Membelah Asa di Jammu dan Kashmir

May 01, 2017


Kesialan demi kesialan mengayomi perjalanan kami menuju Kashmir

Kenapa perjalanan ini dipenuhi deretan kesialan?  
Adakah seseorang yang tidak mengikhlaskan kepergian kami?
Apa yang salah? Dan kenapa kami masih harus menunggu antrian ditengah gelapnya malam saat ini. Pertanyaan negatif berlari liar dalam pikiran.

Sejak hari pertama keberangkatan kesialan datang betubi tubi. Pertama kami mendapat tiket dengan tanggal yang salah. Hingga kami terbuang dari kereta api di stasiun Panipat pada tengah malam. Stasiun kecil di distric Haryana, India.

Setibanya kami di kota Jammu, tidak ada kendaraan menuju Kashmir. Dikarenakan buka tutup jalan akibat tanah longsor. Kesialan kedua ini memaksa kami bermalam di kota Jammu.

Dan hari ini … nasib sial masih menghantui.

Setelah setengah hari jelajah Kota Jammu dan beristirahat, tepat pukul 01.00 malam saya terbangun. Bersiap berangkat ke Kashmir. Packing dan mandi. Saya biarkan Najin dalam lelapnya mimpi. Tepat pukul 02.00 bapak sopir sudah menunggu di depan Hotel.

Bapak sopir membantu kami membawa backpack dan saya menggendong Najin yang masih tertidur. Saya pikir kami berangkat terlebih dahulu. Tapi kami salah. Di jalan saya melihat beberapa mobil dengan gerak cepat melintas. Didalamnya beberapa penumpang berserta tumpukan tas diatas mobil.

Saya rebahkan Najin kedalam mobil yang kami sewa. Sementara mbak Andri duduk didepan bersama bapak Sopir. Saya langitkan doa akan lancarnya perjalanan kali ini.

Mobil melintas membelah dinginnya kota Jammu. Perjalanan lancar. Tapi mata saya tiba tiba terbelakak melihat apa yang ada didepan mata. Mendekati portal pembuka jalan, deretan truk, bus dan mobil memakan 3 ruas jalan. Hanya satu ruas jalan yang sepi. Sesekali mobil atau truck melintas jalan ini dari arah berlawanan.

“Apakah jalanan menuju kashmir masih ditutup?” tanya saya kepada bapak Sopir
“Ya dan kami harus menunggu hingga semua kendaraan dari arah Kashmir melintas semunya” jawab bapak sopir dengan bahasa Rrdu dan sedikit Inggris.
“kira kira berapa lama lagi?”
“ Saya tidak tahu pastinya, mungkin sejam, dua jam atau mungkin lebih”

Kemarin sebelum menyewa mobil, saya sudah membicarakan hal ini dengan si bapak yang menyewakan mobil. Saya ingin berangkat lebih awal agar tak terjebak dalam antrian lanjang. Meski kami sudah berangkat 3 jam lebih awal dari jadwal yang disarankan, kami masih harus menunggu dalam daftar antrian panjang .

Lagi lagi saya mengutuki diri, kenapa tidak brangkat sesuai dengan jam yang disarankan. Paling tidak saat ini kami masih bisa tertidur dalam hangatnya kamar hotel. Di sisi lain saya juga tidak bisa membayangkan, jika kami berangkat pukul 5 pagi, trus kami dalam antrian panjang di KM berapa?

Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Dingin mendekap. Di akhir bulan Maret, akhir musim dingin, udara masih menusuki kulit.

Dalam remang malam sesekali mobil dari arah berlawanan melintas. Terlihat deretan truk dan bus dengan bapak sopir yang menunggu dengan sabar. Deretan mobil dengan penumpang berjubel. Membungkus badan dan wajah mereka dengan syal.

Bergerombol lelaki, berbincang dengan membawa chai hangat ditangannya. Sesekali mereka berlarian ke mobil, menyalakan mesin mobil. Setelah cukup lama mesin nyala, mereka mematikan lagi. Mereka mendapatkan informasi jalan telah dibuka tapi ternyata tidak. Hoax!

Dan adegan seperti ini terjadi berulang kali. Saya hanya bisa menatap dalam renungan. Terkantuk dan terbangun berirama dengan adegan yang ada.

Adegan berakhir tmendekati pukul 05.00 pagi, setelah sebuah mobil kecil melintas. Deru mesin dan klakson bersahut sahutan. Ditambah teriakan sopir yang berebut memasuki jalan ala Amazing race.

Setelah melewati portal dipenuhi dengan tentara India, suara gaduh mulai berkurang. Hanya gelap dan sorot lampu dari mobil belakang. Kesunyian yang ditawarkan membuat saya tertidur lelap.

Hingga bapak sopir menghentikan mobil disebuah Dhabah Wallah. Ialah sebuah istilah warung di tepi jalanan di India. Ketika mata ini terbuka mentari sudah mmenghadirkan terang di bumi. Warung pinggir jalan ini menawarkan teh hangat (chai) dan juga makanan vegetarian.

Kami memesan chai, nasi putih dan omelet. Pesanan ini membuat mereka tersenyum, mereka berfikir bagaimana kami menikmati sepiring nasi dengan omelet yang dicampur dengan irisan bawang dan cabai hijau saja. Tanpa curry atau bumbu rempah layaknya masakan India.


Setelah makan kami lanjutkan perjalanan. Najin terbangun dari tidurnya, jalanan meliuk membebat deretan pegunungan membuat kepalanya pusing. Mual dan muntah tak dapat dielakkan. Hingga apa yang ada dalam perutnya terkuras. Sesekali kami menghentikan mobil memberi hawa segar kepada Najin.

Rasa bersalah menyelubungi. Harusnya kami naik pesawat saja. Ah, sudahlah!

Sejenak kami berhenti untuk menunggu antrian melewati Jawahar Tunnel atau Banihal Tunnel. Perjalanan menembus perut bumi sepanjang 2,85 KM terasa sedikit mencekam. Udara terasa lembab dengan pencahayaan temaram. Aliran air membasahai dinding terowongan yang dibangun sejak tahun 1954.

Tetiba mata ini disegarkan dengan Titanic View point. Spot yang menarik untuk menikmati pemandangan Kashmir Valley. Perjalanan darat menuju kashmir pertama kalinya, saya tidak sempat berhenti disini. Dikarenakan kami mengunakan sharing cost taksi. Jadi, tak bisa berhenti seenak hati.

Deret perbukitan berwarna coklat sambung menyambung. Nampak tak beraturan tapi menghadirkan harmoni alam yang menyejukkan mata. Desa desa berteman julangan pohon tanpa daun. Petak petak sawah berkarpet kemuning bunga canola. Angin sejuk menghampiri, seolah membawa angin segar dalam perjalanan ini.




Kami habiskan waktu sedikit lama ditempat yang menjadi pembatas antara wilayah Jammu dan Kashmir. Propinsi di ujung Utara India ini mencakup tiga wilayah. Yakni Jammu, Kashmir dan Ladakh. Sebelah Selatan berbatasan dengan distric Himachal Pradesh. Sebelah Utara dan Timur berbatasan dengan China. Dan disebelah Barat berbatasan dengan negara Pakistan.

Gejolak politik dan juga perbatasan yang bersinggungan dengan negara lain membuat wilayah ini dijeljali oleh camp camp militer India. Tentara India banyak dijumpai dimana mana. Apalagi kedua negara tersebut, Pakistan dan China pernah bergejolak dengan India karena perebutan wilayah.

Kami melemaskan badan dan kaki. Nyruput hangat dan manisnya chai dalam hidangan alam pembawa kedamaian. Setelah cukup waktu, kami melanjutkan setengah perjalanan menuju bumi Kashmir.

Tak seberapa jauh kami berhenti sebentar di sebauh check point yang mirip terminal. Semua kendaraan berhenti disini. Penjual makanan, minuman, syal dan baju menawarkan daganganya. Tak lama kemudian kami berhenti lagi di chek point. Bedanya, kali ini hanya mobil kami yang berhenti.

Beberapa tentara India berwajah Kashmere menunggu disana. Tak banyak, hanya 4 orang. Satu menunggu dalam pos. Dan tiga lainnya berada ditepi jalan. Pos kecil terbuat dari kayu dan hanya cukup untuk beberapa orang saja.

Hanya ada meja dan kursi kayu panjang sederhana. Sebuah buku besar dengan deretan tulisan tangan berada diatas meja. Petugas meminta passport kami.

Ini aneh, batin saya terusik. Dalam perjalanan darat sebelumnya saya tidak menemukan pengecekan seperti ini. Saya mengeluarkan passport. Najin dan Mbak Andri menunggu diluar post bersama tentara lainnya.

Bapak petugas meminta saya mengisi buku tersebut. Menuliskan nama, nomer passport, nomer visa dan tanggal memasuki negara India. Si bapak kemudian meminta saya memasukkan nomer hotel atau houseboat tempat saya akan menginap di Kashmir beserta nomer telepon.

Mengetahui saya dan Najin menggunakan Visa Izin Tinggal, beliau banyak mengajukan pertanyaan. Berbagai pertanyaan yang mengubah suasana tegang menjadi candaan. Bahkan mereka bercanda dengan Najin setelah mengetahui dia bisa berbahasa Urdu. Bermain, menggelitik dan mengangkat badan ke udara hingga membuat Najin tertawa terbahak bahak.

Setelah semua keperluan administrai selesai, kami mengakhiri pembicaraan dengan mengucap … Allah Hafiz.

Menatap pegunungan dan sungai, ada perubahan besar terasa. Jalanan rusak, lubang dan becek dimana mana. Pepohonan tak lagi hijau seperti dulu, sungai tak lagi jernih. Bebatuan dan tanah di perbukitan nampak teringin berlarian menuruni bukit.

Gersang terasa. Saya pikir mungkin ini masih akhir musim dingin jadi tak banyak daun tumbuh. Tetapi … Tidak!. Saya melihat perut gunung dikeruk. Truk dan excavator pengeruk tanah bertebaran disana. Dan poster bertuliskan semen Kashmir dimana mana. Ah, manusia!

Saya dulu paling menyukai perjalan darat menuju Kashmir. Mengelurkan kamera dan mengabadikan setiap gerak keindahan yang ditawarkan. Terkadang hanya menarik nafas panjang menikmat udara dan pemandangan segar yang ditawarkan. Kini hanya bisa melihat dengan beda. Semua terasa hambar.

Saya memanfaatkan waktu berbincang dengan bapak sopir. Bapak dua anak asli penduduk kashmir. Beliau berbincang dengan bahasa Inggris patah patah. Terkadang ketika beliau menjelaskan dalam bahasa Urdu.

Mendekati Srinagar, juluran pohon tanpa daun berderet di tepi jalan. Dibelakangnya hamparan kemuning bunga canola. Bunga ini nampak bagaikan karpet kuning membungkus bumi Kashmir. Jauh mata memandang yang terlihat hanyalah kemuning bunga. Suguhan yang membuat kaki ini ingin berlari dan menari.



12 Jam berlalu sejak kami meninggalkan kota jammu. Tepat pukul 14.00 mobil berhenti di tepian Danau Dal, gate 7, Srinagar. Disambut gulungan awan abu abu yang menghamburkan gerimis ke Bumi. Seiring rintik hujan dan deretan kesialan, rasa optimis menikmati Kashmir semakin buram. Dalam goyangan Shikara (perahu taksi) menuju Houseboat, bantin saya bertanya, kesialan apa lagi yang harus kami hadapi? tetapi, tidak! Allah justru menghadirkan limpahan kebahagiaan.

You Might Also Like

35 comments

  1. Bener-bener keinget perjalananku yang serupa. Terjebak di Jammu karena jalan buka tutup. Tapi jadi pengalaman tak terlupakan hingga sekarang :)

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sama. bedanya, kamu estafet ya akhirnya, aku nggak berani estafet solya baw njin. sewa mobil

      Delete
  2. india, masi menjadi impian, mudah2an taun ini bisa kesana 😇

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. semoga kesampean di India

      Delete
  3. Replies
    1. iya, meski banyak sial tp berkesan banget

      Delete
  4. Belum sampe India. Pernahnya kejebak buka tutup jalan di Kebon Kopi antara Palu dan Parigi. And yes mual.muntah dengan lekukan jalan yang tak beraturan.

    Btw, mba kapan di Gresik? Mau dong berguru...mumpung aku mudik nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. berguru apa? aku sekarang di Indonesia

      Delete
  5. lihat bunga canola yang memenuhi pinggiran jalan bagaikan lapangan bola yang Indah dan menawan, Ingin rasanya bisa berguling-guling diatasnya, wkwkwkwk ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkkw, pokonknya klo lihat kemuning gitu bawaanya nggak bisa diem :)))) pinginya norak norak mempesona

      Delete
  6. dan ternyata itu pengecekan apa mbak? pasport dan visa? apa di India memang sering ada pengecekan seperti itu di tengah jalan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggak, pengecekan tambahan buat foreigner. nggak semua daerah, memang daerah kashmir ini daerah konflik sejak dulu. jadi tingkat keamanan diperketat.

      Delete
  7. Di India saat melintas daerah sana ada jam buka tutup nya ya Mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo ada tanah longsor dan nutupsebagian badan jalan pasti diperlakuan buka tutup jalan

      Delete
  8. Seru, seruuuuu! Dan aku udah tahu lanjutan ceritanya. Hahaha. Eh, tapi penasaran sama sosok Dewi Kumari ding. So, tetap ditunggu update selanjutnya, Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. InsyaAllah cerita ketemu dewi kumari segera menghiasi blog ini :)))

      Delete
  9. kalau jalan2 ke daerah konflik memang resikonya seperti ini ya mba ... kalau wanita bawa anak kecil menjadi "keuntungan". Pengalaman teman saya ... di interogasi malam2 dengan disorot lampu ... kayak di film2 ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener, rawan. untung waktu au kesana nggak di interogasi aneh aneh, malah najin diajak mainan. mereka suka cara najin ngobrol bahasa Urdu.

      Delete
  10. Mbak, aku jadi bisa merasakan gimana sebelnya dengan antrian yang panjang itu. Kebayang kepala jadi pusing, mual muntah pula. Meski tampak sebagai sebuah 'kesialan', petualangan berkendaramu keren mbak. Lihat 'karpet' kuning itu jadi terpesona. Nggak sabar baca kelanjutannya yang dilimpahi kebahagiaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. banget mbak, untungnya aku sewa mobil sendiri adi bisa selonjoran dan bobok dlm mobil. aku nggak mikir diri sendiri tapi mikir Najin.
      karpet kuning itu bikin badan goyang, klo mbak Rien pasti pingin keluarin Kodian, hehehe

      Delete
    2. wkwkwkw kain kodian....jadi joget2 pake kain di karpet kuning haha

      Delete
  11. Kalo ngantri jalan buka tutup kek gitu memang nyebelin ya mbak. Tapi terbayar berlipat lipat kan ya mbak. Aku jadi tambah mupeng ke India,terutama Kashmir itu ikutan pengen nyobain antriannya #hahaha #soksokan antri jalan duri Pekanbaru aja sudah ngucap2 #hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, seringnya jenuh melanda.Semoga segera bisa jalan jalan ke Kashmirdn Indi juga.Aamiin

      Delete
    2. Aamiin, iya kemarin suka Nggak cocok antara duit dan waktu. Ada duit, nggak ada waktu. Ada waktu banyak tapi duite mepet bingits#hihihi semoga bisa tahun depan kesana

      Delete
  12. Hampir2 mirip pas tahun lalu ke Pulau banyak Mbak, ayahku nggak ngijinin aku bawa anak2.. soalnya jauh dari banda aceh. ada aja kejadian yang seolah menghambat perjalanan. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah tuh, Ridho Allah Ridho Orang tua. klo saya nggak dpt izin dari ortu atau suami, biasanya nggak pergi, pilih ngalah dirumah. perjalanan kali ini dpt restu dari semua tapi ..... kesialan ngikutin :(

      Delete
  13. salah satu penyebab kenapa kashmir tetap didera konflik adalah karena kashmir kaya akan hasil alamnya ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kecantikan alam dan hasil alam kaya banget

      Delete
  14. Duh jd pengen ke kashmir sania mak, pasti byk cogan

    ReplyDelete
  15. Duh jd pengen ke kashmir sania mak, pasti byk cogan

    ReplyDelete
  16. Waahhh lama juga ya mba, 12 jam.. Sepertinya kalo kesana dgn anak, aku lbh milih naik pesawat aja :D.. Ntr tulis ttg houseboatnya yaaa mba.. Pgn jg ngerasain tinggal di penginapan model begitu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ini lagi ngenalin dia long journey. kereta dia sudah sering, sekarang coba mobil dan bus. pulangnya saya ajak naik pesawat. Semoga soon bis ke kashmir ya mbak... Aamiin

      Delete
  17. Ih mbak ngiri banget deh, bisa ke kashmir bahkan sampai beberapa kali! Cantik banget ya, berasa lihat di wallpaper wqwq. Semoga bisa main kesana kapan-kapan, amin amin :)))

    ReplyDelete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram