Menyapa Muslim Kashmir

13:11:00


10 tahun penantian emak menjejak Surga Bumi Jammu dan Kashmir.  Beberapa kali emak berencana dan selalu gagal. Gejolak perang, pertumpahan darah, demonstrasi hingga travel warning.

Tahun 1947 setelah perpecahan negara India dan Pakistan. Wilayah Kashmir menjadi konflik perebutan wilayah antar kedua negara. Penduduk Kashmir 90 Persen adalah muslim. Seyogyanya masuk dalam negara Pakistan. Tapi begitu eloknya tanah Kashmir hingga India tidak ingin melepasnya.

Pada saat ini 43% Wilayah Kashmir termasuk Kashmir valley, Ladakh dan Sianchen glacier masuk adminitratif India. Sedangkan 37% masuk wilayah administratif Pakistan yang dikenal sebagai Azad Kashmir.

Alhamdulliah, tahun lalu emak bersama teman teman berkesempatan mengunjungi propinsi yang berada di ujung Utara negara India. Kami memilih perjalanan darat yang memakan waktu hingga 24 lamanya dari kota Delhi. Meski kedamaian telah menghampiri bumi Kashmir tapi deretan truk, camp dan tentara berlaras panjang berkeliaran dimana mana.

Sampai di Srinagar malam hari, kami langsung menuju Danau Dal. Danau yang menjadi jantung wisata kota Srinagar, Ibukota jammu dan Kashmir. Kami tinggal di sebuah houseboat, rumah kapal diatas danau Dal. Kami menggunakan perahu kayu atau biasa dikenal dengan Shikara.

Pak Firdaus pengelola houseboat menyambut kami dengan salam hangat. Menyediakan teh Kashmir. Teh yang diracik dengan kapulaga dan cengkeh seketika mengendorkan urat saraf yang kelelahan.

Seketika istri pak Firdaus memasak dan menyediakan makan malam. Rumah beliau berada di sebelah houseboat. Rumah kecil yang beliau tinggali bersama orang tua, istri dan kedua anaknya. Kehidupan yang begitu sederhana ditempat yang luar biasa pesonanya.

Makan malam tersaji diatas meja. Kami sibuk bercengkrama dan tentu saja, mengabadikan menu makanan dalam jepretan kamera. “My sister, jangan biarkan makanan menunggu. Semua orang bekerja keras, membanting tulang dan berlari demi sesuap nasi. Segerahlah makan” ucap beliau.

Ucapannya bagai sebuah tamparan. Astaghfirullah, betapa selama ini kita diselimuti kebiasaan makan yang ‘kurang’ baik. Terkadang kita sibuk memotret makanan, upload di social media dan sibuk berkomentar tentangnya. Membiarkan makanan ‘menunggu’ kita. Ditambah dengan kebiasaan tidak menghabiskan makanan dalam piring. Hanya karena kita takut dibilang “rakus” atau karena perasaan sungkan. Tentu saja, sisa makanan akan terbuang kedalam sampah. Padahal setiap butir beras yang Allah berikan terhampar Rahmat NYA.

Disini kami tak hanya mencicip alam Surga dunia yang Allah anugerahkan kepada penduduk Bumi. Juga dikelilingi orang orang yang mengingatkan kita akan Surga yang sesungguhnya. Subhanallah, kearifan dan keramahan muslim Kashmir yang menganggap kami seperti saudara sendiri.

Keesokan harinya, Adzan berkumandang begitu eloknya. Bertautan diantara keheningan Danau Dal yang dingin. Emak merasa tak asing, seperti berada dinegeri sendiri. Sang mentari pagi menyembulkan sinar dibalik pegunungan berselimut salju. Nampak lalu lalang perahu warga sekitar danau. Sekedar berbelanja atau mengantarkan anak ke sekolah. Tak segan mereka mengucapkan salam dengan senyumnya yang ramah. Begitu cantik dan rupawan paras wajah mereka.

Shikara on houseboats
Wanita Kashmir sedang berbelanja diatas Danau Dal

Sunrise Kashmir
Panorama Sunrise didepan houseboat

Di India dan juga kashmir, wanita muslim dikenal sebagai aurot. Yah, sesuatu yang harus ditutupi dan dijaga. Sebagian dari mereka mengunakan jilbab hitam hingga menutup wajah. Kebanyakan menggunakan baju panjang dan celana lebar tradisional (salwar kamiz) dengan penutup kepala (Dupatta).

Keponakan Pak Firdaus bekerja sebagai juru potret dan menyewakan baju khas Kashmir. Paman beliau, pak Ahmad menjadi guide perjalanan. Meski usia lanjut, beliau masih kuat menanjaki perbukitan. Nama Allah, Subhanallah dan InsyaAllah sering terucap dari senyum ramah beliau. 

Keluarga Pak Firduas adalah potret kehidupan Khasmere. Sebutan bagi penduduk Khasmir yang berjumlah sekitar 13 juta jiwa. Bekerja di sektor pariwisata dan sebagian besar bercocok tanam. Karpet dan  hasil olahan Wol menjadi industri yang di ekspor hingga ke manca negara. Pashmina dan Swahl berkulitas tinggi menjadi oleh oleh yang sangat diminati oleh wisatawan lokal dan mancanegara.

Dimalam hari, ketika para pedagang berdatangan. Menawarkan safron, bunga, Tas, aksesoris dan masih banyak lagi. Tak segan, Pak Firdaus membantu menawar barang buat kami. Para Pedagang menjualnya dengan jujur, tidak memaksa dan langsung dibawah dari para pengerajin di desa. Yang terpenting bagi mereka, kami sangat menikmati dan bahagia selama berkunjung ke Kashmir. Ketika berjumpa ucap salam dari bibir mereka. Ketika berpisah saling berucap Allah Hafiz.

Setelah tiga hari berada di sini. Ah, sungguh berat meninggalkan bumi Allah yang berjuluk Surga di Bumi. Semoga, kedamaian selalu mengayomi saudara kita di Kashmir.

Allah Hafiz Muslim Kashmir.

Kashmir Valley
Salah satu dari ratusan lembah cantik yang Terserak di Bumi Kashmir

Foto Dengan Baju Kashmir
Befoto menggunakan Pakaian Khas Kashmir

Pashmina dan Shawl Kashmir

India Food, Kashmir
Menu makan Khas Kashmir



You Might Also Like

44 comments

  1. Awakmu gak foto nggawe pakaian khas Kashmir kuwi, Zulfa? Btw, iku shal karo Pashmina-e nggarahi pengen. Alus banget nggawene. Aku tahu tuku jilbab sutra nang Turki. Mirip2 koyo kuwi aluse... *padahal durung tahu ngelus jilbab Kashmir asli* :) ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ora mbak, iku Rani sing foto. Aku wis ora narsis maneh. Wis emak emak atek badan tambah melar. bunder ser. huhuhu. Alus banget mbak, rasane "jatuh' terus. atek design e khas perpaduan Gaya Persia karo India. Sampek bingung milih e. Mugo mugo Lang ngelus Jilbab Kashmir mbak :) Ojok lali Kocomoto Hitam ben nggak silau *kedip2mata* hahaha

      Delete
    2. aaamiin... Sipp kocomoto ireng mengko dadi hot list gowoanku nang Kashmir. hehehe

      Delete
    3. Hahahahaha, mbak mbak, nomere bapak pinten? mumpung durung :)))

      Delete
    4. waaahh mantep nihh , nyapa nya :| , ajakin traveling mbak :p

      Delete
  2. pemandangannya apik bangeeet...*masang kacamata juga lalu pose...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Dewi, pemandangan diriku memang apik banget ... eh, sorry maksudku Kashmir. Hehehe iya mbak kacamata itu biar bisa lirak lirik cowok Kashmir :)))

      Delete
  3. Huaaaaaa... tiap mbak Zulfa posting tentang Kashmir, lengkap dengan foto2nya, rasanya selalu ingin ngecek tabungan, udah cukup belum ya saldonya buat main kesana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dah cukup, bekpekan ke Kashmir cuman butuh 1 juta saja dengan 6 orang teman. Ditambah tiket promo PP 2 atau 3 juta. Cek tabungan lagi, Ntar aku ikut ke Ladakh

      Delete
  4. foto-fotonya cantik, tapi kurang banyak nih fotonya, pengen liat lagi yang lainnya,, belum puas hihi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih :) InsyaAllah akan saya tambaha foto fto keren Kashmir, Dalam cerita lain ya.... soalnya masih banyak cerita tentang Kashmir :)

      Delete
  5. kunjungan balik dari dbento. salam kenal yah mba zulfa.
    waa senangnya bisa travelling tapi tetep bisa semakin mendekatkan kita dengan sang pencipta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam Kenal Mbak Lia. Alhamdullilah, perjalanan semakin mensyukuri Kehidupan yg Allah anugerahkan, Banyak pelajaran hidup dalam perjalanan. Makasih sudah mampir mbak Lia :)

      Delete
  6. Aku mulai kenal Ladakh saat nonton Three Idiots mba :) subhanallah indah banget dan buat aku pengen ke Ladakh <3
    Kalau liat di film, di Ladakh ada muka2 mongol gitu mba, apa karena perbatasan jadi gak cuma etnis india yang disana ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ladakh menjadi Destinasi Favorit setelah film 3 Idiot. Apalagi Kashmir dan tentram. Hayuuu ke Ladakh, aku juga belum, mbak Dee an sam Mbak Lia juga mau kesana, bisa barengan.

      Ladakh dikenal sebagai little tibet, soalnya yang tinggal orang mongol/Tibet dan budaya Budha mendominasi. Apalagi tempatnya berbatasan dengan Tibet dan China.

      Delete
  7. Teruuuss saja aku berdecak kagum akan keindahan India. Luar biasaaa....

    ReplyDelete
    Replies
    1. India itu Kemiskinan dan kekumuhan dibalut dalam budaya, tradisi yang kental dan lekuk pegunungan Himalaya, memang "sesuatu" banget :)

      Delete
  8. Cantiknya alam dan budaya Khasmir. Beruntung dirimu Mak, bisa mbolang sampai ke sini :)

    ReplyDelete
  9. Cantiknya alam dan budaya Khasmir. Beruntung dirimu Mak, bisa mbolang sampai ke sini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cantik Nian mbak, sampe nggak mau balik pulang :) Kalau kesini harusnya sebulan. Alhamdullilah dikasih kesempatan mbolang kesini.

      Delete
  10. Di sana, sepertinya cara memakai pashminanya seragam ya mbak. Seperti yang di foto pertama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, Sama Mbak. Hampir seluruh subkontinet India, termasuk Pakistan, Bangladesh make pashminanya gitu. Aku lihat di Afghanistan juga gitu.

      Delete
    2. Berarti ga sempurna menutup auratnya ya mbak?

      Delete
    3. Kalau menurut kita sih nggak, kalau menurut mereka sih Sudah. Mereka Shalat juga pakai baju dan Pashmina gitu. kaki sama rambut kelihatan.

      Delete
    4. Waduh?! Gimana itu mbak. Eh, aku jadi bingung. Tapi mereka tahu kan salatnya ga sah kalau masih kelihatan aurat?

      Delete
    5. Aku lihat semuanya juga gitu. Bagi mereka SAH. aku pertama kali lihat mereka shalat juga kaget, bahkan ketika Haji atau Umroh mereka pakai pakaina gitu dan shalat pakai baju itu juga. Pernah juga melihat di Bangkok.

      Delete
  11. Aku beberapa kali baca buku ttg alam kashmir dan jatuh cinta sama, semoga suatu saat bisa kesana :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Semoga Disegerakan menjejak Tanah Kashmir. Tapi kalau di Kashmir, nggak bisa pakai "baju kebesaran" Ntar masuk angin looooo

      Delete
  12. Landscapenya itu lo mbak... Narsisable bingiiittss.... Apik pwoolll.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apik polll pancen mbakm, sampe memoryku entek kanggo cekrek cekrek doang. hehehe Bilang aja hobi narsis :))

      Delete
  13. Hai Zulfa, Salam kenal. nama aku shilvana

    zulfa, blh nny byk ga ttg kashmir? soalnya ak rencana tahun dpn kesana.

    mohon dijawab dan ditunggu .. :)

    terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Shilvana.

      Boleh silahkan tanya tentang Kashmir, InsyaAllah saya jawab sebisanya. Berdasarkan pengalaman.

      Sam sama

      Delete
  14. Mbaa.. Salam kenal... Mba sampai ke pedesaannya ngga?? konon katanya, sama cantiknya.. Hayoo.. Ada yang mau bareng ga yah?? insyaallaah 27 agustus ini tiba di Kashmir :).. Hubungi aku yah, klo ada yang mau bareng... *numpang rusuh ya mba zulfa :D

    ReplyDelete
  15. Mbaa.. Salam kenal... Mba sampai ke pedesaannya ngga?? konon katanya, sama cantiknya.. Hayoo.. Ada yang mau bareng ga yah?? insyaallaah 27 agustus ini tiba di Kashmir :).. Hubungi aku yah, klo ada yang mau bareng... *numpang rusuh ya mba zulfa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Jiga Syifa

      Alhamdullilah sampe ke pedesaan juga. Waktu explore kan melewati pedesaan. Lebih cantik desanya :)

      Wah, semoga perjalananya di Kashmir Agustus nanti lancar dan aman ya...

      Gpp, senang kok kalau dirusuhi, hehehe

      Delete
    2. Hehe.. ak rencana brgktnya taun dpn mba syifa , abs sidang tesis dlu bru brgkt taun don aja mba syifa brg aku hehe :D

      Mba zulfa blh minta no whatsapp, atau line gt mba ak mau nny ttg transportasi biaya dll mba sama mba .. blh engga??

      Delete
    3. Wah, semoga perjalanan kesana lancar ya, kirim ke emailku attini.zulfayah@gmail.com nanti aku kasih nomer whatsappku

      Delete
  16. Ok mba zulfa ak email skrgnya mba.. makasih :)

    ReplyDelete
  17. Ok mba zulfa ak email skrgnya mba.. makasih :)

    ReplyDelete
  18. Ok mba zulfa ak email skrgnya mba.. makasih :)

    ReplyDelete
  19. wahh. cantikknyaaa. pengen banget kesanaa. pasti banyak yang bisa dipelajari

    ReplyDelete

Follow Twitter

Follow Google+

Follow Instagram