Tak
hanya menawarkan nuansa hijau hutan bakau juga mengayomi habitat berbagai jenis
burung yang bermigrasi dari berbagai negara
Perjalanan
menuju Ekowisata Mangrove membuat hijab saya basa oleh bulir bulir keringat.
Tak hanya letaknya yang berada di ujung Timur Surabaya. Juga kondisi jalanan
yang tak semulus paha Ceribel. Mendekati
kawasan Ekowisata Mangrove, dari jalan mencuat bebatuan tak beraspal ditambah
tarian debu di udara. Memaksa tangan saya mengendarai si Revo dengan ketahanan
penuh.
Sampai
di Ekowisata Mangrove ketika mentari tergelincir di ufuk barat. Sebelumnya kami
(saya dan keluarga saya, Erlita) menghabiskan hari menelisik monumen Tugu Pahlawan dan Kapal Selam. Pikir saya,
sore hari alam akan menawarkan hembusan udara yang segar. Dan juga tidak
terlalu ramai. Tetapi saya salah, meski sore hari udara kota Surabaya masih
menghantarkan panas dan masih banyak pengunjung pula.
Untunglah,
Ekowisata Mangrove yang menghampar disekitar pesisir timur pantai Surabaya ini menawarkan
nuansa hijau menyejukkan mata. Dari sela sela pepohonan berhembus angin dari
arah lautan. Jalanan setapak untuk menyusuri hutan berupa jembatan kayu. Sekitarnya
adalah rawa yang dipenuhi pohon bakau. Terdapat dua pemondokan kayu di sisi
kanan dan kiri menambah nuansa alami hutan yang berada di kawasan Wonorejo,
Surabaya Timur.
Kebanyakan
pohon bakau yang ditanam disini adalah hasil kerjasama dengan beberapa perusahaan
Nasional dan universitas setempat. Hal ini dapat dilihat dari papan papan kayu
yang ditancapkan diatas lahan dengan nama perusahaan atau universitas yang
menyumbangkan bibit bakau tersebut.
Diatas
jembatan kayu ini kami menuju ujung lainnya yang dikenal sebagai jogging track. Menuju kesana dari arah pemondokan kami harus menghadapi
sebagian jembatan yang sudah rusak. Banyak yang memilih memutar untuk menuju
jogging track. Kepalang tanggung, saya
memilih melewati jembatan hanya berpangku pada satu kayu. Bagai pemain akrobat,
badan saya yang bulat lebar ini harus seimbang melewati kayu. Lumayan bikin
kaki saya bergetar dengan detak jangung yang terdengar nyata di telinga.
Ditengah
hutan ini terdapat food stall yang menawarkan aneka makanan dan
minuman. Seperti lontong balap, soto, tahu petis, aneka gorengan, snack, minuman
dingin hingga souvenir. Berdekatan dengan food stall ini juga terdapat Musholla
dan juga toilet. Sayangnya, baik para penjual juga pembeli kurang memperhatikan
kebersihan lingkungan. Disekitar food
stall, sampah berserakan dimana mana.
Padahal tersedia tempat sampah. Mengenaskan!
Jogging track ini menawarkan nuansa hutan lebat
ditengah kepadatan kota Surabaya. Pepohonan rindang dan hutan bakau bersanding
mesra disini. Pengunjungnya pun bervariasi. Mulai dari dua sejoli, keluarga hingga
komunitas. Waktu datang kemarin kami bertemu dengan komunitas pecinta Reptil.
Dan juga seorang fotografer yang sibuk membidik aneka burung diantara rimbun
pepohonan.
Hutan
Mangrove ini tak hanya difungsikan sebagai kawasan hijau untuk menahan abrasi
air laut, Juga menjadi surga bagi satwa liar, khususnya burung. Masing masing
burung bermukim sesuai dengan habitat mereka tinggal.
Tak
hanya habitat burung yang bermukin lokal. Pada musim tertentu, ekowisata hutan
mangrove ini juga menjadi tempat migrasi berbagai burung dari belahan bumi
lain. Terdapat puluhan aneka jenis burung yang ada di wilayah timur pantai
Surabaya ini. Seperti kuntul putih, Tekukur biasa, kekep babi, cerek Jawa,
Blekoh Sawah dan masih banyak lagi.
Asyiknya
lagi kita bisa menyusuri kawasan pesisir Timur pantai di hutan Mangroove ini dengan
menggunakan perahu kayu. Tak Mahal, hanya merogoh kocek Rp. 25.000/ orang. Hutan
Bakau ini bagaikan oase ditengah padatnya kota Surabaya. Dan juga sebagai salah
satu tempat nongkrong asyik sambil menghirup udara segar.
![]() |
| Fotografer ini serius banget membidikkan kamera mencari berbagai jenis burung disini |
![]() |
| Ekplore Hutan bakau dengan menggunakan kapal hias ini |
![]() |
| Komunitas pecinta reptil |
Menjelang
matahari tenggelam, kami bergegas pulang. Tapi kaki saya terhenti ketika ada
bapak bapak yang sibuk memindahkan bibit tanaman bakau dari truk kecil.
“Sore
pak, bibit ini didatangkan dari mana ya ?”
“Oh,
ini bibit didatangkan dari Probolinggo”
“Oke,
Saya kira bibit tanaman ini dari sini saja”
“Ya,
selain mengembangkan bibit disini, kami juga mendatangkan bibit tanaman bakau
dari luar kota”
“Harganya
berapa pak per pohon per phon kecil gitu?”
“Rp.
2500 mbak”
Kami
kemudian berbincang dengan bapak pengurus hutan Mangrove. Beliau kemudian menjelaskan
bagaimana proses pembibitan ini dilakukan. Sebelum menjadi tanaman kecil kayak
gini, bibit tanaman bakau akan tumbuh
menjulur seperti asparagus. Dibiarkan bergerombol didalam air hingga mencapai usia
tertentu. Kemudian dipindahkan kedalam wadah plastik satu persatu hingga tumbu
menjadi pohon kecil. Setelah itu baru dipindahkan kea lam liar.
Si
bapak kemudian menunjukkan bibit tersebut yang berada tepat dibawah pemondokan
kayu. Wih, saya yang menyaksikannya masih tidak percaya kalau ini adalah cikal
bakal tanaman mangrove. Bener, sekilas nampak seperti hamparan sayur Asparagush.
Bedanya, batangnya lebih keras dengan ujung seperti cakar kuku burung mungil.
![]() |
| Cikar bakal pohon Mangrove |
![]() |
Langit
yang benderang mulai disapu warna jingga sang surya hingga gelap menyapa. Kami
bergegas meningalkan hutan Mangrove, karena takut kemalaman di jalan. Yang
bikin saya heran, Jam segini masih banyak pengunjung yang datang dan tempat
parkir masih dipenuhi kendaraa bermotor. Trus, ngapain mereka kesana menjelang
malam gini? Disitu pikiran saya langsung dipenuhi hal negatif yang membuat
bibir saya menyunggingkan senyuman. Jangan mikir parno duluan!. Mungkin saja mereka
sedang ‘memancing’ ikan. Hehehe












