Merayapi Gagahnya Amer Fort, Jaipur

16:56:00

Amber Fort

Istana bergaya arsitektur khas Rajasthan ini berdiri gagah diatas perbukitan dan mengayomi sederet istana megah didalamnya.

Seorang anak kecil menyodorkan menu dihadapan kami. Bandannya kecil, ringkih, kulit sedikit gelap, rambutnya tebal mengkilat mengenakan kemeja bermotif kotak kotak dimasukkan kedalam celana panjangnya, suara sedikit serak menawarkan kami chai. “ha, beta”  Jawab saya dengan lirih.

Usianya tak lebih dari 10 tahun, dalam matanya terbaca sederetan kisah kerasnya kehidupan. “Pemandangan” yang sangat biasa melihat anak kecil bekerja di negeri Gandhi ini. Hanya bisa melihat dan tak bisa berbuat banyak sering membuat dada terasa sesak.

Pikir saya, setelah menempuh perjalanan malam selama hampir  5 jam dari Delhi menuju Jaipur, sesampainya disana, saya akan menikmati aneka gorengan khas Rajasthan. Memasuki restoran dan melihat pelayan kecil di hadapan saya, tetiba nafsu makan lenyap. Entah mengapa, setiap saya mendatangi restoran dan melihat anak anak bekerja sebagai pencuci piring, bersih bersih atau mengantar makanan, nafsu makan langsung kisut.

Saya jadi nggak tega. Akhirnya kami hanya memesan chai dan dua piring Samosa buat si kecil. Tak banyak yang bisa kami lakukan, hanya bisa memberi tips lebih.

Sisi kehidupan yang terekam disisi jalan ini tentunya sangat berbeda dengan apa yang ada diseberang sana. Sebuah istana megah berdiri gagah diatas bukit yang dikenal dengan Amer Fort  atau Amber Fort. Seolah menggambarkan kehidupan nyata di India, betapa si miskin dan si kaya terlihat nyata. Jumlah bilyuner di India meningkat pesat, tapi kemiskinan begitu pekat.

Untuk menuju Amer Fort yang berada diatap perbukitan ada dua cara. Yakni berjalan menanjaki tangga yang meliuk liuk atau menunggang gajah. Shah Jahan bertanya kepada si kecil apa dia mau menunggang gajah. “Noooo, I am Affraid. Elephan so big yaar” hehehe aslinya dia pingin naik (emaknya juga) tapi dia udah keder duluan menatap gajah India yang memang super jumbo.

Sesaat kami berdiri menumbukkan pandangan ke arah Amer fort  yang berdiri megah memeluk atap perbukitan. Istana yang dibangun pada tahun 1550 berada diatas Cheel ka Teela yang berarti bukit Elang. Cheel ka teela sendiri merupakan bagian dari rantai perbukitan Aravalli yang membentang sejauh 692 KM di India bagian Utara. Anugerah alam ini tak hanya menyajikan pemandangan cantik berupa serakan bukit menghijau mendekap Cheel ka teela dari segala sisi, sekaligus menjadi benteng pertahanan yang kokoh.

Tepat di kaki bukit menghampar sebuah danau besar dihiasi sebuah taman ditengahnya. Danau bernama Maota yang berada di kaki bukit istana ini merupakan danau buatan untuk menampung air hujan. Difungsikan sebagai pasokan air seluruh istana. Taman ditengahnya konon digunakan Maharaja untuk menanam Saffron.

Amer Fort atau Amber fort yang berada di Kota Jaipur, propinsi Rajasthan, India ini didirikan oleh Raja Shri Maan Sing Ji Saheb atau akrab dikenal sebagai Maharaja Man Sing I. Beliau sendiri adalah seorang Raja dari Amber.

Bersanding dengan danau sebuah taman yang digunakan para pejalan kaki untuk memasuki istana. Taman bernama Dil Aram Bagh yang berarti menenangkan hati ini dihiasi dengan pavilliun yang saling berhadapan. Pavilliun yang menua dihinggapi puluhan burung dara yang asyik bercengkrama. Sementara didepannya sebuah kolam berhias deretan air mancur membelah taman.

Taman yang asik buat leyeh leyeh menatap pesona istana ini menghantarkan kaki kami menapaki liukkan tangga menuju istana yang berada diatap bukit. Tangganya landai dan meliuk liuk. Dari bawah sini, tangga ini membentuk zig zag. Dengan menapakai tangga kami bisa melihat secara jelas perbukitan disekitar yang dimahkotai tembok benteng.

Amer Fort, Jaipur, rajasthan, India

Keseruan menyapa ketika mendekati pintu gerbang utama istana. Kawanan gajah melintas dengan membawa rombongan wisatawan mancanegara. Si kecil langsung ngibrit minggir. Saya dan Shah jahan malah menggodanya dengan memeganginya dan mendekat dia ke gajah. Maksud hati biar dia nggak takut sama gajah. Eh, mukanya memerah, teriak teriak, marah sambil ketawa pula.

Suraj Pol yang berarti gerbang matahari menjadi pintu gerbang utama memasuki Istana. Tinggi menjulang dipenuhi dengan dekorasi elemen bergaya Hindu. Terdapat beberapa jendela berukir yang dipergunakan penjaga untuk mengawasi siapa saja yang memasuki istana. Suraj pol menjadi saksi ketika bala tentara memenangkan peperangan yang disambut dengan suka cita dan kemeriahan disini.

Ingatan ini diajak berkelana dimasa keemasan. Masa dimana para Maharaja Hindu memerintah negeri berjuluk Hindustani ini. Mengenakan Turban dikepala, wajahnya tegas dengan kumis panjang terpelintir diujungnya, pakaian kebesaran berwarna keemasan dan bersepatu Aladdin. Maharaja menunggang gajah gajah diikuti oleh para ksatria menunggang kuda.

Golden triangle


Mengedar pandang ke seluruh bagian dalam istana membuat dorongan diri  terlempar ke masa lalu semakin dalam. Dimana saya berdiri setelah melewati Suraj pol adalah tempat para prajurit istana berkumpul. Senjata canon dipajang di pelataran terbuka nan luas dikelilingi deretan tembok tebal. Diatas tembok berderet dekorasi berbentuk kubah. Disinilah para kawanan gajah menurunkan wisatawan. Sampai disini wisatawan tidak dikenakan biaya alias gratis.

Kami tapaki tangga menuju ke bagian utama istana. Untuk memasuki bagian dalam Istana wisatawan asing dipungut biaya  500 Rupees atau  Rp. 100.000. Disini juga tersedia tiket terusan dengan harga 1000 Rupees untuk menuju memasuki Jantar mantar dan City palace.

Amer Fort, Jaipur, rajasthan, India

Sebuah lekuk gerbang berhiaskan lukisan warna warni khas Rajasthan menyambut kami. Pertama kami diajak menengok sisi religius para Maharaja dengan mengunjungi sebuah kuil tua yang berfungsi sebagai tempat beribadah atau pemujaan.

Area kuil berdampingan dengan sebuah bangunan mirip pendopo yang disanggah dengan puluhan pilar berukir. Bangunan bernama Diwan-I-am  ini berfungsi sebagai tempat bermusyawarah antara raja dan masyarakat. Tempat ini juga digunakan sebagai tempat perayaan festival termasuk ulang tahun sang Maharaja.

Bersinggungan dengan Diwan-I-am terdapat ruang memanjang yang digunakan sebagai kantor administrasi kerajaan.

Selanjutnya mata ini tersihir oleh dekorasi cantik Ganesha Pol. Pintu gerbang berlantai dua ini sering dijadikan ikon utama Amer Fort.  Tak hanya  karena designnya yang artistik, juga keseluruhan muka gerbang berlukis bebatuan warna warni dengan eleman khas Rajasthan. Yakni berupa gambar bunga, daun dan juga dekorasi mozaik dengan detail detail yang sangat rumit.

Ganesh Pol mengajak kami melewati ruangan  panjang, nampak seperti sebuah lorong beratapkan langit langit penuh dengan lukisan. Setelah itu mata ini disegarkan pada bagian istana yang terbuka dengan taman cantik ditengahnya. Keseluruhan bagian istana ini berfungsi sebagai tempat tinggal Maharaja dan bercengkrama dengan permaisuri.

Taman Mughal ini dibuat dengan bentuk bintang ditengahnya dan dikelilingi taman berbentuk persegi. Hal ini melambangkan keharmonisan antar umat beragama. Lambang bintang sebagai simbol umat muslim sedangan bentuk persegi sebagai simbol umat agama Hindu.

Taman ini membelah Shees mahal dan Sukh Niwas yang saling berhadapan. Sukh Niwas sendiri diciptakan sebagai pendingin ruangan didalam istana. Ruangan ini dipenuhi dengan pipa pipa air dan lengkung lengkung jendela. Aliran udara melalui jendela berhembus melewati pipa air, meciptakan efek segar dan dingin yang menebar ke seluruh istana. Kalau zaman sekarang, fungsinya seperti AC.

Suara kerumunan wisatawan yang saling berbincang menggema di Shees Mahal. Shees Mahal yang berarti istana kaca ini menjadi pusat perhatian utama wisatawan termasuk kami. Berkerumun, sekedar berfoto atau menyaksikan keseluruhan Istana kaca yang dihiasi oleh mosaik bermotif, kaca berwarna dan cermin mulai dari lantai ke langit-langit hingga tembok. Hal yang paling menakjubkan untuk mengamati efek cermin ini adalah ketika satu lilin dinyalakan refleksinya akan menyebar keseluruh ruangan. Menciptakan sebuah gemerlap keindahan istana memukau.

Tiba tiba si kecil berbisik ditelinga “Ammy, aku mau pipis”. Duh, dimana toiletnya? Gerak mata saya berpindah ke kanan dan ke kiri. Shah Jahan menghampiri petugas keamanan untuk menanyakan letak toilet. Beliau bilang, letaknya agak jauh.

Shah Jahan bergegas mengajak si kecil menuju toilet dan meminta saya untuk terus menjelajah istana sendirian. Baiklah, siapa takut. Saya menuju bagian atas istana yang letaknya tepat didepan. Terlihat danau Maota, kota Jaipur dan menatap serak perbukitan yang berada di depan dan samping yang bermahkota tembok pertahanan.

Elephan for explore India


Saya berbalik menuju bagian belakang atas istana. Lengkung pintu dan ruangan membentuk bagaikan sebuah labirin tua yang cukup menyesatkan. Ditambah lagi dengan undakan anak tangga yang menikung tajam menuju ruangan lainnya.

Seorang penjaga mendekati saya. Berperawakan tinggi, berkumis tipis, rambut klemis berbungkus topi dan kulitnya sedikit cerah. Berpakaian seragam dengan tentengan senjata laras panjang. “Madam, please follow me” ucap penjaga. “Duh, mau dibawa kemana dakuw? apa salah ku” huaaaa Jantung berdetak kencang. Apalagi suasana sepi sekali. “Shah Jahan dimana?” umpat saya dalam hati.

Bapak petugas membawa saya melewati ruangan. Menapaki tangga. Berbelok. Melewati lorong. Menapaki tangga lagi. Lorong. Ruangan. Dengan sorot matanya yang tajam, beliau memastikan saya dalam jangkauan matanya. Bahkan ketika melewati tangga dengan kemiringan tajam, beliau seolah memastikan saya melewatinya dengan aman. Semakin lama detak jantung saya semakin cepat. Entah karena takut atau saya mulai … jatuh hati *dikeplaktembak

Berhenti sejenak, beliau menunjukkan saya sebuah ruangan yang sepi. Tanpa kata. Saya menatap ke sekeliling dengan langkah perlahan. Matanya mengarah padaku dan kemudian…berlanjut berjalan lagi. Entah kenapa, saya mempercayainya dan terus mengikutinya.  Jadu hai tera hai jadu….

Dan sampailah saya pada undakan yang sempit dan melikuk tajam. Kemudian disambut dengan sinar mentari dan deretan “tembok china”. Sepi, yang ada hanya saya dan 3 turis dari Tiongkok. Dari sorot matanya seolah berkata kalau bapak petugas meminta saya untuk menikmati pemandangan bagian belakang atap istana. Dan beliau berdiri berjaga jaga disana. Sesekali menatap saya yang asyik menikmati pemandangan disekitar. Saya bingung dengan beliau, apa beliau minta uang sebagai guide? Minta hati? (disitu saya merasa sangat GR) Atau? Ahhh sudahlah. Salah tingkah jadinya.

Perbukitan panjang beratapkan tembok benteng. Sekilas nampak seperti tembok benteng China. Sebuah istana berdiri diujung bukit lainnya.  Angin segar menerpa. Ingin rasanya duduk berlama lama disini.

Ketika saya mulai berbincang dengan ketiga turis dari China, seketika bapak penjaga tersenyum dan meninggalkan saya. Saya salah sangka. Ternyata bapak petugas yang usianya terbilang muda itu ternyata Arjuna. Ketika melihat saya jelajah istana sendirian, beliau ingin menunjukkan dan memastikan saya aman aman saja. Ya Allah, baik banget. Disitu saya merasa berdosa.

Didalam bagian istana ini terdapat pintu rahasia yang terhubungan dengan jalan setapak menuju Jaigarh Fort yang berada di bukit lainnya. Jalanan setapak ini difungsikan untuk melarikan diri bagi keluarga istana jika terjadi serangan oleh musuh. Persis yang seperti di film film, hehehe.

Sendirian, saya langkahkan kaki bersama turis dari Tiongkok menuju bagian istana  lainnya yang dikenal dengan Zenana. Deretan kamar serta dengan lengkung lengkung jendela melingkari keseluruhan Zenana. Disinilah Ibu Ratu, permaisuri serta keluarga istana perempuan tinggal. Termasuk para selir raja serta wanita pelayan istana. Dan di Istana inilah saya berjumpa kembali dengan Shah Jahan dan Si kecil.

Pembangunan Amer fort memakan waktu hingga 64 tahun lamanya hingga nampak megah seperti saat ini. Selain Taj Mahal, Amer fort yang masuk dalam warisan dunia UNESCO ini juga menjadi tempat favourit wisatawan mancanegara. Sekitar 5000 wisatawan berkunjung ke  Amer Fort setiap harinya.

Amer Fort, Jaipur, rajasthan, India


Kami kembali menuju  deretan restoran yang berada disebarang jalan istana. Anak kecil pelayan restoran yang saya jumpai tadi pagi sibuk dengan para pembeli. Dia tak sendirian, masih ada anak anak lainnya yang “berprofesi” sama.

Sejatinya perjalanan tak hanya mengundang detak kekaguman juga menggugah jiwa kemanusiaan dalam diri jika kita peka dengan penglihatan.






You Might Also Like

20 comments

  1. Perjalanan malam di india itu aman ngak sech ??? kok kalo akau baca2 itu agak2 menyeramkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau cowok nggak seberapa menyeramkan, tapi kalau cewek, Iya.
      Aku sering perjalanan malam kok, aman aman saja bahkan cenderung lancar klo di India. Maklum negeri banyak orang, jadi banayak seliweran di Jalan.

      Delete
    2. Dia sana adabegal rampok gitu ngak di jalanan nya ???

      Delete
    3. Kadang ada. makanya kadang ngeri journey malam hari Tapi klo jalan rame, nggak masalah

      Delete
  2. kalau baca postingan india saya tuh ingetnya india itu belum modern, padahal dari segi IT orang orang yang hijrah ke amerika banyak sekali dan menguasai IT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, India itu bagaikan dua mata sisi Uang, satu ditarik ke masa lampau dan satu lagi ditarik menuju kemajuna teknologi. Terlihat sekali jomplangnya

      Delete
  3. Asik jadi biaa belajar bahasa india dikit2, “ha, beta” itu artinya apaan yak?

    ReplyDelete
  4. cantik ya Amer Fort ini klo berkesempatan ke india, rajasthan ini harus masuk list, trus benteng ini sering muncul di banyak film india

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, sering masuk film di India. Bahkan film Hollywood atau hongkong sering shoot disini

      Delete
  5. tamannya apik banget. Gajahnya gede dan tinggi. pengen naik tapi aku takut ketinggian...

    ReplyDelete
    Replies
    1. AKu dewe wedi numpak gajah sak mono gedene, tapi sik kepingin numpak, hehehe Penasaran

      Delete
  6. Kalo goa gimana mba? Udh pernah maen2 kesana? Kan film2 india bnyk jg yg shooting di goa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau Goa situasinya sama kayak Kuta, Bali. Hanya saja mreka memiliki banyak peninggalan Portugal yang sangat beda dengan sebagian besar India yang dikuasai Inggris. Kehidupan di Goa sangat beda, meski kejadulan India tetep terasa

      Delete
  7. karena blog mu kita jadi ahu india.. hehe asik ya kalo tinggal menetap bisa eksplore tempat-tempat wisata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe Iya, Kebetulan tinggal di India dan pingin cerita

      Delete
  8. mbaaa kalo naik gajahnya itu berapa biayanya?

    gede banget yaa nih istana.. ini saat pembangunannya dimulai, berarti raja yg menyuruh membuat, msh sempet menikmati ga sih? mengingat lamanya aja makan waktu 64 thn kan..

    iya ya mba, akupun srg ga tega kalo udh makan di restoran, tp kemudian ada anak kecil nth pengemis, ato pengamen ato penjual asongan yg juga ada di sekitar itu.. napsu mkn lgs drop :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naik gajah 1000 Rupees mbak buat dua orang. atau sekitar Rp. 200rb
      Masih menikmati tapi nggak lama, dah ganti dengan generasi penerusnya.

      Delete
  9. bener2 istana ya .. megah dan besar menunjukkan kekuasaan kerajaannya pada zaman dahulu.
    btw ... si arjuna itu tampangnya kayak inspektur vijayy ga ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih sangar daripada inspektur Vijay, ihh banyak nonton film India ya ?

      Delete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram