela memenuhi muka istana, hal ini membuat Hawa mahal dijuluki sebagai istana seribu jendela.

Design jendela terinpirasi oleh mahkota Dewa Krisna. Design seperti ini dikenal dengan nama Jharokhas yang memiliki detail yang rumit hingga nampak seperti sarang lebah. Dihiasi dengan kaca warna warni. Ketika sinar mentari menyapa kaca, akan memantulkan efek cahaya cristal dikeseluruhan bagian dalam istana.

Hawa Mahal terdiri atas lima lantai. Dan terhubungan langsung dengan Zenana, yakni tempat tinggal para perempuan keluarga istana. Keseluruhan istana ini merupakan bagian dari City palace yakni istana tempat tinggal Maharaja yang saya kunjungi sebelumnya.

Jendela jendela ini dimaksudkan agar para wanita keluarga istana dan juga pelayan bisa melihat kehidupan diluar istana termasuk menyaksikan festival tanpa terlihat dari luar. Hal ini dikarenakan para perempuan keluarga kerajaan harus mematuhi aturan “Purdah” yakni menutup wajah atau tidak boleh menampakkannya didepan khalayak umum.

Merayapi pesona megah yang ditawarkan Hawa Mahal, pikiran ini sejenak diajak merenung tentang realita kehidupan para wanita keluarga biru didalam istana. Seperti kata pepatah, hidup disangkar emas tapi aku tak bebas.

Para wanita keluarga biru ini secara materi tak kekurangan apapun. Badan berhiaskan emas. Mahkota penuh dengan permata. Badan senatiasa berbalut lembutnya kain sutra. Tapi mereka tidak memiliki kebebasan seperti wanita lain pada umumnya.

Terbuat dari emas atau permata atau apapun… sangkar tetaplah sangkar.

Selain befungsi sebagai “mata kehidupan” para wanita keluarga biru. Jendela ini juga difungsikan sebagai pendingin istana. Fungsinya seperti AC. Jendela didesign sedemikian rupa sehingga aliran udara manghasilkan efek dingin bagi keseluruhan istana. Oleh karena itu istana ini dinamakan Hawa Mahal. Hawa berarti angin, hawa atau udara.

Letak Geografis Kota Jaipur berada di pinggiran padang pasir Tsar. Merupakan padang pasir terbesar di India. Hawa panas senantiasa menyapa Ibukota Rajasthan ini. Jendela ini sangat membantu kehidupan dalam istana melawan hawa panas, khususnya di musim panas yang mencapai 50 derajat celcius.

Hawa Mahal dibangun pada tahun 1799 Oleh Maharaja Sawai Pratap Sing. Yang dikenal sebagai Maharaja Rajput, penguasa wilayah Jaipur.

Hawa Mahal didesign oleh Lal Chan ustad yang mengawinkan perpaduan design arisitektur Hindu, Rajput dan Islam. Gaya Islami era kekaisaran Mughal dapat dilihat dari tatanan bebatuan menerawang pada jendela, hal yang sama saya dijumpai ketika berkunjung ke istana Fatehpur Sikri di kota Agra.

Ketika asyik memotret dan mengambil video, mata saya tertumpuk pada penampilan tak biasa. Sesosok gadis bermahkota wig warna pirang. Mengenakan baju warna pink ala putri raja. Super pede foto bak super model Cindy crawford. Saya yang tadinya ingin narsis jadinya mundur cantik.


Seiring tenggelamnya mentari diri di ufuk barat, tenggelam pula harapan saya untuk memasuki Hawa mahal. Karena datang terlalu sore, petugas tidak mengizinkan kami masuk kedalamnya. Yakni area yang dikenal dengan Zenana, istana tempat tinggal para wanita keluarga biru. Jadi, kami  hanya bisa menikmati bagian muka istana yang kerap dijadikan ikon kota Jaipur ini.

Sore yang sedikit mengecewakan kami riangkan dengan berbelanja. Kebetulan, letak Hawa Mahal berdampingan dengan pasar seni kota Jaipur. Disini banyak dijumpai pernak pernik khas Rajasthan yang sangat menarik untuk dibuat oleh oleh. Mulai sandal ala Aladdin, Turban, baju dengan hiasan kaca, rok, sarung bantal, sprei, hiasan dinding semuanya dijual dengan harga bersahabat.

Shah Jahan meminta saya untuk membeli pakaian yang saya inginkan. Dan beberapa pernak pernik cantik buat dekorasi rumah. Saya menolaknya. Bukan karena saya tidak menginginkannya tapi karena dirumah sudah banyak dan tidak terpakai. Mending duitnya disimpen buat beli tiket Trans Siberia. Hehehe, dasar emak tukang mbolang!

Diseberang jalan, terdapat sederet restoran yang berada di lantai dua. Disini kita bisa duduk santai minum dan makan sambil menikmati megahnya Hawa Mahal. Restoran ini menjadi tempat foto favourite wisatawan dengan latar belakang Hawa Mahal.

Karena kami ingin makan ayam (non vegetarian) kami memutuskan mencari restoran lain. Di jalan Shah jahan bertemu dengan salah satu penduduk lokal seorang muslim. Setelah berbincang, beliau menunjukkan salah satu restoran halal yang dekat dengan Hawa mahal dan terkenal kelezatannya. Jaraknya sekitar 200 meter ke arah utara dari perempatan Hawa mahal.

Sebelum beranjak pergi, saya mencari bapak tukang becak yang mengantarkan kami. Kami tidak melihatnya. Kami memutuskan berjalan kaki sambil menikmati suasana sore kota Jaipur yang segar.

Berbeda dengan deretan toko di pasar seni sekitar Hawa mahal dengan dekorasi gelantungan baju dan souvenir. Disini lebih banyak ditempati oleh deretan toko grosir. Jalanan dijejali dengan gerobak khas India penuh dengan tumpukan barang.

Kepulan asap mengantarkan aroma menggugah selera. Potongan ayam berukuran montok menggantung didepan restoran. Restoran bernama M.M Khan Hotel  ini menyajikan berbagai menu Mughlai dengan sentuhan rasa Khas rajasthan. Mughlai adalah Makanan khas kekaisaran Mughal yang memadukan masakan India dan persia.

Terbiasa menikmati menu Mughlai di salah satu restoran langganan di Delhi, saya memesan makanan Favourite yakni Butter chicken. Selebihnya, seperti biasa kami memesan menu baru yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Kami memesan 4 menu masakan berbeda. Jika berlebih, akan kami bungkus dan dimakan di hotel.

Setelah menungu tak terlalu lama, masakan tersaji didepan meja. Satu porsi makanan dihidangkan sangat banyak. Menu makanan Mughlai yang didominasi ayam ini biasanya dipesan dengan tiga porsi pilihan, quarter, hal dan full chicken. Dan kami memesan quarter portion untuk setiap menu yang kami pesan.

Shah Jahan bilang kepada pelayan, bahwa kami memesan quarter portion, kenapa dikasih half portion? Dengan senyum ramah, pelayan bilang ini quarter portion. Glodak! Makanan sebanyak ini untuk kami bertiga? baiklah, sumbu nggeragas saya meninggi. Makan perlahan hingga kenyang. Alhamdulilah makan sedap, porsi banyak dan murah.

Kami hanya bisa menghabiskan dua porsi makanan, selebihnya kami bungkus dan akan kami berikan kepada bapak tukang becak dan sopir kami.


Untuk menurunkan makanan dalam perut, kami memutuskan jalan kaki menuju Hawa Mahal lagi. Ditengah pasar saya berhenti disalah satu toko untuk membeli sandal Rajasthan yang cakep dan khas itu. Murah sekali, sepasang sandal dihargai hanya Rp.30.000 saja. Kalap, akhirnya saya beli lumayan banyak. Lumayan buat oleh oleh, kebetulan sebentar lagi saya pulang kampung, Indonesia tercinta.

Sampai di depan Hawa Mahal, mata saya semakin kinclong. Penampakan Hawa Mahal di malam hari sungguh menggoda mata. Disinari lampu sorot warna orange, kaca warna warni yang menghiasi jendela memantulkan efek gemerlap.

Sambil menunggu bapak tukang becak tadi, saya pergunakan waktu dengan memotret pesona Hawa Mahal di malam hari. 



Lama menunggu, bapak pengayuh becak tak kunjung tiba. Akhirnya kami memutuskan kembali ke tempat parkir dengan menggunakan e-riskshaw.
Hingga hari ini saya masih teringat gurat wajah si Bapak. Ketika malas menerjang, saya teringat beliau untuk tidak malas malasan bekerja dengan penuh semangat.

Sisi lain sari pati perjalanan kali ini, saya bersyukur dilahirkan dari keluarga biasa saja.  Dan tidak jadi menikah dengan pangeran William. Andai saja saya seorang kelurga biru atau menikah dengan pangeran William, saya mungkin tak bisa menikmati hidup seperti saat ini. Nggak bisa solo travelling atau sekedar makan pentol pinggir jalan. Lebih menyenangkan, menikmati hidup bebas tanpa banyak batasan dan larangan seperti wanita keluarga istana.

Video eksotisme Hawa mahal tayang di Trasns 7

You Might Also Like

33 comments

  1. aduhh aduhh mbaak .. menemukan blogmu jadi semakin mupeng ke India .. setelah selama ini termehek-mehek liat foto2 teman yang sudah beberapa kali ke Indiaah .. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga disegerakan berangkat ke India ya... Aamiin

      Delete
  2. Mak, itu yang pake wig itu ngapain dia gitu? :D model ya..Enak banget tuh motret dia dengan pose begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, model jadi jadiaan. cuman anak biasa nya aja sama temennya mau foto foto an gitu. disiul e sama cowk cwok yang lewat

      Delete
  3. Tukang becak kayak gitu banyaaak banget. Saat udah di Indonesia kadang mikir, mereka rada maksa krn mereka emang butuh duit.

    Tapi tetep sebel pas di Delhi mibta diajakin ke Candhi Chowk eh diajakin ke toko sari mahal haha.

    Mbak, ilerku netes lihat makanannya. Slruupp. Dan, salam buat mbak berambut aneh.

    Omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget. Tapi yang ini beda, makanya shah jahan iya kan. Biasanya shah jahan galak sama mreka yang super ngawur adang nutupin jalan.

      heheh, klo itu kamu harus tegaas, no store.

      Delete
  4. Nice!! Mbaknya tinggal di India ya? Aman nggak sih buat backpackeran ke sana? Kok banyak yang bilang ngga aman gitu.. padahal mupeng :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks. Iya, tinggal di India, sekarang sudah nggak lagi.
      Aman kok backpackeran disana, asal jangan sendiri aja, bawa teman setidaknya satu.

      Delete
  5. Ini konsepnya kayak mahkota dewa kresna gitu yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, desig mahkota Krishna. Persis ya ?

      Delete
  6. Bagus ya mbak Zulfa pemandangan India ternyata 😍 dan Cindy si model itu bisaan si mbak ngambilnya hehe

    ReplyDelete
  7. Bagus ya mbak Zulfa pemandangan India ternyata 😍 dan Cindy si model itu bisaan si mbak ngambilnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, India memang incredible banget, baik egunungan atau tempat bersejarah.

      Hehehe, iys itu cewek pede banget padahal banyak lhooo yang mantengin :)

      Delete
  8. Akh cakep bener ini Hawa mahal, jadi selain di Indonesia punya bangunan seribu pintu (lawang sewu) di India juga punya bangunan seribu jendela...

    ReplyDelete
    Replies
    1. yo i, Klo lawang sewu pintu horizontal, klo ini jendela vertical. sama sama cakep

      Delete
  9. Aduhh ini bikin tambah mupeng ke India jadinya. Apalagi liat makanannya, kayaknya enak banget ya.videonya keren, sayang gak masuk kedalam ya mbak.btw, zaman dulu kasian ya perempuan istana,gak boleh jalan jalan keluar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayooo nabung buat melihat India. tapi jgn lupa keliling nusantara.
      makanna India memang enak banget.
      Dalamnya, juga cakep, taapi senada dan seiram dengan city palace.
      kasihan , mnding jadi orang biasa kayak bisa, bisa keman mana sesuka hatti

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Serius Mak??? Perasaan kurang enak loh Mak!! Semuanya berminyak dan berbumbu dasar "curry " gitu. Atau mungkin krn saya tidak begitu suka dgn aroma kari..���� atau blm eksplor lbh byk street foodnya India waktu ke Mumbai. Tp sy suka naan bread, paratha atau yg sejenisnya..

      Delete
    4. Reply

      Serious enak banet kok, mild ... ngaak terlalu rempag rasanya, tapi ya itu oily banget :)

      Delete
  10. coba bapak yang mengayuh becak, ikutan difoto. Mungkin bakalan ada yang mau naik becaknya lagi, nantinya ongkos becak ditambah ongkos lelah, wkwkwk..
    tapi sayang banget ya, nggak bisa lihat ke dalam :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, ak ada fotonya. cuman dari beakang. Aku sering jumpa bapak becak yang maksa, cuman ini beda an kelihatan gimanna gitu.

      Bisa lihat kedalam, tapi saranku angan terlalu sore.

      Delete
  11. amazing banget istana ini ... kalau lihat banyaknya jendela .. berarti banyak juga cewe2 ningratnya dong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cewek Ningrat banyak tapi tinggalnya dalam istana, mreka masih tinggal di istana disebelah hawa mahal

      Delete
  12. banyak banget ya tempat wisata di india yang bisa kita kunjungi..

    ReplyDelete
  13. Kagum dengan detail jendela-jendelanya. Bangunannya besar, seberapa banyak penghuni di dalamnya mbak?

    Hawa Mahal = Udara Mahal?
    Mungkinkah karena tertutup?

    ReplyDelete
  14. Istana udara mbak. tapi bisa juga sih, karena udara memang mahal, heheh
    Klo sakit tuh bayar banyakkk

    ReplyDelete
  15. sukaaa banget liat foto hawa mahal ini... cocok ya mbak ama namanya, memang hawa2nya udh kliatan mahal :D... bisa simetris gitu ... moga2 thn ini aku bisa ke india, amiiiiin yg kenceng :D..penasaran bgt ama kotanya.. walopun dgn segala macam scam2 di sana dan orang2 yg kdg suka bikin ga tega kayak bpk pengayuh becak td :(..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga mggak bisa keliling India very sooon
      cakep kok India dan banyak hal disyukuri dalam hidup sekembalinya dari sana

      Delete
  16. Mak, instagrameble banget ini. Kereeeen. Ternyata yang seribu seribu gak cuma Di Indonesia ya (lawang sewu) tapi di India juga da. hihhihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuhuuu, jumlahnya sebenarnya nggak seribu tapi saking banyakanya jadi disebut seribu, hihihi

      Delete
  17. aduhh klo liat dr blog mb,seakan2 sy ngayal aja lg dindia.kebetulan jg sy sk bgt ma film india,kpn yaaa sy bs ke sana x aja ktm artis india shashank vyas uhuiiiii.....😍😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berhenti ngayal, ayooo make dream come true, hehehe

      Delete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram